Senin, 30 Juli 2018

Raja Ampat, Firdaus Bahari dari Papua Barat

Keindahan Raja Ampat (Sumber: travelingpapua.wordpress.com)


Alam Papua, tak ada yang membantah, menyimpan keindahan yang tiada tara. Wilayahnya yang sebagian besar belum banyak terintervensi oleh manusia memberikan keindahan eksotis yang memukau. Salah satu keindahan luar biasa yang mencuat dari kawasan ini adalah perairan dan kepulauan Raja Ampat, Papua Barat.
Perairan Raja Ampat tampak dan terasa teduh pada pertengahan bulan April. Ombak dan arusnya jinak. Panorama gugusan pulau karang dan beningnya perairan di kepulauan yang berada di ujung kepala burung Pulau Papua ini sungguh menyejukkan mata.
Raja Ampat tidak hanya menjadi tempat untuk menikmati keindahan, melainkan juga dapat menjadi lokasi petualangan. “Saya kira Raja Ampat hanyalah tempat yang hanya memiliki pantai-pantai yang indah, ternyata berwisata ke sini penuh dengan petualangan,” kata Idayu Suparto, jurnalis dari Singapura, dalam Journalist Visit Program yang diadakan Kementerian Luar Negeri RI.
Para peserta menempuh perjalanan selama kurang lebih 1,5 jam menggunakan kapal feri untuk menyeberang dari Sorong menuju Waisai di Pulau Waigeo. Dari Waisai, yang merupakan ibu kota Kabupaten Raja Ampat ini, mereka masih menempuh perjalanan dengan kapal selama sekitar empat jam untuk sampai ke Wayag.
Selama perjalanan ke Wayag, mereka menyaksikan birunya langit, pulau-pulau karang, ikan terbang yang berselancar di permukaan air, ikan  bersirip merah, serta sekawanan lumba-lumba. Sesampai di Wayag, mereka memanjat bukit karang terjal selama sekitar 30 menit untuk mencapai puncak agar dapat melihat panorama gugusan Pulau Wayag yang tersohor. Dari bukit karang di Pulau Wayag, mereka dapat menikmati panorama seluruh Raja Ampat.
Raja Ampat tergelar dengan banyak sisi dan sudut yang terangkum dalam bingkai keindahan yang menawan. Keindahan luar biasa bisa disaksikan dari sana. “Dari atas, saya melihat surga. Ini merupakan pemandangan terindah yang pernah saya saksikan,” kata Sopheak Khuon, pewarta asal Kamboja.
·          Tradisi Sasi
Pesona Raja Ampat bukan sekadar Wayag yang sering disebut orang “ikonik dan fotogenik”, yang kerap menghiasi kalender dan halaman depan kampanye pariwisata Indonesia, melainkan juga masyarakat setempat yang berupaya menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian firdaus bahari di Indonesia Timur itu. Masyarakat adat di Raja Ampat memiliki kearifan lokal melalui tradisi yang disebut ‘sasi laut’. Sasi laut merupakan aturan tak tertulis yang melarang penangkapan hewan laut pada waktu-waktu tertentu.
Tradisi turun-temurun itu diwariskan leluhur mereka untuk menjaga keseimbangan kehidupan hewan laut dari penangkapan (eksploitasi) yang berlebihan. Dalam kurun waktu-waktu tertentu, bisa tiga bulan, enam bulan, atau bahkan satu tahun, dengan kesadaran diri karena aturan adat, nelayan tidak melakukan penangkapan ikan dan hewan laut. Setelah masa yang ditentukan lewat, nelayan diperbolehkan memancing kembali di laut.
Selain tradisi sasi laut, masyarakat setempat juga memiliki tradisi lain yang mirip untuk menjaga kelestarian lingkungan, yakni ‘sasi darat’. Berdasarkan tradisi terakhir ini, masyarakat tidak boleh menebang pohon atau mengambil buah dari hutan untuk dikonsumsi. Masyarakat diperbolehkan mengambil kayu di hutan, tetapi sebatas untuk dipakai sendiri, tidak untuk dijual keluar dari Raja Ampat. Hal ini membuat hutan di Kepulauan Raja Ampat hingga kini tetap hijau, rimbun, dan asri sehingga menjadi suaka yang aman bagi berbagai spesies burung, seperti cendrawasih, murai batu, bangau, dan elang.
Kabupaten Raja Ampat memiliki luas kurang lebih 46.000 kilometer persegi. Dari luas ini, kurang lebih 87 persennya merupakan laut. Menurut catatan Conservation International, perairan Raja Ampat menjadi rumah bagi kurang lebih 75 persen spesies karang dunia. Karang-karang ini menjadi sumber makanan, mata pencaharian, dan tempat berlindung dari badai tropis bagi sekitar 65.000 penduduk yang bermukim di 121 kampung yang tersebar di 37 pulau.
(Sumber: Antara dan https://travel.tempo.co, Sabtu, 23 April 2016, 06.00 WIB)

Wisata Budaya Bau Nyale dan Desa Sade di Lombok

Desa Sade di Lombok, NTB (Sumber: Travelling the World)


