Senin, 24 September 2018

Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)


Sumber: assets-a1.kompasiana.com
Oleh Akhmad Zamroni
  
     Hak asasi manusia tidak lepas dari keberadaan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Tuhan menciptakan manusia tidak hanya dalam wujud fisik (tubuh) dan jiwa (roh), tetapi juga memberinya wewenang untuk melakukan sesuatu. Wewenang untuk melakukan sesuatu itulah yang disebut dengan hak.
     Nah, hak paling dasar yang dimiliki manusia itu disebut hak asasi manusia (lazim disingkat HAM). Agar manusia dapat hidup sesuai dengan harkat dan martabatnya, hak asasi manusia harus dilindungi dan ditegakkan. Upaya untuk melindungi dan menegakkan hak asasi manusia dapat dilakukan dengan berbagai cara; antara lain, dengan memberlakukan undang-undang tentang hak asasi manusia.
     Persoalan hak asasi manusia atau HAM tampaknya akan menjadi bahan perbincangan yang tiada habis-habisnya karena menyangkut hak-hak dasar manusia sekaligus nasib manusia. Namun, apa sesungguhnya hak asasi manusia itu? Apa dan bagaimana pengertian hak asasi manusia itu?
     Apakah manusia lahir dan hadir di muka bumi begitu saja? Bagaimana manusia dapat muncul di dunia ini?  Siapakah yang sebenarnya menciptakan manusia? Dengan kelengkapan apa saja manusia diciptakan? Apa saja yang digunakan manusia untuk melangsungkan kehidupannya?
     Kita semua sudah maklum bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan. Manusia tidaklah hadir begitu saja di muka bumi. Manusia diciptakan Tuhan melalui proses kelahiran. Selain dengan kelengkapan fisik (tubuh) dan jiwa (roh atau nyawa), manusia juga diciptakan Tuhan dengan kelengkapan lain yang memungkinkannya dapat melangsungkan kehidupan. Apakah kelengkapan itu?
     Kelengkapan itu, antara lain, adalah hak. Apakah hak itu? Hak adalah kewenangan atau kekuasaan untuk melakukan sesuatu. Hak inilah salah satu unsur pokok dalam diri manusia yang memungkinkan dirinya melakukan banyak hal untuk mempertahankan hidup.
     Pada tahap yang paling awal, begitu diciptakan oleh Tuhan, manusia langsung memiliki hak untuk hidup. Begitu Tuhan menanamkan roh pada jasad manusia, dengan sendirinya Tuhan telah memberinya hak hidup. Tiada sesuatu apa pun di jagat raya ini yang boleh dan berhak mencabut roh itu dari diri manusia (membunuh), selain Tuhan sendiri.
     Di dalam hak hidup itu sendiri terkandung hak-hak lain yang menyertai. Hal ini karena untuk dapat mempertahankan dan melangsungkan kehidupannya, manusia mutlak memerlukan hak-hak lain, yakni hak-hak untuk melaksanakan hidup. Hak-hak itu ialah hak untuk memilih pasangan hidup dan melangsungkan pernikahan, hak untuk memiliki keturunan (anak), hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk mencari makan, hak memilih pakaian, hak membuat dan menentukan tempat tinggal, hak memilih kelompok bergaul, hak mencari pengetahuan, hak menentukan mata pencaharian, dan sebagainya.
     Hak hidup berikut hak-hak yang mengikuti itu merupakan hak dasar yang melekat dengan sendirinya pada diri manusia sejak asal-usul penciptaannya, yakni, terutama, sejak manusia lahir dan menghirup udara dunia untuk kali pertama. Hak-hak ini terus melekat sampai manusia menghirup udara dunia untuk kali yang terakhir (mati). Dengan kata lain, hak-hak itu melekat pada manusia selama ia hidup di dunia.
     Hak-hak itu melekat selama hidup karena untuk hidup itu sendiri manusia tidak dapat lepas darinya. Begitu hak-hak itu terganggu, maka sifat hidup kemanusiaannya terganggu pula. Artinya, jika hak-hak itu tak dapat dilaksanakan, hidup manusia menjadi tidak sesuai dengan sifat kemanusiaan sebagaimana yang diberikan Tuhan.
     Nah, hak-hak dasar yang melekat pada manusia selama hidup itulah yang lazim dikenal dengan istilah  hak asasi manusia (HAM). Hak asasi manusia artinya adalah hak dasar manusia (asasi  artinya ‘dasar’ atau ‘pokok’). Hak asasi dimiliki oleh setiap manusia yang hidup di dunia.
     Dari uraian pembuka tersebut, Anda tentunya sudah mendapatkan gambaran mengenai pengertian hak asasi manusia, bukan? Namun, pemaparan itu masih bersifat umum dan mendasar. Dalam perkembangan hidup manusia lebih lanjut, pengertian hak asasi manusia juga ikut mengalami perkembangan. Terutama setelah manusia memasuki kehidupan  modern yang lebih kompleks, pengertian hak asasi manusia dikaitkan juga dengan hal-hal lain, seperti hukum, pemerintah, dan negara. Berikut ini beberapa pengertian hak asasi manusia yang dapat kita jadikan acuan dalam memahami hak asasi manusia.
·            Filsul Inggris, John Locke, mengatakan bahwa hak asasi manusia adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati. Oleh karena pemberian Tuhan langsung, tidak ada kekuasaan apa pun di dunia  yang dapat mencabutnya.
·            Jan Materson, dari Komisi HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menyatakan bahwa hak asasi manusia adalah hak-hak yang melekat pada setiap manusia, yang tanpanya (hak-hak itu) manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia.
·            Austin Ranney menyatakan, hak asasi manusia adalah ruang kebebasan individu yang dirumuskan secara jelas dalam konstitusi dan dijamin pelaksanaannya oleh pemerintah.
·            Franz Magnis-Suseno menyatakan, hak asasi manusia adalah hak-hak yang dimiliki manusia bukan karena pemberian masyarakat serta bukan karena (adanya) hukum positif, melainkan karena martabatnya sebagai manusia; manusia memilikinya (hak asasi) karena ia manusia.
·            A.J.M. Milne mengatakan, hak asasi manusia adalah hak yang dimiliki oleh semua umat manusia pada setiap zaman dan di segala tempat karena keutamaan eksistensinya (keberadaannya) sebagai manusia.
·            David Beetham dan Kevin Boyle mengatakan, hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia adalah hak-hak individual yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan serta kapasitas-kapasitas manusia.
·            Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia menyebutkan, hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.
·            Tim ICCE UIN (Indonesian Center for Civic Education, Universitas Islam Negeri) Jakarta merumuskan, hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah Allah yang harus dihormati, dijaga, dan dilindungi oleh setiap individu, masyarakat, atau negara.

