Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 September 2017

Doa Musafir yang Terperangkap di Belantara Dunia Maya pada Tahun Baru Hijriah

Oleh Akhmad Zamroni

Ya Allah Yang Mahakuat.
Jadikanlah hari-hari kami bertabur rahmat
sehingga kami dapat menjalani kehidupan
dengan penuh rasa khidmat.

Ya Allah Yang Maha Pemurah.
Jadikanlah hari-hari kami sarat dengan berkah
sehingga kami dapat khusyuk
menjalankan semua ibadah.

Ya Allah Yang Mahakuasa.
Jadikanlah hari-hari kami penuh karunia
sehingga kami dapat bergaul dengan sesama
jauh dari prasangka.

Ya Allah Yang Mahasuci.
Jadikanlah hari-hari kami bertabur rezeki
sehingga kami dapat membantu kaum dhuafa
dengan setulus hati.

Ya Allah Yang Mahamegah.
Jadikanlah hari-hari kami sarat dengan anugerah
sehingga kami dapat mencari penghasilan
dengan cara halal dan amanah.

Ya Allah Yang Mahabaik.
Jadikanlah hari-hari kami penuh taufik
sehingga kami dapat bersikap dan bertindak
jauh dari sifat munafik.

Ya Allah Yang Maha Melihat.
Jadikanlah hari-hari kami bertabur nikmat
sehingga jika kami dipercaya menjadi pemimpin
terhindar dari laku khianat.

Ya Allah Yang Mahaperkasa.
Jadikanlah hari-hari kami terang oleh cahaya
sehingga silaturahmi dengan handai taulan dan saudara
tetap terus terjaga.

Ya Allah Yang Maha Memerintah.
Jadikanlah hari-hari kami penuh limpahan hidayah
sehingga dalam menjalankan semua perintah-Mu
jauh dari jalan sesat dan musibah.

Ya Allah Yang Mahaagung.
Ampunilah dosa-dosa kami yang bergunung-gunung
juga dosa-dosa saudara, orang tua, dan para pemimpin kami yang tak                terhitung sehingga kami dapat memulai hari-hari baru sebagai golongan              orang-orang yang beruntung.

Ya Allah Yang Mahasempurna.
Jauhkanlah hari-hari kami dari tipu daya
sehingga kami dapat meraih kemaslahatan sebagai manusia
terhindar dari tamak, dengki, dan dusta.

Ya Allah Yang Mahamulia.
Jauhkanlah hari-hari kami dari perkataan dan perbuatan sia-sia
sehingga kami dapat mencapai kemakrifatan sebagai hamba
terhindar dari takabur, ujub, dan riya.

Ya Allah Yang Mahagagah.
Jauhkanlah hari-hari kami dari angkara dan amarah
sehingga kami dapat menggapai karomah sebagai khalifah
terhindar dari kikir, ghibah, dan fitnah
menjadi penghuni surga yang penuh hikmah
bebas dari siksa neraka yang berlumur nanah.

Ya Allah Yang Mahabijaksana.
Kabulkanlah permohonan kami yang tiada terhingga
agar kami tetap menjadi makhluk yang mulia
meninggalkan segala larangan-Mu dengan ikhlas dan gembira
menjalankan semua perintah-Mu dengan khusyuk dan lapang dada.


Jajar-Wirogunan, Muharam 1439/September 2017



Sabtu, 12 Agustus 2017

Doa Seorang Sopir

Oleh Akhmad Zamroni

Ya Tuhanku,
Lapangkan semua jalan
hingga aku tak sempoyongan
menggerakkan roda berapa pun jauhnya
membawa jiwa-jiwa setia
menjalani hidup sarat upaya.
Ya Tuhanku,
Terangi semua jalan
hingga aku tak bernanaran
mengendalikan kemudi betapa pun liarnya
mengantar hasrat-hasrat dunia
menempuh hidup penuh bahaya.
Ya Tuhanku,
Jagalah semua jalan
hingga aku terhindar dari guncangan
dalam melewati segala rintangan.
Ya Tuhanku,
Tunjukkan jalan yang lurus
hingga terjalnya medan dapat kutembus.
Tunjukkan jalan yang harus kutempuh
hingga di bawah rambu-Mu aku bersimpuh.

            Gremet, 2008

Sebelum Tiba

Oleh Akhmad Zamroni

Sebelum angin mengempas
dari lenguh panjang para pemburu
tariklah napas ke dalam dada
biar bangkit desir jaga.
Sebelum tuba tertelan
ngalir dari luka pertempuran
tahan kakitangan
dari langkah dan lambai pergulatan.
Sebelum kepak sayap gagak
terdengar di depan beranda
kembalilah ke barat
menghampirkan hidup ke dalam hakikat.
Dengarlah, suara memanggil
di antara derak lars dan denting pedang.
Sebelum sejarah Nuh terulang
menghanyutkan terjang dan hasil perburuan
bangkit dan kembali tegakkan bendera.

