Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Juli 2018

Nasi Megono, Santapan Khas Masyarakat Batang dan Pekalongan


Nasi megono khas Pekalongan/Batang (Sumber: diahdidi2012- sobatinfo.com)

Masyarakat di kawasan pantai utara Pulau Jawa (pantura) bagian barat Jawa Tengah, khususnya di sepanjang Kabupaten Pekalongan ke timur hingga Kabupaten Batang, memiliki jenis santapan nasi khusus yang tidak dimiliki daerah lain. Jenis makanan nasi khusus tersebut biasa disebut ‘nasi megono’ (sego megono). Makanan ini menjadi hidangan khas daerah Batang dan Pekalongan yang sederhana, murah, dan merakyat.
Nasi megono atau biasa disebut megono saja (yang di dalamnya otomatis sudah termasuk nasi) telah menjadi santapan masyarakat Batang dan Pekalongan secara turun-temurun sejak zaman dahulu. Kendatipun bentuk atau penampilannya terlihat sangat sederhana, nasi megono masih menjadi salah satu hidangan favorit masyarakat di kedua daerah itu hingga saat ini. Di tengah keberadaan berbagai jenis makanan modern baik yang berasal dari luar daerah maupun dari luar negeri, nasi megono tetap bisa eksis sebagai makanan tradisional khas masyarakat Batang dan Pekalongan.
Bentuk atau penampilan nasi megono memang benar-benar sederhana, tetapi di lidah orang-orang Batang dan Pekalongan dirasakan tidak kalah dengan jenis-jenis masakan nasi yang lain, seperti nasi uduk, nasi gandhul, nasi becak, nasi goreng, dan nasi bakar. Citarasa khas nasi megono yang sudah menjadi makanan rakyat sehari-hari tidak dapat digantikan begitu saja oleh jenis makanan lain yang beberapa tahun terakhir ini “menyerbu” warung makan dan restoran. Di tengah menikmati berbagai jenis makanan lain yang kadang terdengar aneh dan asing, masyarakat Batang dan Pekalongan masih tetap setia menyantap nasi megono.
Nasi megono memiliki ciri yang simpel dan ringkas. Bentuknya berupa nasi putih yang di atasnya ditaburkan cincangan (cacahan) daging buah nangka muda (cecek/gori). Sebelum ditaburkan di atas nasi, cincangan buah nangka muda terlebih dahulu dicampur dengan racikan bumbu yang telah dihaluskan (antara lain, dari bawang putih, bawang merah, cabai, daun bawang, garam, ketumbar, merica, lengkuas, dan daun salam) kemudian dikukus dengan parutan kelapa selama kurang lebih 30 menit.
Nasi megono masih dengan mudah dijumpai di Batang dan Pekalongan. Di warung-warung tepian jalan raya dan jalan kampung, nasi ini dijual dengan harga yang relatif murah. Masyarakat umumnya menjadikannya sebagai santapan pagi hari (sarapan), tetapi kadang ada juga yang memanfaatkannya untuk makan siang dan malam. Nasi megono biasanya disajikan dengan tempe (mendoan atau biasa) sebagai lauknya, tetapi bisa juga disantap dengan lauk-lauk lain, yakni tahu goreng, telur, perkedel, empal, telur asin, telur ceplok atau dadar, ikan goreng, ayam goreng, dan sebaganya.
Bahkan, nasi megono juga bisa dipadu dan disantap dengan sayur lain, seperti gulai kambing, satai kambing, semur telur, semur daging, kering tempe, opor ayam, sambal goreng kentang, dan cumi kuah. Disantap dengan sayur lain, nasi megono akan terasa lebih kaya rasa, tanpa kehilangan ciri khas citarasanya. Jika Anda singgah di Batang atau Pekalongan, Anda akan lebih mendapat kesan yang mendalam jika Anda menyempatkan diri untuk menikmati santapan ini.
(Sumber: Panoramakanan, Sadah Siti Hajar, https://lanskap-makanan.blogspot.com/2018/02/nasi-megono-santapan-khas-masyarakt.html, Jumat, 2 Februari 2018)