Komponen dan Karakteristik Hak Asasi Manusia (HAM)

Sumber: www.rioap.com
Oleh Akhmad Zamroni

     Dari beberapa pengertian tentang hak asasi manusia, kita dapat melihat adanya beberapa komponen atau unsur dan karakteristik atau sifat yang terdapat dalam hak asasi manusia. komponen dan karakteristik itu terkait dengan hakikat manusia berikut keberadaan dan keberlangsungannya dalam kehidupan di dunia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Komponen di sini dimaksudkan sebagai aspek yang terdapat di dalam hak asasi dan tak terpisahkan darinya. Adapun karakteristik dimaksudkan sebagai peranan hak asasi dalam kehidupan manusia.
Komponen dan karakteristik itu amat menentukan keberadaan manusia serta hak asasi yang dimilikinya.  Hal ini karena pemahaman atas komponen dan karakteristik hak asasi manusia akan sangat menentukan upaya perlindungan dan penegakan hak asasi manusia itu sendiri. Beberapa komponen dan karakteristik yang dimaksud dapat diperinci dan dijelaskan sebagai berikut.
·          Hak asasi manusia bersifat kodrati karena merupakan pemberian Tuhan. Sejak lahir, manusia dikarunia oleh Tuhan hak asasi. Hak asasi diberikan kepada manusia agar manusia memiliki kewenangan dan kemampuan untuk melangsungkan kehidupannya.
·          Hak asasi manusia tidak dapat dicabut oleh siapa pun, kecuali oleh Tuhan. Oleh karena pemberian langsung dari Tuhan, maka hanya Tuhanlah yang dapat, patut, dan berhak mencabut hak asasi (lazimnya melalui kematian). Sesama manusia tidak dapat saling meniadakan hak asasinya masing-masing.
·          Hak asasi manusia dengan sendirinya dimiliki dan melekat pada setiap manusia. Setiap individu manusia secara otomatis memiliki hak asasi. Kepemilikan itu tidak terikat oleh suku, agama, jenis kelamin, golongan, kebangsaan, dan sebagainya.
·          Hak asasi manusia menentukan harkat dan martabat manusia. Tinggi rendahnya derajat manusia dipengaruhi oleh pemenuhan hak asasi yang dimilikinya. Manusia yang hak asasinya terpenuhi akan memiliki derajat yang berbeda dengan manusia yang hak asasinya tak terpenuhi (dilanggar).
·          Hak asasi manusia menentukan keberadaan dan kelangsungan hidup manusia. Keberadaan dan kelangsungan hidup manusia juga dipengaruhi pemenuhan hak asasinya. Manusia yang pemenuhan hak asasinya terjamin, keberadaan dan kelangsungan hidupnya juga akan terjamin, demikian juga sebaliknya.
·          Hak asasi manusia wajib dihormati, dihargai, dan dilindungi. Hak asasi manusia tak boleh dilanggar oleh aparat pemerintah atau siapa pun. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia adalah pelanggaran terhadap nilai kemanusiaan yang dapat merendahkan harkat dan martabat manusia –– karena itu, pelanggaran hak asasi adalah pelanggaran hukum yang harus diganjar dengan sanksi atau hukuman.

Arti Penting Hak Asasi Manusia (HAM)


    
Oleh Akhmad Zamroni 
Sumber: pixabay.com 
 


     Anda tentu paham bahwa hak asasi manusia merupakan persoalan yang sangat penting. Keberadaan hak asasi turut menentukan keberadaan dan keberlangsungan manusia itu sendiri. Penanganan terhadap masalah hak asasi akan menentukan tegak atau tidaknya nilai-nilai kemanusiaan. Diakui, dilindungi, dan dipenuhinya hak asasi akan menjadikan kehidupan manusia memenuhi kelayakan dari segi harkat dan martabatnya, demikian juga sebaliknya.

