Jumat, 09 April 2021

Pembentukan BPUPKI

Oleh Akhmad Zamroni



Pada awal tahun 1940-an, kehadiran Jepang sebagai imperialis di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara cukup perkasa. Melalui serangan mendadak dan mematikan terhadap pangkalan militer Pearl Harbour di Samudra Pasifik, mereka sempat membuat Amerika Serikat (pemilik Pearl Harbour) goyah dan kelabakan. Akan tetapi, keperkasaan Jepang tidak berlangsung lama. Memasuki perte-ngahan tahun 1940-an, kekuatan dan kedudukan Jepang mulai goyah. Di berbagai pertempuran di kawasan Pasifik, Jepang mengalami kekalahan telak dari Sekutu yang dipimpin Amerika Serikat.

Kegoyahan Jepang berimbas pada kedudukan dan keberadaannya di Indonesia. Melalui pergulatan dilematis antara ingin mendapatkan dukungan dari rakyat Indonesia (dalam menghadapi Sekutu) atau memberikan kemerdekaan kepada Indonesia, Jepang akhirnya memutuskan untuk membentuk badan yang diberi tugas mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Pada akhir April 1945, tepatnya tanggal 29 April (sumber lain menyebut tanggal 28 April), pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia akhirnya membentuk Dokuritsu Junbi Cosakai,  yakni Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Tujuan pembentukan badan ini ialah menyelidiki dan mempelajari hal-hal penting yang berkaitan dengan upaya pembentukan negara Indonesia merdeka. Radjiman Wedyodiningrat ditunjuk dan diangkat menjadi ketua BPUPKI, sedangkan Pandji Soeroso diangkat menjadi wakil ketua.


Sidang BPUPKI tanggal 10-17 Juli 1945
(http://3.bp.blogspot.com-https id.wikipedia.org) 

BPUPKI beranggotakan 62 orang. Mengenai jumlah anggota BPUPKI beberapa sumber sejarah menyebutnya secara berbeda-beda; ada yang menyebut 60 orang,  61 orang, bahkan 67 orang dan 71 orang. Namun, yang jelas, para anggota BPUPKI terdiri atas tokoh-tokoh pergerakan nasional dari berbagai daerah, aliran, dan etnik (Indonesia asli, Arab, Tionghoa, dan Eropa).  Nama-nama anggota BPUPKI selengkapnya dapat dilihat dalam daftar berikut ini.