Es Dawet Telasih Bu Dermi yang Eksotis dan Legendaris

Dawet telasih Bu Dermi Pasar Gede, Solo (Sumber: http://www.cdn2.tstatic.net)


     Solo dikenal luas sebagai salah satu kota penghasil kuliner tradisional yang bercitarasa khas dan lezat. Salah satu produk kuliner Solo yang cukup melegenda di Solo Raya khususnya dan Pulau Jawa umumnya adalah es dawet telasih. Es dawet telasih telah menjadi salah satu ikon kuliner penting Kota Solo, selain selat, timlo, serabi notosuman, nasi liwet, sate buntel, dan tengkleng.
Es dawet telasih merupakan jenis minuman dawet yang terbuat dari cendol, telasih (selasih), jenang/bubur sumsum, ketan hitam, kuah gula pasir, santan, tapai ketan, esen, dan serpihan es batu. Komposisi dan gabungan ini merupakan kombinasi atau racikan yang standar. Untuk memperkaya citarasa, dapat ditambahkan pula ke dalamnya irisan daging nangka dan daging kelapa muda.
Warung atau food court  es dawet telasih dapat dijumpai di beberapa titik di Kota Solo. Namun, yang paling banyak dijumpai di Pasar Gede, yang berada di jantung Kota Solo. Dari beberapa warung es dawet telasih yang terdapat di Pasar Gede, satu di antaranya adalah milik keluarga Bu Dermi.
Warung es dawet telasih Bu Dermi terletak di bagian tengah bangunan Pasar Gede. Tempat atau lapaknya dibuat dalam keadaan terbuka, tanpa dinding, pintu, dan jendela. Atapnya memanfaatkan atap induk bangunan Pasar Gede yang tinggi. Fasilitasnya, antara lain, terdiri atas beberapa meja kecil panjang serta kursi dan bangku dalam jumlah yang terbatas.
Dalam kesederhanaan dan keterbatasannya, lapak Bu Dermi menjadi warung es dawet telasih yang paling banyak diserbu oleh pembeli, jauh mengalahkan warung es dawet telasih lain yang ada di Pasar Gede dan bahkan yang ada di seluruh Kota Solo. Keunggulan es dawet telasih Bu Dermi dalam meraih pembeli yang lebih banyak tidak terlepas dari keunggulan rasa yang dimilikinya. Es dawet telasih Bu Dermi memang dikenal memiliki citarasa yang lebih enak dan lebih sedap dibandingkan dengan es dawet telasih buatan keluarga dan warung yang lain di seluruh Kota Solo.
Citarasa dan kelezatan es dawet telasih Bu Dermi sudah dikenal luas tidak hanya di kalangan masyarakat bawah dan menengah, melainkan juga di kalangan atas (elite) masyarakat Solo dan kota-kota lain di Pulau Jawa. Popularitas es dawet yang diproduksi turun-temurun sejak puluhan tahun lalu ini sudah mencapai kalangan elite politik di Indonesia. Pada era Orde Baru, Presiden Soeharto sekeluarga adalah termasuk pelanggan setianya –– mereka biasa memborong belasan atau puluhan mangkuk es dawet telasih Bu Dermi saat singgah di kediaman Ibu Tien Soeharto yang terletak di kawasan Kalitan, Solo. Sebelum menjadi presiden, Joko Widodo juga termasuk salah satu penggemar dan pelanggan es dawet telasih Bu Dermi –– setelah menjadi presiden, ia masih sesekali memesan melalui ajudannya. Tokoh lain yang pernah mem-booking es dawet telasih Bu Dermi untuk pesta pertemuan adalah Jenderal L.B. Moerdani dan dalang terkenal Anom Suroto.