     Dapat kita bayangkan, bagaimana nasib dan keadaannya jika masyarakat dikekang atau dibatasi oleh aparat penguasa untuk melakukan kegiatan-kegiatan hidup, seperti mencari penghasilan, memilih tempat tinggal, menentukan kelompok pergaulan, mendirikan organisasi, menyampaikan aspirasi, dan memilih pemimpin. Tuhan memberikan hak kepada manusia untuk melakukan semua hal yang diperlukan –– selain hal-hal terlarang, seperti mencuri dan membunuh –– dalam rangka menjalankan dan mempertahankan hidup. Jika hak itu dilarang dan dikekang oleh sesama manusia, selain akan bertentangan dengan ketentuan Tuhan, jelas akan menyebabkan kehidupan manusia menjadi tidak sesuai dengan standar kelayakan kemanusiaannya.
     Dengan demikian, dalam keseluruhan hidup manusia, hak asasi adalah aspek yang urgen atau penting untuk diperhatikan. Urgensi atau pentingnya hak asasi sama pentingnya dengan hidup manusia itu sendiri. Tanpa hak asasi, manusia dapat dikatakan tidak akan dapat hidup, atau mungkin saja dapat hidup, tetapi kehidupannya tidak sesuai dengan nilai, harkat, dan martabatnya sebagai manusia.
     Namun, pada kenyataannya hak asasi tidak selalu mendapat pengakuan, perlindungan, dan pemenuhan yang semestinya. Sejak dahulu hingga sekarang, hak asasi masih sering mengalami pelanggaran. Kehidupan di dunia tidak pernah sama sekali sepi atau bebas dari pelanggaran hak asasi manusia.
     Oleh sebab itu, dari waktu ke waktu hak asasi seringkali menjadi isu yang hangat untuk dibicarakan. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir ini, saat kasus pelanggaran hak asasi manusia sudah jauh berkurang jumlahnya –– dibandingkan beberapa puluh tahun atau abad lalu –– hak asasi tetap menjadi isu yang sensitif. Saat ini, selain demokrasi, hak asasi menjadi isu yang sensitif di Indonesia dan dunia internasional.
     Hal itu, misalnya, ditandai oleh realitas bahwa negara yang pemerintahannya melakukan pelanggaran terhadap hak asasi rakyatnya cenderung akan mendapatkan sanksi dan pengucilan dari negara-negara lain  dan organisasi-organisasi internasional. Kerja sama dan pemberian bantuan internasional juga hampir selalu dikaitkan dengan catatan masalah hak asasi. Adapun di Indonesia pada saat ini, setiap pengekangan atau pelanggaran hak asasi manusia –– terutama oleh pemerintah –– akan mendapat sorotan dan protes yang sangat gencar dari masyarakat.
     Pentingnya masalah hak asasi manusia juga memicu tumbuhnya kesadaran untuk menciptakan perangkat-perangkat hukum untuk melindungi dan menegakkan hak asasi manusia. Di dunia internasional, misalnya, sejak tahun 1948 telah ditetapkan oleh PBB sebuah perangkat yang disebut Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Di Indonesia pada tahun 1999 disahkan UU No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia untuk memperkuat ketentuan mengenai hak asasi manusia yang diatur dalam UUD 1945. UUD 1945 sendiri mengalami amendeman (tahun 1999–2002) yang cukup banyak dalam pasal-pasal yang mengatur hak asasi warga negara.
     Penetapan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia oleh PBB kiranya tidak lepas dari banyaknya pelanggaran hak asasi yang terjadi di berbagai negara, terutama di negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika melalui kolonialisme oleh negara-negara Barat. Hebatnya pelanggaran hak asasi melalui kolonialisme membuat masyarakat internasional tercengang dan marah. Hal ini kemudian mendorong masyarakat dunia (melalui PBB) untuk mengeluarkan pernyataan tentang hak asasi manusia universal.
     Adapun disahkannya UU No. 39/1999 serta amendeman UUD 1945 dalam pasal-pasal Hak Asasi Manusia juga dipicu oleh banyaknya pelanggaran hak asasi manusia. Pada masa Orde Baru, banyaknya pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan pemerintah membuat masyarakat hidup tertindas sekaligus geram dan menggugat. Maka, begitu rakyat dapat menumbangkan Orde Baru (tahun 1998) melalui gerakan reformasi, masyarakat pun menuntut dengan keras agar segera dibuat undang-undang baru yang mengatur masalah hak asasi manusia.