1.          K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat         (Ketua/anggota)

2.          Pandji Soeroso                                     (Wakil Ketua/anggota)

3.    Ki Hadjar Dewantara                              (Anggota)

4.    Ki Bagoes Hadikoesoemo                      (Anggota)

5.    H. Agus Salim                                       (Anggota)

6.    Soekarno                                              (Anggota)

7.    Mohammad Hatta                                  (Anggota)

8.    Muhammad Yamin                                (Anggota)

9.    Soepomo                                               (Anggota)

10.  K.H. Masykur                                         (Anggota)

11.  R. Otto Iskandardinata                           (Anggota)

12.  A. Soebardjo                                          (Anggota)

13.  A.A. Maramis                                         (Anggota)

14.  K.H.A. Wachid Hasyim                           (Anggota)

15.  K.H.M. Mansyur                                     (Anggota)

16.  Koesoema Atmadja                                (Anggota)

17.  A.K. Muzakkir                                         (Anggota)

18. Oei Tiang Tjoei                                        (Anggota)

19.  Oey Tjong Hauw                                     (Anggota)

20.  M. Soetardjo Kartohadikoesoemo         (Anggota)

21.  K.H. Abdulhalim                                    (Anggota)

22.  R. Soedirman                                        (Anggota)

23. P.A. Djajadiningrat                                (Anggota)

24.  R.A. Munandar                                     (Anggota)

25.  R.M. Margono                                      (Anggota)

26.  B.P.H. Bintoro                                       (Anggota)

27.  R. Roeseno                                           (Anggota)

28.  R. Pandji Singgih                                  (Anggota)

29.  B.P.H. Poeroebojo                                (Anggota)

30.  Abdulrahim Pratalykrama                     (Anggota)

31.  Ny. Maria Ulfah Santosa                        (Anggota)

32.  R.M.T.A. Soerjo                                    (Anggota)

33.  R. Roeslan Wongsokoesoemo              (Anggota)

34. R. Soesanto Tirtoprodjo                        (Anggota)

35.  Ny. Soenarjo Mangoenpoespito            (Anggota)

36.  R. Boentaran Martoatmodjo                  (Anggota)

37.  Liem Koen Hian                                    (Anggota)

38.  R. Latuharhary                                     (Anggota)

39.  R. Hendromartono                                (Anggota)

40.  Soekardjo Wirjopranoto                         (Anggota)

41.  R.A.A. Wiranatakoesoema                    (Anggota)

42.  H. Ah. Sanoesi                                      (Anggota)

43. A.M. Dasaad                                          (Anggota)

44.  Tan Ing Hoa                                          (Anggota)

45.  R.M.P. Soerachman Tjokrodisoerjo      (Anggota)

46.  R.A.A. Soemitro Kolopaking                 (Anggota)

47. K.R.M.T.H. Woerjaningrat                      (Anggota)

48. R.D. Asikin Widjajakoesoema                 (Anggota)

49.  Abikoesno Tjokrosoejoso                      (Anggota)

50.  Parada Harahap                                     (Anggota)

51.  R.M. Sartono                                        (Anggota)

52.  K.R.M.A. Sosrodiningrat                       (Anggota)

53.  Soewandi                                              (Anggota)

54.  H. Aris                                                  (Anggota)

55.  P.F. Dahler                                            (Anggota)

56.  Soekiman                                              (Anggota)

57.  K.R.M.T. Wongsonegoro                      (Anggota)

58.  A. Baswedan                                         (Anggota)

59.  Abdul Kadir                                           (Anggota)

60.  Samsi                                                   (Anggota)

61.  R. Samsoedin                                       (Anggota)

62.  R. Sastromuljono                                  (Anggota)


Minggu, 04 April 2021

Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara

Oleh Akhmad Zamroni

Garuda Pancasila Garuda (https://nasional.kompas.com-Syifa Nuri Khairunnisa) 


Pancasila sebagai dasar negara  disepakati secara nasional  sehari setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Tepat dan resminya, Pancasila ditetapkan menjadi dasar negara  pada tanggal 18 Agustus 1945, bersamaan dengan ditetapkannya Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai undang-undang dasar atau konstitusi negara oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Seperti kita ketahui, dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terdapat Pembukaan (Preambule) yang menyebutkan negara Indonesia didasarkan pada lima hal (sila).

Penetapan Pancasila sebagai dasar negara dilakukan dengan pertimbangan yang matang oleh para tokoh dan pemimpin bangsa Indonesia yang tergabung dalam BPUPKI dan PPKI. Pertimbangan  utamanya  adalah Pancasila merupakan kumpulan nilai yang khas milik bangsa Indonesia. Artinya, sila-sila yang terdapat di dalam Pancasila bersumber dari kehidupan dan kepribadian asli bangsa Indonesia, yang telah menyatu sejak zaman dahulu, jauh sebelum Indonesia merdeka dan sebelum Pancasila itu sendiri ditetapkan sebagai dasar negara.

Lalu, bagaimanakah sesungguhnya sejarah dan proses perumusan Pancasila menjadi dasar negara? Apa dan bagaimana dinamika yang terjadi dalam keseluruhan sejarah dan proses perumusan Pancasila menjadi dasar negara? Siapa sajakah tokoh-tokoh yang berperan dalam proses perumusan tersebut? Kegiatan perumusan dasar negara tentu merupakan peristiwa dan proses yang sangat krusial bagi sebuah negara karena hal itu akan sangat menentukan nasib, kelangsungan hidup, dan masa depan negara yang bersangkutan. Oleh karena begitu penting dan krusialnya, proses tersebut tidak jarang diwarnai oleh tarik-menarik kepentingan antarpihak (individu dan golongan) yang terlibat di dalamnya. Namun, apakah proses perumusan Pancasila menjadi dasar negara diwarnai oleh dinamika semacam itu ataukah sebaliknya?