Kemasyhurannya sebagai produk kuliner tradisional yang khas dan enak juga menarik banyak media massa cetak, media elektronik, dan media on-line  (lokal dan nasional) untuk meliputnya. Sudah belasan kali es dawet telasih Bu Dermi masuk dalam program berita dan kuliner yang ditayangkan televisi lokal dan nasional. Belasan atau mungkin puluhan kali pula media massa cetak (surat kabar dan majalah) serta media on-line  (internet) menjadikannya sebagai feature  dan berita. Tidak sedikit juga blog kuliner yang turut mengulasnya sebagai postingan artikel di internet.
Tak pelak lagi, es dawet telasih Bu Dermi telah menjadi salah satu legenda dalam dunia kuliner di Solo Raya khususnya dan di beberapa kota besar di Pulau Jawa umumnya. Di kalangan penggemar dan pengamat kuliner di Solo Raya dan beberapa kota besar di Pulau Jawa, es dawet telasih Bu Dermi sudah tak asing lagi. Namanya sering disebut dalam topik pembicaraan minuman tradisional khas yang memiliki citarasa unggul dan eksotis.
·          Sejak Tahun 1930-an
Es dawet telasih Bu Dermi sudah diproduksi sejak tahun 1930-an, hampir bersamaan dengan berdirinya Pasar Gede. Usaha es dawet telasih Bu Dermi hingga saat ini masih merupakan usaha keluarga. Keluarga yang saat ini menangani produksi dan pemasarannya merupakan generasi ketiga keluarga Bu Dermi yang berdomisili di Bangunharjo, Gandekan, Solo.
Kediaman di Bangunharjo, Gandekan, menjadi tempat produksinya. Proses produksi ditangani secara intern oleh keluarga, dengan mengambil waktu pengerjaan produksi pada dini hari sekitar pukul 03.00 hingga sekitar pukul 06.00. Pada sekitar jam 07.00 hasil produksi siap dikirim dan dipasarkan.
Es dawet telasih Bu Dermi telah dipatenkan di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.  Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya sengketa hukum terkait dengan banyaknya beredar es dawet telasih di Kota Solo dan sekitarnya serta untuk keperluan pengembangan lebih lanjut. Selain di Pasar Gede, yang menjadi kios pusat, es dawet telasih Bu Dermi juga dipasarkan melalui beberapa warung cabang di beberapa tempat, seperti di depan Pusat Grosir Solo (Beteng), Ketelan, Tanggul Bangunharjo, dan Pabelan (food court Transmart).
Selain memasarkannya melalui kios atau warung, pihak pengelola juga melayani pemesanan untuk keperluan pesta pernikahan, ulang tahun, reuni, peresmian kantor, tasyakuran, dan sebagainya. Untuk melayani tamu dalam jumlah besar pada hajatan tertentu, pengelola biasanya akan hadir langsung di lokasi hajatan dengan tim lengkap. Pengelola juga melayani pemesanan untuk berbagai keperluan lain yang pemasokannya dilakukan melalui delivery order.
(Sumber: Panoramakanan, Sadah Siti Hajar, https://lanskap-makanan.blogspot.com/2018/02/es-dawet-telasih-bu-dermi-yang-eksotis.html, Sabtu, 10 Februari 2018)