Kamis, 20 September 2018

Budi Darma, Pembaharu Prosa Indonesia dengan Karya-Karya yang Absurd

Budi Darma (Sumber: jurnalfootage.net)
Oleh Akhmad Zamroni

     Budi Darma lahir di Rembang, Jawa Tengah,
pada 25 April 1937. Ia adalah anak keempat dari enam bersaudara (semuanya laki-laki). Budi Darma menghabiskan masa kecil dan remajanya di berbagai kota di Pulau Jawa seperti Semarang, Yogyakarta, Salatiga, Jombang, Kendal, dan Bandung karena mengikuti ayahnya yang bekerja berpindah-pindah sebagai pegawai kantor (jawatan) pos.
Kedua orang tua Budi Darma berasal dari Rembang. Ayahnya bernama Munandar Darmowidagdo (kelahiran tahun 1900) dan ibunya bernama Sri Kunmaryati (kelahiran tahun 1909). Budi Darma menikah dengan Sitaresmi (kelahiran 7 September 1938) pada tahun 1968. Mereka dikaruniai tiga orang putra, yakni Diana (kelahiran 15 Mei 1969), Guritno (4 Februari 1972), dan Hananto Widodo (3 Juni 1974).
Budi Darma menyelesaikan pendidikan sekolah dasar tahun 1950 di Kudus, merampungkan pendidikan menengah pertama tahun 1953 di Salatiga, serta menuntaskan pendidikan menengah atas tahun 1956 (Wikipedia menyebutnya tahun 1957) di Semarang. Setamat sekolah menengah atas, ia melanjutkan studi ke Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia menyelesaikan pendidikan tingginya ini pada tahun 1963.
Setamat dari UGM, Budi Darma bekerja sebagai dosen di Jurusan Bahasa Inggris IKIP Surabaya — sekarang Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Pekerjaan ini ia jalani sejak tahun 1963 hingga sekarang. Dalam perjalanan kariernya sebagai dosen Universitas Negeri Surabaya/IKIP Surabaya, ia pernah menjabat Ketua Jurusan Sastra Inggris (1966—1970 dan 1980—1984), Dekan Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (1963—1966 dan 1970—1974), serta Rektor IKIP Surabaya (1984—1988). Kini Budi Darma menjadi guru besar (profesor) di Universitas Negeri Surabaya. Selain mengajar di perguruan tinggi di Surabaya ini, ia juga mengajar di sejumlah universitas luar negeri.
Budi Darma meraih gelar Master of Arts in English Creative Writing pada 1975 di Universitas Indiana, Amerika Serikat. Ia kuliah di universitas yang berbasis di Kota Bloomington, Indiana, ini dengan biaya beasiswa. Dengan beasiswa dari The Ford Foundation, ia kemudian menyelesaikan pendidikan doktornya (Doctor of Philosophy) di universitas yang sama pada tahun 1980. Setelah meraih gelar doktor, Budi Darma menjadi visiting associate research di Universitas Indiana. Pada tahun 1967, selama tiga bulan, ia mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat. Pada tahun 1970 —1971, ia juga mendapat beasiswa dari East West Centre untuk menempuh studi nirgelar mengenai basic humanities 'ilmu budaya dasar' di Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat.
Penulis Prosa Absurd
Budi Darma mulai aktif dan produktif menulis sejak tahun 1968/1969. Selain dalam bahasa Indonesia, ia juga menulis dalam bahasa Inggris. Tulisan-tulisannya berupa cerpen, novel, esai, dan makalah. Selain antologi cerpen Kritikus Adinan (2002), hingga kini sejumlah buku karyanya telah terbit; antara lain, Olenka (novel, 1983), Rafilus (novel, 1998), Ny. Talis (novel, 1996), Orang-Orang Bloomington (kumpulan cerpen, 1981), Solilokui (kumpulan esai, 1983), Sejumlah Esai Sastra (kumpulan esai, 1984), Harmonium (kumpulan esai, 1995), Fofo dan Senggring (kumpulan esai, 2005), serta sebuah karya terjemahan (The Legacy  karya Intsi V. Himanyunga, 1996). Karya lainnya adalah  Modern Literature of ASEAN (Editor Kepala, 2000) dan Kumpulan Esai Sastra ASEAN (ASEAN Committee on Culture and Information). Adapun buku-buku nonsastra yang dihasilkannya, antara lain, Sejarah 10 November 1945 (Pemda Jatim, 1987) dan Culture in Surabaya (IKIP Surabaya, 1992).
Cerpen-cerpennya dimuat di majalah sastra Horison, harian Kompas (edisi Minggu), serta buku Kumpulan Cerpen Terbaik  pilihan Kompas. Esai-esainya yang menggugah juga dimuat di Horison dan Kompas. Beberapa cerita pendeknya yang ditulis dalam bahasa Inggris dimuat di berbagai media massa yang terbit di Indiana, Bloomington. Tulisan-tulisan lainnya dimuat di beberapa majalah, antara lain, Budaja (Yogyakarta), Basis (Yogyakarta), Gama (Yogyakarta), Gadjah Mada (Yogyakarta), Gema Mahasiswa (Yogyakarta), Contact (Yogyakarta), Tjerita (Jakarta), Indonesia (Jakarta), Roman (Jakarta), Forum (Jakarta), dan Gelora (Surabaya), serta surat kabar Berita Nasional (Yogyakarta), Minggu Pagi (Yogyakarta), Kontak (Surabaya), Jawa Pos (Surabaya), dan Tanah Air (Semarang).
 