Untuk mengetahui hal itu lebih jelas, kita telusuri kembali sejarah perumusan Pancasila yang dilakukan oleh para tokon pendiri negara. Para pendiri negara tidak lain adalah tokoh-tokoh pejuang bangsa kita yang mempelopori upaya penggalian nilai dan moral untuk dijadikan dasar negara. Dasar negara menjadi landasan pokok bagi pembentukan negara yang akan dilakukan setelah berakhirnya penjajahan dan diraihnya kemerdekaan.

Upaya perumusan dasar negara kita sangat terkait dengan saat-saat krusial menjelang tamatnya imperialisme bangsa asing terhadap bangsa kita. Menjelang berakhirnya penjajahan Jepang di Indonesia, dibentuk sebuah badan atau lembaga yang memiliki tugas dan tanggung jawab utama mempersiapkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Badan inilah yang kemudian menjadi tempat penggodokan dan perumusan Pancasila sebagai dasar negara.


A.   Pembentukan BPUPKI

Pada awal tahun 1940-an, kehadiran Jepang sebagai imperialis di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara cukup perkasa. Melalui serangan mendadak dan mematikan terhadap pangkalan militer Pearl Harbour di Samudra Pasifik, mereka sempat membuat Amerika Serikat (pemilik Pearl Harbour) goyah dan kelabakan. Akan tetapi, keperkasaan Jepang tidak berlangsung lama. Memasuki pertengahan tahun 1940-an, kekuatan dan kedudukan Jepang mulai goyah. Di berbagai pertempuran di kawasan Pasifik, Jepang mengalami kekalahan telak dari Sekutu yang dipimpin Amerika Serikat.

Kegoyahan Jepang berimbas pada kedudukan dan keberadaannya di Indonesia. Melalui pergulatan dilematis antara ingin mendapatkan dukungan dari rakyat Indonesia (dalam menghadapi Sekutu) atau memberikan kemerdekaan kepada Indonesia, Jepang akhirnya memutuskan untuk membentuk badan yang diberi tugas mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Pada akhir April 1945, tepatnya tanggal 29 April (sumber lain menyebut tanggal 28 April), pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia akhirnya membentuk Dokuritsu Junbi Cosakai,  yakni Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Tujuan pembentukan badan ini ialah menyelidiki dan mempelajari hal-hal penting yang berkaitan dengan upaya pembentukan negara Indonesia merdeka. Radjiman Wedyodiningrat ditunjuk dan diangkat menjadi ketua BPUPKI, sedangkan Pandji Soeroso diangkat menjadi wakil ketua.


Radjiman (kanan) dan Pandji Soeroso (kiri) (https://direktoratk2krs.kemsos.go.id-IKPNI-https://www.minews.id)

BPUPKI beranggotakan 62 orang. Mengenai jumlah anggota BPUPKI beberapa sumber sejarah menyebutnya secara berbeda-beda; ada yang menyebut 60 orang,  61 orang, bahkan 67 orang dan 71 orang. Namun, yang jelas, para anggota BPUPKI terdiri atas tokoh-tokoh pergerakan nasional dari berbagai daerah, aliran, dan etnik (Indonesia asli, Arab, Tionghoa, dan Eropa). Nama-nama anggota BPUPKI selengkapnya dapat dilihat dalam daftar berikut ini.

