Tampilkan postingan dengan label Tokoh Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Filsafat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Agustus 2018

Socrates, Mengubah Cara Berfilsafat dari Fokus pada Alam ke Fokus pada Manusia

Socrates (Sumber: media1.britannica.com)

Socrates yang dilahirkan di Deme Alopece, Athena, Yunani, pada tahun 469 SM­/470 SM dan wafat pada tahun 399 SM. Socrates merupakan filsuf yang dianggap salah satu figur yang paling penting dan paling berpengaruh dalam tradisi filsafat Barat. Ia merupakan generasi pertama dari trio filsafat agung Yunani: Socrates, Plato, dan Aristoteles.
Socrates merupakan guru Plato. Setelah mapan, Plato sendiri kemudian menjadi guru bagi Aristoteles. Socrates tidak pernah meninggalkan karya tulis apa pun. Sebagian besar pemikirannya dikemukakan secara lisan kepada sang murid, Plato. Oleh karena itu, sumber utama mengenai gagasan-gagasan Socrates berasal dari karya-karya tulis Plato, seperti Xenophone, Apologi, dan Phaedrus.
Socrates menikah dengan perempuan bernama Xantippe. Pernikahannya membuahkan tiga orang anak. Menurut perkiraan, Socrates berayahkan seorang pemahat patung batu (stone mason) yang bernama Sophroniskos. Adapun ibunya yang bernama Phainarete memiliki pekerjaan sebagai bidan.
Banyak literatur menyatakan bahwa Socrates merupakan filsuf yang mulia dan terhormat. Ia dikenal memiliki budi pekerti yang terpuji, berusaha patuh pada hukum, dan percaya pada keadilan. Socrates juga percaya dan meyakini bahwa kebajikan merupakan pengetahuan.
Kebersahajaan merupakan salah satu ciri penting dari figur Socrates. Ia dikenal sebagai pria yang tidak tampan, berpakaian sederhana, dan bepergian ke mana-mana tanpa alas kaki. Ia rajin mendatangi masyarakat Athena untuk berdiskusi tentang  filsafat.
Kebiasaan Socrates berkelilingi untuk berdiskusi pada mulanya didorong oleh keinginan untuk membuktikan ketidakbenaran suara gaib yang didengar salah satu kawannya ––  suara gaib itu menyatakan bahwa tidak ada orang yang lebih bijak dari Socrates. Socrates sebelumnya tidak pernah mengklaim bahwa dirinya orang bijak serta pada dasarnya tidak pula merasa bahwa dirinya orang bijak. Oleh sebab itu, Socrates menganggap bahwa suara gaib yang didengar kawannya itu keliru. Untuk membuktikan kekeliruan itu, ia berkeliling mendatangi orang-orang yang dianggap bijak oleh masyarakat untuk diajak bertukar pikiran (diskusi).
Suatu kesimpulan yang agak aneh kemudian diambil Socrates. Ia akhirnya menyatakan bahwa suara gaib tersebut benar. Namun, landasan berpikir yang digunakannya agak ironis, yakni berangkat dari pengertian bahwa ia merupakan orang yang paling bijak karena dirinya tahu bahwa ia tidak bijaksana. Jadi, ia merupakan orang yang bijak justru karena ia paham bahwa dirinya sesungguhnya tidaklah bijak. Adapun mereka yang merasa bijak sebenarnya justru tidaklah bijak karena mereka tidak tahu bahwa mereka tidak bijaksana.
Cara berfilsat Socrates yang semacam itu menyebabkan munculnya rasa sakit hati dan antipati kaum elite Athena terhadap Socrates, tetapi di sisi lain ia justru banyak mendapatkan pengikut dari kalangan kaum muda. Metode Socrates tersebut kemudian memperlihatkan bahwa mereka (terutama kaum elite Kota Athena) yang dianggap bijak oleh masyarakat justru ternyata tidak mengetahui apa yang sesungguhnya mereka ketahui. Rasa sakit hati terhadap Socrates akhirnya menyebabkan munculnya tuduhan rekayasa terhadap Socrates bahwa ia dianggap merusak kaum muda.
Melalui sidang pengadilan, Socrates dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan (dakwaan) telah merusak kaum muda. Tuduhan ini sebenarnya bisa dengan mudah dipatahkan oleh Socrates. Ia juga bisa melarikan lari dari penjara dengan bantuan para sahabatnya. Namun, demi menunjukkan komitmen dan kepatuhannya pada hukum, Socrates mengalah dengan menerima vonis yang tak adil itu. Ia menjalani hukuman mati dengan cara meminum racun ––  ia pun wafat dalam usia 71 tahun.
Socrates menghadapi maut dengan tenang. Ketegarannya dalam menghadapi kematian dilukiskan dengan indah oleh sang murid, Plato, dalam karyanya yang berjudul Phaedo. Berpulangnya Socrates akibat ketidakadilan pengadilan menjadi peristiwa peradilan yang sangat bersejarah dalam dunia filsafat dan umum masyarakat Barat. Kematian Socrates yang tragis juga tampaknya disesali tidak hanya oleh para filsuf dan cendekiawan yang hidup sezaman dan beberapa tahun sesudahnya, melainkan juga yang hidup berabad-abad setelahnya.
Warisan Socrates yang paling penting adalah metode berfilsafat dengan mengejar definisi absolut mengenai permasalahan melalui sebuah dialektika. Pengejaran hakikat pengetahuan melalui pola bernalar secara dialektis menjadi pembuka (rintisan)  jalan bagi para filsuf selanjutnya. Kontribusi Socrates lainnya adalah perubahan cara berfilsafat dari fokus memikirkan alam semesta menjadi fokus pada manusia. Manusia menjadi objek filsafat yang penting setelah sebelumnya tersisih oleh mainstream menjadikan alam semesta sebagai objek utama.
Berikut beberapa kata bijak yang disampaikan Socrates.
·        Satu-satunya kebijaksanaan sejati adalah mengetahui bahwa Anda tidak mengetahui apa-apa.
·        Kesejahteraaan memberikan peringatan, sedangkan bencana memberikan nasihat.
·        Kesedihan membuat akal terpana dan tidak berdaya. Jika anda tertimpa kesedihan, terimalah dia dengan keteguhan hati dan berdayakanlah akal untuk mencari jalan keluar.
·        Kehidupan yang tidak teruji adalah kehidupan yang tidak bernilai.
·        Bagaimanapun, menikahlah. Jika engkau mendapatkan istri yang baik, engkau akan memetik kebahagiaan. Jika engkau mendapatkan istri yang buruk, engkau akan menjadi seorang filsuf.
·        Untuk menggerakkan bumi, engkau harus menggerakkan dirimu terlebih dahulu.
·         llmu seperti udara. Ia begitu banyak di sekeliling kita. Engkau bisa mendapatkannya di mana pun dan kapan pun.
·        Jangan mengomentari kesalahan orang lain karena orang itu akan mengambil manfaat dari ilmumu lalu dia menjadi musuhmu.
·        Makanan enak, baju indah, dan segala kemewahan, itulah yang engkau sebut kebahagiaan; tetapi saya percaya bahwa suatu keadaan ketika orang tidak mengharapkan apa pun merupakan kebahagiaan yang tertinggi.
·        Kematian dapat menjadi berkah terbaik bagi manusia.