Novel Olenka (Sumber: twitter.com)
Nama Budi Darma mulai melejit dan dikenal luas di dunia sastra sejak menerbitkan sejumlah cerita pendek di majalah sastra Horison pada 1970-an.
Ia memiliki reputasi sebagai sastrawan yang banyak menghasilkan cerpen dan novel absurd yang penuh gebrakan dan kejutan. Semasa tinggal di Kota Bloomington, ia menulis delapan cerita pendek yang kemudian terbit dalam buku kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington (1980) serta novel Olenka (1983). Cerpen “Orang-Orang Bloomington” meraih penghargaan SEA Write Award dari pemerintah Thailand (1984). Olenka yang diterbitkan oleh Balai Pustaka mendapat sambutan positif dan luas dari para kritikus, pengamat, dan penikmat sastra. Novel yang ditulis pada akhir tahun 1979 ini dianggap membawa pembaruan dalam teknik penceritaan. Berbagai penghargaan diraih Budi Darma melalui Olenka. Olenka menjadi pemenang pertama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta (1980). Olenka juga mendapat hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1983). Setahun kemudian (1984), Olenka pun meraih Hadiah Sastra ASEAN (SEA Write Award).
Karya-karya prosa Budi Darma (cerpen dan novel) mendapat pembahasan dalam bab tersendiri dalam buku karangan kritikus satra, A. Teeuw, Modern Indonesian Literature (Jilid 2). Cerpen Budi Darma yang dimuat Horison, “Sang Anak” oleh Satyagaraha Hoerip dimasukkan ke dalam antologi Cerita Pendek Indonesia (Jilid 3). Cerpennya yang berjudul Laki-Laki Pemanggul Goniterpilih menjadi cerpen terbaik harian Kompas untuk tahun 2012, sedangkan cerpen lainnya, Derabat, dijadikan judul buku Kumpulan Cerita Pendek Terbaik Kompas tahun 1999 serta Budi Darma dinobatkan sebagai penulis cerita pendek yang setia hingga usia senja. Dua cerita pendeknya ditransformasi dalam bentuk drama, yaitu Orez(yang dipentaskan mahasiswa ISI Yogyakarta) dan Kritikus Adinan(dipentaskan mahasiswa STSI Bandung).
Kontribusi Budi Darma bagi kemajuan sastra dianggap sangat besar. Karya-karya cerpen dan novelnya membawa perubahan baru dalam teknik bercerita dan penokohan, yang kemudian mempengaruhi banyak cerpenis dan novelis Indonesia yang muncul sesudahnya. Teknik penceritaan yang dilakukan Budi Darma kerap dianggap sebagai teknik kolase, sedangkan tokoh-tokoh yang ditampilkannya tidak jarang memiliki karakter aneh atau absurd. Bersama Iwan Simatupang, Putu Wijaya, dan Danarto, ia seringkali dikategorikan sebagai pembaharu kesusastraan modern Indonesia untuk genre prosa.
Budi Darma memiliki kecepatan yang menakjubkan dalam menulis cerpen atau novel. Ia sudah terbiasa menulis tanpa perencanaan lebih dahulu. Novel Olenka yang meraih berbagai penghargaan itu, misalnya, diselesaikannya hanya dalam waktu tiga pekan. Dalam sebuah wawancara dengan jurnal Prosa (2003), ia mengatakan, “Saya menulis tanpa saya rencanakan, dan juga tanpa draft. Andaikata menulis dapat disamakan dengan bertempur, saya hanya mengikuti mood, tanpa menggariskan strategi, tanpa pula merinci taktik. Di belakang mood, sementara itu, ada obsesi.”
Sastrawan dan Tokoh Berprestasi
Selama kuliah di Amerika Serikat, Budi Darma masuk dalam kategori mahasiswa yang berprestasi sehingga namanya diabadikan dalam  Who's Who in The World (1982/1983). Ia terdaftar sebagai anggota Modern Language Association (MLA), New York, untuk periode 1977­—1990. Namanya juga tercantum dalam buku  Ensiklopedi Pengarang Indonesia. Saat lulus pendidikan S-1 dari Fakultas Sastra dan Budaya UGM, ia meraih penghargaan Bintang Wisuda Bhakti sebagai wisudawan terbaik.
Budi Darma dinyatakan sebagai warga Surabaya berprestasi dalam bidang kesusastraan selama dua kali berturut-turut, yakni tahun 1987 dan 1988, oleh Walikota Surabaya, Purnomo Kasidi. Tahun 2004, dia mendapatkan penghargaan warga berprestasi seni oleh gubernur Jawa Timur. Pada tahun 1993, ia mendapat penghargaan Anugerah Seni Pemerintah RI.
Sebagai sastrawan, akademisi, dan intelektual, Budi Darma kerap didaulat untuk memberikan ceramah, mengajar, dan menguji calon sarjana atau doktor sastra baik di dalam maupun luar negeri. Tak jarang pula ia mendapat undangan untuk melakukan riset, khususnya tentang sastra Inggris atau Amerika. Di tengah kesibukannya, ia tercatat sebagai chief editor untuk  Modern Literature of ASEAN (2000) yang diterbitkaan oleh COCI (Committee on Cultural Information) ASEAN. Buku ini membahas perkembangan kesusastraan di beberapa negara ASEAN, yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Filipina, Singapura, dan Vietnam. Budi Darma pernah mengisi program siaran sastra dan budaya di RRI (Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya) dan TVRI (Surabaya).
Budi Darma dan beberapa buku karyanya (Sumber: www.jawapos.com)

     Dalam kerja sama Mastera
(Majelis Sastra Asia Tenggara), Budi Darma beberapa kali menjadi pembimbing cerpenis, esais, dan novelis muda dari Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia dalam Program Penulisan Mastera (1998, 1999, 2000, 2003, 2004, 2005, 2008). Ia pernah ditunjuk sebagai pakar kesusastraan bandingan dalam keanggotaan pakar Mastera Indonesia. Pria yang dikenal ramah dan santun ini juga terlibat dalam pembimbingan berbagai lokakarya dan penataran sastra bagi pegawai Pusat Bahasa dan dosen muda dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang diadakan oleh Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.
Budi Darma dikenal sebagai tokoh yang memiliki wawasan yang luas karena kegemarannya membaca dan menulis. Sastrawan kreatif ini memiliki kegemaran membaca sejak remaja. Saat duduk di bangku SMP di Salatiga, ia sudah banyak membaca buku-buku sastra Indonesia dan asing. Di perpustakaan pemerintah Salatiga ia sering mengisi waktu luangnya dengan melahap karya-karya Idrus, Merari Siregar, Suman Hs., dan sebagainya. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang masih pas-pasan, ia juga membaca karya-karya Karl May, Hector Malot, Alexander Dumas, dan sebagainya. Kisah dalam salah satu cerpen Rusia (berbahasa Inggris) yang berjudul “The Darling” sedikit banyak juga memiliki hubungan dengan tokoh Olenka dalam novel Olenka.
Kegemaran membaca Budi Darma diperkirakan ditularkan oleh ibunya, yang memiliki tradisi membaca yang baik untuk ukuran zamannya. Literatur yang banyak dibaca ibunya adalah cerita wayang dan mitologi Jawa. Di samping itu, ketika kuliah di UGM, Budi Darma tinggal di rumah pamannya yang menjadi dosen dan ahli hukum, yakni Prof. Mr. Notosusanto (ayah Nugroho Notosusanto sastrawan, sejarawan, dan mantan menteri pendidikan dan kebudayaan). Diskusi ilmiah yang sering dilakukan dengan pamannya turut membuka dan memperluas cakrawala keilmuan Budi Darma.