1.        K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat          (Ketua/anggota)

2.        Pandji Soeroso                                     (Wakil Ketua/anggota)

3.    Ki Hadjar Dewantara                              (Anggota)

4.    Ki Bagoes Hadikoesoemo                      (Anggota)

5.    H. Agus Salim                                        (Anggota)

6.    Soekarno                                               (Anggota)

7.    Mohammad Hatta                                  (Anggota)

8.    Muhammad Yamin                                (Anggota)

9.    Soepomo                                               (Anggota)

10.  K.H. Masykur                                         (Anggota)

11.  R. Otto Iskandardinata                           (Anggota)

12.  A. Soebardjo                                          (Anggota)

13.  A.A. Maramis                                         (Anggota)

14.  K.H.A. Wachid Hasyim                           (Anggota)

15.  K.H.M. Mansyur                                     (Anggota)

16.  Koesoema Atmadja                                (Anggota)

17.  A.K. Muzakkir                                         (Anggota)

18.  Oei Tiang Tjoei                                        (Anggota)

19.  Oey Tjong Hauw                                      (Anggota)

20.  M. Soetardjo Kartohadikoesoemo           (Anggota)

21.  K.H. Abdulhalim                                      (Anggota)

22.  R. Soedirman                                          (Anggota)

23.  P.A. Djajadiningrat                                  (Anggota)

24.  R.A. Munandar                                        (Anggota)

25.  R.M. Margono                                         (Anggota)

26.  B.P.H. Bintoro                                         (Anggota)

27.  R. Roeseno                                             (Anggota)

28.  R. Pandji Singgih                                    (Anggota)

29.  B.P.H. Poeroebojo                                  (Anggota)

30.  Abdulrahim Pratalykrama                       (Anggota)

31.  Ny. Maria Ulfah Santosa                         (Anggota)

32.  R.M.T.A. Soerjo                                      (Anggota)

33.  R. Roeslan Wongsokoesoemo                (Anggota)

34.  R. Soesanto Tirtoprodjo                          (Anggota)

35.  Ny. Soenarjo Mangoenpoespito              (Anggota)

36.  R. Boentaran Martoatmodjo                    (Anggota)

37.  Liem Koen Hian                                       (Anggota)

38.  R. Latuharhary                                         (Anggota)

39.  R. Hendromartono                                   (Anggota)

40.  Soekardjo Wirjopranoto                           (Anggota)

41.  R.A.A. Wiranatakoesoema                        (Anggota)

42.  H. Ah. Sanoesi                                          (Anggota)

43.  A.M. Dasaad                                             (Anggota)

44.  Tan Ing Hoa                                              (Anggota)

45.  R.M.P. Soerachman Tjokrodisoerjo          (Anggota)

46.  R.A.A. Soemitro Kolopaking                      (Anggota)

47.  K.R.M.T.H. Woerjaningrat                          (Anggota)

48.  R.D. Asikin Widjajakoesoema                    (Anggota)

49.  Abikoesno Tjokrosoejoso                          (Anggota)

50.  Parada Harahap                                         (Anggota)

51.  R.M. Sartono                                             (Anggota)

52.  K.R.M.A. Sosrodiningrat                            (Anggota)

53.  Soewandi                                                   (Anggota)

54.  H. Aris                                                       (Anggota)

55.  P.F. Dahler                                                 (Anggota)

56.  Soekiman                                                   (Anggota)

57.  K.R.M.T. Wongsonegoro                           (Anggota)

58.  A. Baswedan                                              (Anggota)

59.  Abdul Kadir                                                (Anggota)

60.  Samsi                                                        (Anggota)

61.  R. Samsoedin                                            (Anggota)

62.  R. Sastromuljono                                       (Anggota)


B.   Peran Para Pendiri Negara dalam Perumusan Dasar Negara

Setelah sekitar satu bulan terbentuk, BPUPKI segera menggelar sidang. Tercatat BPUPKI dua kali mengadakan sidang. Sidang pertama digelar pada tanggal 29 Mei–1 Juni 1945, sedangkan sidang kedua digelar pada tanggal 10–17  Juli 1945. Pada sidang pertama itulah para anggota BPUPKI membahas pembentukan dasar negara.

Dalam sidang pertama, pembahasan dasar negara dipandang perlu dilakukan karena dasar negara akan menjadi jiwa (menjiwai) undang-undang dasar (konstitusi) yang akan dibentuk pada sidang selanjutnya (sidang kedua). Dalam sidang ini, para anggota BPUPKI mengambil peranan yang penting dalam perumusan dasar negara. Dan, di antara para anggota yang jumlahnya puluhan, beberapa orang tokoh memegang peranan kunci karena gagasan-gagasannya dalam perumusan dasar negara.