(Sumber: Maestronesia, Akhmad Zamroni, http://bergurudaritokoh.blogspot.com/2018/03/socrates-469470-sm399-sm.html, 19 November 2017)

Jumat, 07 Juli 2017

John Locke, Bapak Hak Asasi Manusia Dunia

Oleh Akhmad Zamroni

Sumber: 3m7ajlsrzj92lfd1hu16hu7vc.wpengine.netdna-cdn.com
John Locke merupakan salah satu cendekiawan dunia yang menaruh perhatian khusus pada masalah hak asasi manusia (HAM). Sebagai filsuf, ia memiliki minat yang luas dan mendalam. John Locke adalah salah satu filsuf cemerlang yang dimiliki Inggris.

Lahir di Somerset, Inggris, pada 29 Agustus 1632, John Locke memperoleh gelar sarjana muda dari Universitas Oxford, Inggris, pada tahun 1656. Gelar sarjana penuh ia dapatkan dari universitas yang sama pada tahun 1658. Terpilih menjadi anggota Royal Society pada usia 36 tahun, Locke sudah tertarik pada ilmu pengetahuan semenjak remaja. Ia juga mempelajari bidang kedokteran dan meraih gelar sarjana muda dalam bidang ini.
Locke hidup sezaman dengan beberapa ilmuwan lain yang juga terkenal dan bersahabat karib dengan mereka. Ia menjalin persahabatan dengan kimiawan terkenal, Robert Boyle. Locke juga menjadi sahabat Isaac Newton, fisikawan termasyhur Inggris dan dunia. Hidup membujang sampai akhir hayatnya, Locke wafat di Essex, pada 28 Oktober 1704.
A.     Perintis  Hak Asasi Manusia
John Locke memiliki jasa yang besar dalam perintisan dan pengembangan ilmu pengetahuan umumnya dan hak asasi manusia khususnya. Locke menjadi salah satu tokoh sentral dalam meletakkan dasar-dasar dan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Ia sudah banyak melontarkan pemikiran tentang hak-hak dasar (asasi) yang dimiliki manusia sebelum filsuf dan ilmuwan lain melakukannya. Di tengah masih rendahnya kesadaran tentang hak asasi manusia di dunia, Locke sudah meletakkan dan mengembangkan dasar-dasar hak asasi manusia sejak abad ke-17 (tahun 1600-an).