Senin, 17 September 2018

Sikap Penting dalam Meraih Prestasi

Sumber: blackline.com

Selain harus dilakukan sesuai dengan potensi, usaha meraih prestasi juga harus dibarengi dengan langkah-langkah pengembagan potensi yang tepat. Untuk meraih prestasi, potensi harus dikembangkan. Secara umum, pengembangan potensi harus dilakukan dengan cara belajar, berlatih, dan mempraktikkan secara teratur, berkesinambungan, tekun, dan ulet. Menurut para pakar, bakat atau potensi hanya berperan sekitar 10 persen saja dalam membantu seseorang meraih prestasi, sedangkan selebihnya (90 persen) ditentukan oleh usaha belajar, berlatih, dan kerja keras. Bahkan ada ahli dan praktisi yang berpendapat bahwa untuk meraih prestasi bakat sebenarnya hanya berperan 1 persen, adapun yang 99 persen ditentukan oleh usaha, kerja keras, dan doa.
Usaha pengembangan potensi untuk meraih prestasi juga membutuhkan beberapa sikap yang positif. Sikap positif yang dimaksud adalah sikap yang bersifat mendukung terwujudnya prestasi. Sikap ini harus ditumbuhkan karena usaha meraih prestasi umumnya tidak selalu berjalan mulus dan menghasilkan sukses. Sikap positif penting yang diperlukan, antara lain, optimis, berpikir dan berperasaan positif, disiplin, tidak lekas puas dengan hasil yang dicapai, tidak mudah menyerah, berani mengambil risiko, dan belajar dari pengalaman.
1.  Optimis
Setiap hendak melakukan sesuatu, terutama melakukan usaha memperbaiki nasib atau keadaan diri, kita disarankan untuk bersikap optimis. Nilai-nilai atau ajaran agama menyarankan kita untuk optimis: bahwa kita mempunyai peluang yang baik untuk mendapatkan hal yang positif jika kita berdoa pada Tuhan dan percaya akan pertolongan-Nya. Optimisme akan menjadikan kita tetap mempunyai pengharapan yang baik akan hal yang kita lakukan.
Apakah yang disebut optimisme? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 801), optimisme adalah keyakinan atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menyenangkan. Optimisme juga dapat diartikan sikap yang senantiasa mempunyai harapan baik dalam segala hal. Dengan pengertian dan sifatnya yang demikian, sikap optimis sangat dibutuhkan oleh setiap orang dalam melakukan berbagai aktivitas, termasuk meraih prestasi.
Sikap optimis akan menjaga kita untuk tetap berada pada jalur usaha mencapai prestasi. Dengan bersikap optimis, langkah-langkah kita akan tertuju pada prestasi yang sudah kita tetapkan sekaligus kita terpacu untuk berusaha untuk mencapai prestasi tersebut. Sebaliknya, tanpa sikap optimis, kita tidak akan memiliki pengharapan untuk mendapatkan prestasi sehingga usaha untuk mencapai prestasi menjadi sangat lemah.
2.  Berpikir dan Berperasaan Positif
Anda tentu pernah mendengar atau membaca istilah ‘berpikir positif’ (positive thinking), bukan? Berpikir positif adalah berpikir baik (tidak buruk, tidak jelek, atau tidak negatif) mengenai atau terhadap sesuatu hal. Berpikir positif dapat dikatakan mirip dengan berprasangka baik, yakni menaruh anggapan baik terhadap segala sesuatu yang dihadapi. Sementara itu, berperasaan positif (positive feeling) hakikatnya juga sama dengan berpikir positif; hanya bedanya berperasaan positif mengacu pada penggunaan perasaan atau hati.
Nah, dalam upaya mencapai prestasi, berpikir positif dan berperasaan positif sangat dibutuhkan. Berpikir positif dan berperasaan positif terhadap segala hal yang dihadapi akan menempatkan kita pada suasana yang kondusif. Dengan berpikir dan berperasaan positif, pikiran dan hati kita akan tenang, tenteram, sejuk, gembira, dan relatif bebas dari kekhawatiran atau ketakutan yang dapat menjadi gangguan yang serius. Hal ini penting sebagai bagian untuk mendapatkan konsentrasi dan fokus selama menjalankan latihan dalam upaya membentuk kemampuan atau kecakapan. Kemampuan atau kecakapan adalah modal atau sarana utama dalam mencapai prestasi.
3.  Disiplin
Disiplin merupakan sikap yang tidak dapat ditinggalkan dalam meraih prestasi. Tanpa disiplin, usaha meraih prestasi akan mandek. Hampir tidak ada prestasi dan sukses yang dicapai dengan sikap manja, malas-malasan, santai, asal-asalan, dan apa adanya. Orang-orang yang berprestasi adalah orang-orang yang umumnya berdisiplin tinggi. Mereka belajar dan berlatih serta mempraktikkan apa yang dipelajari dan dilatihkan dengan rutin, teratur, tepat waktu, dan sesuai ketentuan.
Potensi akan sulit berkembang menjadi kecakapan atau keterampilan jika tidak diasah dengan sikap disiplin. Bahkan usaha dan kerja keras pun jika dilakukan dengan sembarangan tanpa disiplin masih sulit menghasilkan prestasi. Disiplin berperan sangat penting dalam membentuk potensi menjadi kecakapan atau keterampilan.
Disiplin meliputi keteraturan, keajekan, dan ketepatan waktu dalam belajar dan berlatih. Disiplin juga mencakup keteraturan dalam melakukan hal-hal rutin keseharian, seperti makan, istirahat, bergaul, dan berkomunikasi dengan sesama. Orang dikatakan memiliki disiplin diri yang baik manakala ia dapat menjalankan bidang kegiatan dan kehidupan sehari-harinya dengan ajek, teratur, dan tepat waktu.
4.  Tidak Cepat Merasa Puas
Perasaan cepat puas menghalangi kita untuk mencapai kemampuan atau keterampilan yang optimal. Dengan perkataan lain, perasaan cepat puas menghambat kita dalam mencapai prestasi tinggi. Pencapaian prestasi seseorang sering mengalami kemandekan akibat munculnya perasaan cepat puas.
Perasaan lekas merasa puas biasanya mudah menghinggapi para pemula pemburu prestasi. Mereka ini umumnya kurang maksimal dalam meraih prestasi karena mungkin kurangnya pengetahuan mengenai jenjang atau tingkatan prestasi serta terbawa oleh perasaan mudah larut dalam kegembiraan yang berkepanjangan. Begitu prestasi tertentu diraih, perasaan senang dan puas langsung datang menyergap tanpa menyadari bahwa prestasi-prestasi lanjutan di atasnya masih banyak yang belum dicapai.