Makanan Khas Ngawi yang Perlu Anda Cicipi

Tepo tahu, salah satu makanan khas Ngawi (Sumber: http://www.sukamasak.com)

Ngawi adalah sebuah kota dan kabupaten yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ngawi berada di ujung barat provinsi Jawa Timur serta wilayahnya sebagian besar merupakan dataran rendah. Secara geografis, Ngawi memang termasuk dalam Provinsi Jawa Timur, tetapi secara kultural dan bahasa lebih dekat dengan Provinsi Jawa Tengah (terutama Surakarta dan Yogyakarta) sehingga sering disebut “Jawa Timur Mataraman”. Istilah terakhir ini lazim digunakan untuk menyebut daerah-daerah di Jawa Timur yang masyarakatnya memiliki bahasa dan budaya yang mirip dengan bahasa dan budaya masyarakat sekitar Surakarta (Solo) dan Yogyakarta.
Kemiripan budaya dan bahasa juga membawa kemiripan pada aspek kulinernya. Berbagai jenis makanan khas masyarakat Ngawi memiliki kemiripan dengan makanan masyarakat Surakarta atau Yogyakarta. Misalnya, nasi tumpang dan nasi pecel, baik di Ngawi maupun di Solo (Surakarta), keduanya merupakan jenis makanan yang populer dan merakyat.
Di daerah-daerah lain, nasi tumpang dan nasi pecel juga dijumpai, tetapi umumnya masih di daerah Mataraman dengan bahan-bahan dan citarasa yang relatif hampir sama. Selain dijumpai di Ngawi dan Solo, nasi tumpang dan nasi pecel juga dapat ditemukan di sepanjang daerah Madiun ke arah timur hingga Kediri, yang bahasa dan kultur masyarakatnya masih dalam kategori Mataraman.
Oleh karena itu, beberapa jenis makanan khas Ngawi juga memiliki kemiripan dengan makanan khas kota-kota dan daerah-daerah Mataraman. Namun, walaupun namanya sama atau mirip, citarasa makanan khas itu tetap cenderung berbeda untuk setiap kota atau daerah. Nasi tumpang khas Ngawi memiliki citarasa berbeda dengan nasi tumpang ala Solo atau Kediri, demikian juga nasi pecelnya.
Nasi tumpang di Ngawi disebut nasi lethok. Kuah atau sambal tumpang yang digunakan untuk mengguyur sayuran dan nasi dalam hidangan ini disebut sambal lethok. Lethok atau nasi lethok menjadi salah satu makanan khas daerah Ngawi. Selain nasi lethok, Ngawi masih memiliki beberapa makanan khas lain seperti dipaparkan berikut ini.
·        Lethok (Tumpang)
Lethok merupakan masakan berbentuk kuah kental atau sambal yang dibuat dari tempe dengan proses fermentasi dibuat lebih lama yang dilumat dan dicampur dengan santan, racikan bumbu cabai, bawang putih, bawang merah, garam, lengkuas, dan kencur. Ke dalamnya biasanya dimasukkan pula tahu, rambak (kulit sapi kering), petai, cabai rawit utuh, dan daun jeruk purut. Untuk menambah citarasa dan kelezatan, dapat juga ditambahkan ebi (udang kecil-kecil kering) dan lemak atau urat sapi.
Lethok lazim disantap dengan nasi putih dan sayuran hijau yang direbus. Cara menghidangkannya, nasi putih di atasnya ditaburi sayuran hijau rebus (biasanya bayam, kenikir, daun singkong, kacang panjang, dan tauge), kemudian disiram dengan sambal/bumbu lethok sehingga kemudian dinamakan nasi lethok. Hidangan ini bisa disantap dengan berbagai macam lauk: rempeyek, tempe goreng, tahu goreng, telur ceplok, ayam goreng, ikan goreng, empal, dan sebagainya.
·        Nasi Pecel
Nasi pecel sebenarnya ditemukan di berbagai daerah –– Madiun, Kediri, Solo, dan sebagainya –– tetapi nasi pecel Ngawi memiliki karakteristik sendiri sehingga dapat dikatakan nasi pecel Ngawi merupakan salah satu kuliner khas daerah ini. Racikan bumbu untuk sambal pecel Ngawi berbeda dengan racikan bumbu pecel daerah lain. Sambalnya dibuat (ditumbuk) agak kasar dan citarasa pedasnya agak menonjol. Adapun sayuran hijau yang digunakan umumnya daun singkong, kenikir, bayam, kacang panjang, dan kecambah (tauge).  Saat penyajian dapat juga ditambahkan kemangi mentah sebagai lalapan.