Sumber: http www.notable-quotes.com
Sebagai filsuf, Locke tidak memperjuangkan sesuatu dengan manuver (gerakan) dan kekuatan fisik, melainkan dengan pikiran-pikiran atau gagasan-gagasannya. Sejumlah buku penting telah ia tulis. Gagasan-gagasan yang ia sampaikan melalui buku-bukunya tersebar luas serta menginspirasi banyak ilmuwan lain serta tokoh dan pemimpin negara dari berbagai penjuru dunia.
Tiga buku yang ia tulis menegaskan reputasinya sebagai pemikir dan perintis hak asasi manusia terkemuka. Ketiga buku tersebut adalah A Letter Concerning Toleration (1689), An Essay Concerning Human Understanding (1690), dan Two Treatises of Government (1690). Melalui buku-buku ini, Locke melontarkan pemikiran tentang hak-hak dasar dan alamiah manusia, toleransi antaragama, hak raja, kekuasaan dan tugas pemerintah, konstitusi negara, hakikat dan keterbatasan manusia, dan sebagainya. Buku-buku lain yang dihasilkan Locke, antara lain, Some Considerations of the Consequences of the Lowering of Interest and Raising of the Value of Money (1692), Some Thoughts Concerning Education (1693), Further Considerations of the Raising the Value of Money (1695), dan The Reasonableness of Christianity (1695).
B.   Bapak Hak Asasi Manusia (HAM) Dunia
Locke mengatakan bahwa setiap manusia memiliki hak alamiah. Menurut Locke, hak tersebut tidak hanya terkait dengan hak hidup, tetapi juga kebebasan pribadi dan hak atas pemilikan sesuatu. Oleh karena itu, pemerintah mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melindungi penduduk dan hak milik warga negara. Hal ini disampaikan Locke melalui bukunya, Two Treatises of Government.
Berdasarkan hukum alam, manusia adalah bebas dan sederajat, demikian dinyatakan Locke. Menurutnya, manusia juga mempunyai hak-hak alamiah yang tak dapat diserahkan kepada kelompok masyarakat lain, kecuali melalui perjanjian. Ketika menjadi anggota masyarakat, individu manusia hanya menyerahkan hak-hak tertentu demi keamanan dan kepentingan bersama. Setiap individu dinilai Locke memiliki hak prerogatif fundamental dari alam, yang tak terpisahkan sebagai bagian utuh dari kepribadiannya sebagai manusia. Oleh karena pandangan-pandangannya ini, Locke mendapat julukan “Bapak Hak Asasi Manusia”.
Locke menolak pandangan bahwa raja memiliki hak suci. Menurut Locke, pemerintah dapat menjalankan kekuasaannya hanya jika mendapat persetujuan dari rakyat, sebagai pihak yang diperintah. Kebebasan individu atau pribadi dalam masyarakat ada di bawah kekuasaan legislatif yang disepakati bersama dalam negara. Manakala legislator menghancurkan hak milik penduduk atau menguranginya serta mengarah pada perbudakan, maka penduduk tidak dapat disalahkan jika melakukan pembangkangan.
Melalui bukunya, A Letter Concerning Toleration, Locke menyinggung masalah kebebasan beragama dan beribadah. Ia menyatakan, pemerintah tidak dibenarkan melakukan campur tangan terlalu jauh dalam kegiatan ibadah masyarakat. Locke menyinggung hal ini untuk melindungi penganut agama dan kepercayaan non-Kristen –– saat itu Kristen menjadi agama mayoritas di Inggris. Menurut Locke, penganut Islam, kepercayaan primitif, dan Yahudi tidak boleh dikurangi hak-hak sipilnya dalam kehidupan bernegara.
Gagasan-gagasan Locke tersebar luas ke berbagai penjuru dunia serta mempengaruhi dan menginspirasi aktivis-aktivis HAM, pejuang kemerdekaan, tokoh pemimpin bangsa, penggerak revolusi, dan filsuf dari berbagai negara. Immanuel Kant, David Hume, dan Voltaire merupakan nama-nama filsuf terkenal yang pemikiran-pemikirannya mendapat pengaruh Locke. Pemikiran Locke secara tidak langsung juga memicu pecahnya Revolusi Prancis dan Revolusi Amerika. Gagasan-gagasan Locke juga dimanfaatkan oleh Thomas Jefferson ­(salah satu Founding Fathers Amerika) untuk merumuskan Deklarasi Kemerdekaan (Declaration of Independence) bangsa Amerika.