Untuk mencapai prestasi dan sukses, kita harus mencanangkan sikap tidak lekas merasa puas. Dengan tidak lekas merasa puas, kita akan terpacu untuk terus-menerus meningkatkan prestasi. Dengan tidak lekas merasa puas, kita akan termotivasi untuk meraih hasil yang lebih baik, lebih besar, dan lebih tinggi.
Pernahkah Anda mengikuti kisah para juara dunia olahraga yang masih berambisi untuk memperbaiki rekor waktu yang sudah dicapainya biarpun mereka sudah menjadi juara dunia? Itulah contoh sikap tidak cepat puas yang patut kita teladani. Jika mereka yang sudah menjadi juara dunia saja masih ingin terus meningkatkan prestasi, kita yang tentunya masih belum apa-apa jelas perlu terus meningkatkan kemampuan dalam upaya mencapai prestasi yang lebih besar dan lebih tinggi.
5.  Tidak Mudah Menyerah
Hambatan seringkali muncul serta kegagalan tidak jarang terjadi dalam usaha mencapai prestasi. Itu sebenarnya adalah hal yang biasa dalam liku-liku mencapai prestasi. Akan tetapi, kenyataannya, banyak orang menyerah begitu menemui hambatan berat atau mengalami kegagalan. Oleh karena menyerah, usaha per-buruan dan pencapaian prestasi pun menjadi kandas dan berakhir.
Padahal, hambatan sesungguhnya dapat diatasi serta kegagalan pun dapat dijadikan pelajaran. Untuk mencapai prestasi tinggi, kendala dan kegagalan hampir senantiasa menghadang. Tidak ada prestasi tinggi, apalagi di tingkat nasional dan internasional, yang tanpa kendala dan ancaman kegagalan.
Para peraih prestasi tinggi di level nasional dan internasional umumnya sudah sangat kenyang dengan hambatan dan kegagalan. Sebelum mencapai prestasi tinggi, mereka dihadang oleh banyak sekali hambatan serta berkali-kali mengalami kegagalan. Namun, berkat sikap tidak mudah menyerah, mereka dapat mengatasi semua hambatan serta dapat mengubah kegagalan menjadi pelajaran dan pemacu semangat sehingga akhirnya berhasil meraih prestasi.
Tak mudah menyerah merupakan sikap yang wajib diambil dalam meraih prestasi. Prestasi, apalagi prestasi tinggi, tidak mungkin diraih dengan mudah dan sekali tempuh. Rasanya hampir mustahil dengan satu kali perjuangan kita langsung dapat mengatasi semua hambatan dan pesaing serta begitu saja dapat meraih prestasi puncak. Kancah perebutan prestasi tinggi penuh dengan persaingan berat serta hambatan dan kegagalan sering menghadang sehingga hanya mereka yang punya sikap tidak mudah menyerahlah yang berpeluang untuk menggapainya.
6.  Berani Mengambil Risiko
Semua usaha mengandung risiko, termasuk usaha meraih prestasi. Risiko yang paling umum dalam melakukan usaha tidak lain adalah kegagalan. Kegagalan kecil atau besar dapat dialami oleh siapa saja yang mencoba merintis usaha mewujudkan sesuatu. Kegagalan selalu membayang-bayangi setiap usaha.
Selain risiko kegagalan, dalam upaya meraih prestasi juga ada risiko-risiko lain yang akan muncul. Risiko yang dimaksud tidak sekadar menjadi kemungkinan yang dapat terjadi, tetapi benar-benar akan terjadi. Risiko-risiko tersebut tidak lain adalah mengeluarkan tenaga dan biaya, mengorbankan waktu dan kesempatan bermain, memeras keringat dan pikiran, dan sebagainya. Risiko-risiko ini mau tidak mau harus dialami dalam usaha mencapai prestasi.
Dengan demikian, upaya meraih prestasi harus dilandasi kesadaran bahwa risiko kegagalan menjadi bagian yang tak terpisahkan. Kesadaran seperti ini akan menumbuhkan sikap berani mengambil risiko. Keberanian mengambil risiko akan memberikan kekuatan tersendiri karena dapat melenyapkan keragu-raguan dan kecemasan serta memicu tumbuhnya semangat yang lebih kuat dalam upaya meraih prestasi.
7.  Belajar dari Pengalaman
Ada sebuah ungkapan klise, tetapi sungguh memberi manfaat yang nyata. Ungkapan itu adalah “Pengalaman merupakan guru yang baik”. Tak diragukan lagi, pengalaman merupakan sumber pembelajaran yang penting dalam meraih sukses pada masa depan.
Pengalaman di sini merujuk pada kejadian-kejadian masa lalu yang pernah dialami. Pengalaman, apa pun bentuknya, baik keberhasilan maupun kegagalan, dapat menjadikan kita lebih matang, dewasa, dan mumpuni. Dengan berkali-kali mengalami kejadian (kesuksesan dan kegagalan), kita akan lebih kuat secara fisik dan kejiwaan, lebih tegar dalam menghadapi tantangan, serta lebih bijaksana dalam mengambil sikap dan tindakan.
Oleh sebab itu, belajar dari pengalaman adalah hal yang harus dilakukan dalam upaya meraih prestasi. Jika suatu saat kamu pernah mengalami (peristiwa) kegagalan dalam sebuah lomba; dengan belajar sungguh-sungguh dari kejadian itu, kamu pasti akan lebih siap dan lebih tangguh dalam menghadapi lomba serupa untuk yang akan datang. Belajar dari pengalaman akan membuat langkahmu ke depan lebih hati-hati, waspada, terukur, dan terkontrol. Strategi untuk mengatasi segala kendala dan tantangan juga akan lebih mantap. Dengan begitu, peluang kamu untuk mencapai sukses dalam lomba itu menjadi lebih terbuka.
Pengalaman yang dapat dijadikan sumber pembelajaran bukan hanya pengalaman diri sendiri, melainkan juga pengalaman orang lain, terutama pengalaman orang-orang yang sukses dan berprestasi. Dalam banyak hal, pengalaman orang-orang besar yang sukses dan berprestasi mengandung hikmah dan pelajaran yang sangat baik. Dari pengalaman mereka, kita, antara lain, dapat mengambil dan meniru kiat-kiat mereka dalam meraih sukses dan prestasi. Pengalaman orang-orang sukses, jika kita mempelajarinya dengan serius, dapat menginspirasi kita untuk meraih sukses yang serupa.