Hal yang juga cukup unik, penyajian nasi pecel khas Ngawi kadangkala dipadu dengan lethok (tumpang). Sebagian orang Ngawi gemar mengombinasikan pecel dengan lethok, yakni sambal atau kuah bumbu pecel disiramkan ke atas sayuran hijau dan nasi bersama dengan sambal atau kuah bumbu lethok sehingga citarasanya menjadi jauh lebih kaya. Nasi pecel Ngawi biasanya dijadikan santapan pagi hari (sarapan).
Penyajiannya bisa dilakukan di atas piring biasa, tetapi terasa lebih nikmat dan natural jika disajikan dengan daun jati atau daun pisang. Seperti halnya nasi lethok, nasi pecel juga bisa disantap dengan aneka lauk pelengkap. Di warung-warung tradisional, lauk yang disediakan, antara lain, terdiri atas rempeyek, tempe goreng, tahu goreng, tahu isi goreng, bakwan, dan telur ceplok. Untuk sarapan, Anda bisa membelinya di warung tepi jalan atau pasar tradisional serta membawanya pulang untuk disantap dengan berbagai lauk tambahan favorit: telur dadar, empal sapi, paru, telur asin, ayam goreng, dan sebagainya.
·        Tepo Tahu
Tepo tahu merupakan makanan khas Ngawi yang berbahan utama lontong dan tahu. Tepo tahu sepintas mirip dengan masakan lontong tahu atau tahu kupat yang ada di beberapa daerah lain. Namun, tepo tahu memiliki spesifikasi yang tidak dijumpai pada lontong tahu dan tahu kupat.
Tepo tahu dibuat dari kombinasi lontong, tahu goreng, kol, tauge, seledri, kacang tanah goreng, bawang goreng, dan tomat, yang dipadu dengan kuah gula merah dan kecap manis. Cara menghidangkannya adalah irisan lontong dan irisan tipis tahu goreng (setengah matang) ditaruh di atas piting atau mangkuk, kemudian di atasnya ditaburkan kacang tanah goreng (utuh), tauge (kecambah), irisan kol (kubis), irisan seledri, irisan tomat segar, dan irisan bawang goreng. Terakhir dituangkan ke atasnya kuah encer yang terbuat dari paduan gula merah dan kecap manis. Saat disantap, dapat ditambahkan sambal rebus dan kecap asin.
·        Keripik Tempe
Kripik tempe sebenarnya sudah menjadi makanan khas berbagai daerah di Indonesia. Ngawi merupakan salah satu kota dan daerah yang masyarakatnya menjadi produsen (penghasil) keripik tempe yang gurih dan krispi. Sungguhpun sudah diproduksi oleh banyak daerah lain, keripik tempe tetap dapat dikatakan sebagai makanan khas Ngawi. Hal ini karena selain sudah menjadi industri rumahan (home industry) di beberapa desa dan kecamatan di Ngawi, keripik tempe ala Ngawi juga memiliki citarasa tersendiri.
Tempe yang menjadi bahan baku utama pembuatan keripik tempe di Ngawi umumnya  diproduksi sendiri oleh masyarakat setempat. Masyarakat di sebuah desa di Ngawi, yakni Desa Prandon, banyak yang menjadi perajin tempe sehingga desa itu mendapat julukan “Desa Tempe”. Adapun kedelai sebagai bahan baku pokoknya diimpor dari Amerika Serikat melalui Koperasi Unit Desa.
Satu hal yang khusus dari keripik tempe Ngawi adalah memiliki aroma dan citarasa daun jeruk dan kencur. Di dalamnya juga ada citarasa pedas dan gurih. Dengan tidak meninggalkan teksturnya yang kasar dan kaku sehingga menjadi renyah (krispi atau kemripik) saat digigit, keripik tempe khas Ngawi menjadi makanan ringan yang kaya rasa dan enak.
(Sumber: Panoramakanan, Sadah Siti Hajar, https://lanskap-makanan.blogspot.com/2018/02/makanan-khas-ngawi-yang-perlu-anda.html, Minggu, 4 Februari 2018) 