Gendingan, 23 Agustus 1992

Engkaulah Mangsa

Oleh Akhmad Zamroni

Ke mana saja engkau pergi
saat aku kepayang menyeringai
terengah-engah mencarimu.
Kau tak bisa diam, tenang
berderet tunjukkan kesediaan
menyerahkan beberapa yang sedap
biar aku dapat memilih.
Kau sembunyi di belakang bayangan
hingga aku cuma bisa mendengar
tapi tak bisa kau kugenggam
untuk kujelmakan
konstruksi kegelisahan.
Kau beterbangan sembari terbahak
cemooh aku dengan keindahan magismu
kaubikin aku cuma bicara dalam diam.
Betapa sulitnya menangkap jasadmu
untuk kujadikan puisi.


Gendingan, 1 Maret 1992

Sabtu, 27 Mei 2017

Perjalanan di Pasar

Oleh Akhmad Zamroni

Sesekali aku diajak ibu
jualan pakaian di pasar.
Rasanya senang menyaksikan
orang tawar-menawar dagangan.
“Barang bagus harga tak mahal.
Belilah satu sebelum habis terjual.”
Para pembeli coba menghindar.
“Saya sudah punya dua di rumah.
saat beli harganya jauh lebih murah.”
Dengan mikrofon, tukang obat
tampak bersemangat.
Seraya memainkan sulap, membujuk
orang-orang yang lewat. “Sebotol sepuluh ribu.
Kurang dari seminggu penyakit akan berlalu.”
Rasanya sumpek bercampur gelisah
pengunjung berdengung bak kawanan lebah
dengan sengat tajam yang membuncah.
Hiruk-pikuk pasar membuatku gemetar
mengingatkanku pada cerita kakek
tentang kehidupan para pendekar
bersaing mendapatkan nama besar.
Tetapi, dari ibu aku mengerti
pasar adalah tempat sejati mencari rezeki
di sini orang mendapat untung atau rugi
di sini juga ada jalinan silaturahmi, setiap hari.

Manahan, 11 Oktober 2010

Perjalanan di Sawah

Oleh Akhmad Zamroni

Di sawah aku diajari ayah
membagi dan mengalirkan air
ke petak-petak yang tanahnya retak.
“Lihatlah hamparan tanah ini, Nak!” kata ayah.
“Dari sini kehidupan manusia dimulai.
Di sini pula kehidupan akan berakhir.
Manusia diciptakan Tuhan dari tanah.
Hidup dari memakan bulir-bulir padi
yang tumbuh di sawah. Setelah mati
akan dikembalikan ke dalam tanah.”
Menurut ayah, tanah dan air adalah
anugerah terbesar bagi kehidupan.
Bajak membalik tanah dan air melunakkannya
hingga semula keras menjadi gembur
yang menjelma jadi lahan subur.
Di sawah, aku belajar bergumul dengan lumpur
menyemai bibit dan mengusir burung pipit
merawat padi sembari berusaha sabar
menunggu bulir-bulirnya membesar
hingga dipanen dan dijual di pasar.
“Buatmu kelak ini akan berguna
untuk memahami hidup yang fana.”
Di sawah aku diajari ayah berjalan
dengan lempang dan seimbang
menyusuri pematang
yang cuma selebar batang pisang.
“Buatmu kelak ini akan bermanfaat
untuk menjalani hidup menuju makrifat.”

Manahan, 10 Oktober 2010

Jumat, 26 Mei 2017

Perjalanan ke Seberang (3)

Oleh Akhmad Zamroni

Menginjak tanah negeri
yang dibangun dengan mimpi
bagai terjun di tengah pertunjukan sirkus
dengan badut dan singa yang rakus.
Dari tangan orang-orang berkulit merah
negeri direbut lewat pertumpahan darah.
Orang-orang kulit hitam didatangkan
untuk mengobarkan pertempuran.
Orang mengecam setengah memaki
tempat hiburan penuh dansa-dansi
dan rumah ibadah ditinggal pergi
konon semua ini demi demokrasi.
Hotel dan pantai penuh orang
yang berlenggang setengah telanjang,
kegilaan atau kebebasan, sulit dibedakan.
Barangkali semacam kesesatan
akal sehat tercampak di kubangan.
Sampai di sini saja, polisi dunia
kami tak ingin tertawan oleh pesona 
yang kau tebar lewat media
dan kau ancamkan dengan senjata.
Kembalilah ke depan kaca
benahi wajahmu yang penuh luka
dan tubuhmu yang mulai renta.
Manahan, Oktober-November 2010