Meraih Prestasi sesuai dengan Potensi Diri

Sumber: berkahkonveksi.com

Diketahuinya potensi diri menjadi kunci pembuka dimulainya upaya meraih prestasi. Kita dapat segera memulai usaha meraih prestasi begitu kita sudah mengetahui potensi diri. Dengan mengetahui potensi diri, kita dapat membuat perencanaan dan menentukan langkah-langkah yang lebih tepat dalam mengembangkan potensi untuk meraih prestasi.
Dalam memulai usaha mengembangkan potensi untuk meraih prestasi, satu hal harus benar-benar dicamkan bahwa prestasi yang hendak dicapai sesuai dengan potensi atau kemampuan yang dimiliki. Harus dihindari upaya mencapai prestasi di luar bidang potensi atau kemampuan yang dimiliki. Jadi, jika kita tahu bahwa potensi, kemampuan, atau bakat kita ada dalam bidang seni, prestasi yang akan kita raih haruslah dalam bidang seni, jangan dalam bidang lain, seperti olahraga atau teknologi.
Langkah coba-coba untuk berprestasi di luar bidang potensi atau kemampuan merupakan tindakan yang keliru dan sia-sia. Selain merupakan pemborosan waktu, tenaga, dan biaya, langkah seperti itu akan membawa kita pada kegagalan dan keterpurukan. Kita hampir pasti tidak akan mampu bersaing karena kita tidak memiliki modal (potensi) yang cukup, sementara di sisi lain sangat mungkin para pesaing kita terdiri atas orang-orang yang berpotensi karena pada zaman yang kian spesialistis sekarang ini orang cenderung makin menggeluti bidang kemampuannya masing-masing.
Tidak ada manusia superior yang mampu berprestasi dalam semua bidang. Setiap manusia dibekali potensi spesifik tersendiri sehingga usaha untuk meraih prestasi harus disesuaikan dengan potensi yang dimiliki. Berlagak superior  dengan mencoba berprestasi dalam semua atau sebagian besar bidang kehidupan merupakan perbuatan mubazir karena tidak akan pernah mampu dilakukan oleh manusia yang wajar dan normal.