Sabtu, 30 Juni 2018

Gudeg, Makanan Khas Tradisional Yogyakarta Peninggalan Kerajaan Mataram

Sumber: www.wisatalah.com


Yogyakarta dan gudeg adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Yogyakarta selama ini dikenal sebagai daerah yang menghasilkan makanan khas tradisional yang disebut gudeg.  Meskipun saat ini sudah banyak ditemukan juga di berbagai kota dan daerah lain di Jawa Tengah, gudeg masih dianggap sebagai makanan khas Daerah Istimewa Yogyakarta sehingga Yogyakarta seringkali dijuluki sebagai Kota Gudeg (selain Kota Pelajar).
Gudeg merupakan makanan yang berbahan baku utama daging buah nangka muda (dalam bahasa Jawa disebut ‘gori’). Setelah dikupas kulitnya, nangka muda dipotong-potong, kemudian direbus dengan gula kelapa, santan, dan dibubuhi racikan bumbu yang, antara lain, terdiri atas bawang putih, garam, kemiri, lengkuas, dan daun salam. Waktu yang dibutuhkan untuk merebus hingga adonan itu benar-benar menjadi gudeg sekitar 4-5 jam. Setelah siap, gudeg biasanya dihidangkan bersama sambal goreng krecek dilengkapi dengan telur rebus, daging ayam, tahu, dan tempe.
Gudeg dapat dibuat dalam dua versi, yakni kering dan basah, sehingga dikenal ada gudeg kering dan gudeg basah. Gudeg kering dibuat atau dimasak dengan lebih sedikiit menggunakan santan sehingga menghasilkan kuah yang sangat sedikit dan kental. Sebaliknya, gudeg basah dimasak dengan menggunakan lebih banyak santan sehingga menghasilkan kuah yang lebih banyak dan lebih encer.
Hasil Ciptaan Pasukan Mataram
Sejarah gudeg dan Yogyakarta terkait dengan keberadaan Kerajaan Mataram berabad-abad yang lalu. Dahulu Kerajaan Mataram Islam didirikan di hutan Mentaok pada abad ke-16 (hutan Mentoak saat ini dikenal sebagai kawasan Kota Gede). Di hutan Mentaok banyak sekali tumbuh pohon nangka, kelapa, dan melinjo.
Dibutuhkan lahan yang luas untuk lokasi pendirian Kerajaan Mataram Islam di hutan Mentoak sehingga pohon nangka, kelapa, dan melinjo yang tumbuh di sana terpaksa harus ditebang. Banyaknya ketiga jenis tanaman itu yang ditebang menyebabkan para prajurit Mataram Islam terinspirasi dan tergerak untuk membuat makanan (masakan) dengan menggunakan bahan-bahan dasar yang berasal dari pohon-pohon yang ditebang tersebut. Masakan yang dihasilkan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan prajurit Mataram Islam yang jumlahnya tidak sedikit.
Adapun awal digunakannya kata ‘gudeg’ untuk memberi nama makanan itu bermula dari proses ‘pengadukan’ yang dilakukan selama memasaknya. Dahulu, untuk memenuhi kebutuhan makan para prajurit Mataram, adonan buah nangka muda itu dimasak dalam jumlah sangat banyak sehingga harus ditempatkan di wadah (kendil, tempayan, atau panci) berukuran besar serta menggunakan pengaduk (alat untuk mengaduk) yang juga berukuran besar yang menyerupai dayung perahu/kano. Proses memasaknya dilakukan dengan dominan gerakan mengaduk-aduk (dalam bahasa Jawa disebut hangudheg) dalam waktu yang cukup lama. Dari proses dan kegiatan semacam itulah, makanan yang dihasilkan kemudian diberi nama ‘gudheg’ (dan selanjutnya populer dengan sebutan ‘gudeg’).
Sejak saat itulah masakan dengan bahan dasar utama dari tumbuhan nangka tersebut makin sering dibuat. Kian lama pula mengonsumsi hidangan yang kemudian dikenal dengan nama gudeg itu kian sering dilakukan serta menjadi kebutuhan  penting masyarakat Mataram. Gudeg pun tidak lekang oleh perubahan zaman dan perkembangan kehidupan masyarakat, melainkan mampu bertahan dan lestari hingga sekarang.
Gudeg pun kini tidak hanya menjadi makanan khas dan tradisional masyarakat Yogyakarta sebagai pusat dari Kerajaan Mataram Islam, tetapi juga masyarakat Solo dan sekitarnya yang secara historis menjadi bagian tak terpisahkan dari Kerajaan Mataram Islam. Bahkan gudeg saat ini juga relatif mudah ditemukan di berbagai kota dan daerah di luar Yogyakarta dan Jawa Tengah. Gudeg sudah menjadi makanan legendaris nusantara yang banyak digemari masyarakat dari berbagai penjuru negeri yang dihidangkan dengan gaya tradisional atau modern menurut selera penikmatnya masing-masing.
(Sumber:  Panoramakanan, Sadah Siti Hajar, http://lanskap-makanan.blogspot.com/2018/04/gudeg-makanan-khas-tradisional.html, 24 April 2018)