Lombok kini menjadi salah satu primadona pariwisata Indonesia. Berada di sebelah timur Pulau Dewata (Bali), Lombok yang merupakan bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi salah satu destinasi (tujuan) wisata yang kian populer dan berkembang. Selain memiliki objek wisata alam berupa pantai, perairan, kepulauan, perbukitan, dan pegunungan yang menawan, Lombok juga memiliki objek wisata budaya berupa tradisi atau adat istiadat masyarakat.
Menikmati wisata budaya di Lompbok dapat dilakukan sembari merasakan jenis sensasi wisata lainnya. Di Pantai Tanjung Aan yang terletak di wilayah selatan Lombok, misalnya, wisatawan dapat menyaksikan tradisi setempat yang disebut “Bau Nyale”. Tradisi ini biasanya dilakukan pada setiap bulan Februari. Tradisi Bau Nyale merupakan tradisi ritual mencari cacing laut yang dilakukan masyarakat lokal terkait dengan kepercayaan reinkarnasi.
Di Desa Sade, Lombok Tengah, wisatawan juga dapat menikmati budaya masyarakat Lombok dalam bentuk yang lain. Di desa ini, Anda dapat menyaksikan rumah-rumah tradisional masyarakat yang orisinal. Rumah-rumah itu berbentuk rumah panggung, yang dibangun dengan menggunakan tiang kayu sebagai penyangga, memanfaatkan alang-alang kering untuk atap, dan anyaman bambu sebagai dinding.
Desa Sade dihuni oleh masyarakat suku Sasak. Sekitar 150 kepala keluarga orang Sasak tinggal di sini. Mereka masih setia mempertahankan adat istiadat leluhur sehingga dijadikan desa wisata oleh pemerintah setempat.  Salah satu adat yang berlaku di desa ini adalah perkawinan sesama sepupu dan tradisi kawin culik. Adat pernikahan ini melarang adanya prosesi lamaran atau tunangan seperti lazimnya pernikahan di tempat-tempat lain.
Oleh karena tradisi perkawinan sesama sepupu, orang-orang asli Desa Sade relatif masih dalam satu keturunan. Mata pencaharian mereka adalah membuat dan menjual kain tenun, selain bertani. Mereka membuat kain tenun secara tradsional mulai dari memintal kapas kering untuk dibuat benang hingga mewarnai benang itu dengan bahan-bahan alami. Selain dapat membeli kain tenun yang sudah jadi, di desa ini wisatawan juga dapat belajar membuat kain tenun dengan menggunakan alat-alat tradisional.
(Diadaptasi dari https://travel.kompas.com, 22 Januari 2018, 15.26 WIB dan https://lifestyle.okezone.com, Senin 23 Januari 2017 15.29 WIB)

Benteng Van den Bosch Akan Direnovasi secara Bertahap

Salah satu sisi Benteng Van den Bosch (Sumber: Sadah Siti Hajar)

Benteng Van den Bosch selama ini menjadi salah satu ikon penting pariwisata Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Benteng yang oleh masyarakat Ngawi populer disebut sebagai Benteng Pendhem ini menjadi benda cagar budaya penting di Kabupaten Ngawi. Namun, kendatipun dianggap sebagai peninggalan bersejarah serta cukup banyak dikunjungi para wisatawan, benteng tersebut selama ini kurang terawat. Selain terlihat kotor, beberapa bagian dari bangunan benteng juga telah rusak dan terbengkalai.
Guna melakukan upaya pelestarian, pemerintah setempat dan pusat berinisiatif melakukan langkah renovasi terhadap Benteng Van den Bosch. Melalui usulan Pemerintah Kabupaten Ngawi kepada pemerintah pusat, pada tahun 2018 ini akan dilakukan renovasi terhadap bangunan benteng dengan anggaran Rp 5 miliar. Sebagai tindak lanjut awal, pada awal November 2017 lalu, sejumlah petugas Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) telah melakukan survei ke lokasi benteng.
Benteng Van den Bosch merupakan bangunan bersejarah yang telah dikategorikan sebagai benda cagar budaya. Oleh karena itu, upaya pelestariannya tidak bisa dilakukan dengan cara yang sembarangan. Terkait dengan hal itu, Kementerian PUPR akan menjalin kerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Balai Arkeologi Yogyakarta, dan Laboratorium Borobudur dalam melakukan renovasi. Hal ini dilakukan agar aktivitas renovasi tidak merusak bangunan fisik benteng dan menghilangkan nilai sejarahnya.
Renovasi terhadap benteng yang pernah menjadi kediaman Gubernur Jenderal Van den Bosch itu harus dilakukan dengan tetap mempertahankan kondisi aslinya sehingga membutuhkan perlakuan istimewa. Selain membutuhkan sentuhan tangan para ahli, renovasinya juga memerlukan material khusus yang mirip atau mendekati material aslinya. Dengan demikian, langkah renovasi tidak akan merusak benteng tersebut sebagai benda cagar budaya.
Renovasi bangunan rencananya akan dilakukan secara bertahap. Renovasi pada tahun 2018 ini akan menjadi renovasi tahap pertama yang menargetkan untuk melakukan perbaikan pada bangunan pintu gerbang masuk dan ruang kantor Jenderal Van den Bosch yang berada di tengah lokasi benteng. Adapun bagian-bagian lain dari bangunan benteng, menurut rencana dan usulan, akan direnovasi pada tahun-tahun berikutnya.
(Sumber:  Panoramakanan, Sadah Siti Hajar, http://lanskap-makanan.blogspot.com/2018/01/benteng-van-den-bosch-akan-direnovasi.html, 28 Januari 2018)