Selasa, 29 Mei 2018

Nabeez, Minuman Sehat dan Menyegarkan selama Ramadan


Sumber: id.chrispalmerstudio.com

Tahukah Anda apa yang disebut nabeez? Nabeez  adalah sejenis minuman yang berasal dari air rendaman buah kurma. Nabeez  sering atau biasa dijumpai dalam dunia kuliner masyarakat Arab dan merupakan minuman kegemaran Rasulullah, terutama saat bulan Ramadan.
Rasulullah saw. biasa mengonsumsi air nabeez  pada bulan Ramadan.  Beliau mengonsumsinya ketika berbuka dan/atau setelah santap sahur. Dengan demikian, bagi kaum Muslim, nabeez  termasuk dalam kategori minuman sunah sehingga dianjurkan untuk kita konsumsi terutama pada bulan Ramadan. Nabeez  dapat kita minum pada saat berbuka puasa dan setelah santap sahur.
Dengan teratur dan disiplin minum air nabeez, meskipun saat sahur hanya makan sedikit, insya Allah badan akan terasa lebih bertenaga dan kendatipun kita berpuasa, insaya Allah badan tetap sehat dan fit. Nabeez baik diminum saat berbuka puasa sebelum kita melakukan santap besar (santap makanan lengkap), serta pada saat sahur.
Sebagai minuman, nabeez  memiliki banyak manfaat untuk menjaga kesehatan dan kesegaran tubuh. Nabeez  termasuk air tonik alkalin yang bagi tubuh manusia, antara lain, memberikan manfaat-manfaat sebagai berikut:
·        membersihkan sisa metabolisme dari tubuh,
·        memperlancar proses metabolisme,
·        meningkatkan fungsi pencernaan,
·        memperbaiki masalah limpa dan hati,
·        menghapus kadar keasaman pada lambung,
·        mengatasi  arthritis dan asam, serta
·        menambah daya ingat.

 Membuat Nabeez
Membuat air nabeez  bukan pekerjaan yang sulit. Kita hanya perlu merendam beberapa butir kurma di dalam segelas air. Siapkan segelas air tawar matang, kemuadian ambillah 3, 5, 7, 9, atau 11 butir kurma (usahakan jumlahnya ganjil sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Rasulullah saw.). Masukkan butir-butir kurma itu ke dalam gelas berisi air putih yang sudah disiapkan.

Biarkan butir-butir kurma terendam air dalam gelas selama 10-12 jam. Selama perendaman, sebaiknya gelas dalam keadaan tertutup sehingga tidak tercemar oleh debu, kotoran, hewan, atau benda asing lainnya. Setelah melewati waktu 10-12 jam, air rendaman itu sudah terbentuk menjadi minuman yang disebut nabeez serta siap untuk diminum.

Sebagai catatan, nabeez  tidak boleh dibiarkan lebih dari 2-3 hari. Mengapa? Hal itu karena setelah melewati waktu 2-3 hari, nabeez akan mengalami fermentasi. Ketika fermentasi sudah terjadi, hal itu menjadi awal terbentuknya alkohol serta telah menjadi bagian dari minuman beralkohol yang hukumnya haram untuk diminum.

Itulah sebabnya, nabeez  sebaiknya diminum dalam keadaan segar. Begitu selesai dibuat (setelah melalui perendaman 10-12 jam), usahakan segera diminum. Jika kita membuat nabeez pada pagi hari, kita minum saat berbuka puasa; jika kita membuatnya sore hari, kita minum waktu sahur.

Sementara itu, setelah airnya (nabeez) diminum, residu kurma yang sudah direndam dapat pula langsung dimakan. Kurma yang sudah direndam itu akan terasa lebih enak dan lembut di mulut. Dengan membuat dan mengonsumsi nabeez,  kita (utamanya kaum Muslim) akan mendapatkan beberapa keuntungan sekaligus, yakni mengikuti sunah Rasul, mendapatkan buah kurma yang lebih lembut dan enak, serta memperoleh air nabeez  yang menyegarkan dan menyehatkan.

(Sumber:  Panoramakanan, Sadah Siti Hajar, http://lanskap-makanan.blogspot.co.id/2018/05/nabeez-minuman-sehat-dan-menyegarkan.html, 29 Mei 2018)