Sidang BPUPKI  29 Mei-1 Juni 1945
(http://tugino230171.files.wordpress.com-https://id.wikipedia.org) 

Tiga orang tokoh tercatat memberikan gagasan-gagsannya yang cemerlang tentang nilai-nilai yang dapat dijadikan sumber atau rujukan untuk merumuskan dasar negara. Mereka adalah Muhammad Yamin, Soepomo,  dan Soekarno. Dalam sidang pertama, yang berlangsung selama tiga hari itu, mereka mengemukakan pandangan-pandangannya seputar dasar negara. Berikut ini dipaparkan pandangan-pandangan ketiga tokoh tersebut.

1.   Dalam sidang hari pertama pada tanggal 29 Mei 1945, Muhammad Yamin melalui pidatonya menyampaikan lima butir pokok pikiran yang disebutnya sebagai “Lima Asas Dasar Negara Kebangsaan Republik Indonesia”.  Kelima asas  yang dikemukakan ahli hukum yang juga dikenal sebagai sastrawan ini adalah (1) peri kebangsaan, (2) peri kemanusiaan, (3) peri ketuhanan, (4) peri kerakyatan, dan (5) kesejahteraan rakyat.

2.   Dalam sidang tanggal 31 Mei 1945,  giliran Soepomo  tampil menyampaikan pandangan-pandangannya. Ahli hukum tata negara ini menyampaikan lima prinsip dasar negara yang dinamakan sebagai “Dasar Negara Indonesia Merdeka”. Kelima prinsip itu ialah (a) persatuan, (b) kekeluargaan, (c) keseimbangan lahir-batin, (d) musyawarah, dan (e) keadilan rakyat.  Sumber lain menyebutkan, hal pokok yang disampaikan Soepomo adalah perlunya dibentuk negara integralistik yang berdasarkan (a) paham negara persatuan, (b) perhubungan negara dan agama, (c) sistem badan permusyawaratan, (d) sosialisme negara, dan (e) hubungan antarbangsa.

3.   Adapun dalam sidang tanggal 1 Juni 1945, lewat pidatonya, Soekarno juga menyampaikan lima pokok pikiran. Kelimanya ialah (a) kebangsaan Indonesia, (b) internasionalisme atau peri kemanusiaan, (c) mufakat atau demokrasi, (d) kesejahteraan sosial, dan (e) Ketuhanan Yang Maha Esa. Atas saran seorang ahli bahasa, melalui pidatonya Soekarno menamakan lima hal tersebut sebagai “Pancasila”.

Sembari menunggu digelarnya sidang kedua, seusai sidang pertama BPUPKI tersebut, dibentuk sebuah panitia kecil. Panitia ini beranggotakan sembilan orang sehingga diberi nama “Panitia Sembilan”.  Panitia yang diketuai Soekarno ini beranggotakan Mohammad Hatta, Agus Salim, Wachid Hasyim, A.A. Maramis, Achmad Soebardjo, Abdulkahar Muzakkir, Abikoesno Tjokrosoejoso, dan Muhammad Yamin.


Panitia Sembilan BPUPKI (https://www.faktatokoh.com) 


Setelah melalui serangkaian pertemuan dan pembicaraan intensif, pada tanggal 22 Juni, Panitia Sembilan menghasilkan sebuah keputusan penting. Keputusan ini dituangkan ke dalam sebuah dokumen yang dinamakan “Piagam Jakarta”  (“Jakarta Charter”). Dokumen ini akan dijadikan pendahuluan atau pembuka dalam undang-undang dasar yang akan dibentuk kemudian. Dokumen berisi butir-butir pemikiran yang terdiri atas empat alinea. Menurut dokumen ini, seperti tertuang dalam alinea keempatnya, dasar negara Indonesia terdiri atas lima aspek sebagai berikut:

1.  ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya,

2.  kemanusiaan yang adil dan beradab, 

3.  persatuan Indonesia, 

4.  kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan

5.  keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.


Salinan Piagam Jakarta atau Jakarta Charter (https://tajdid.id) 


Walaupun bersifat sementara, rancangan pemikiran tersebut disepakati secara bulat oleh semua anggota BPUPKI. Untuk selanjutnya, rancangan akan dimatangkan dalam sidang kedua BPUPKI. Pada tanggal 10 Juli 1945, sidang kedua digelar dengan agenda pokok membahas rancangan undang-undang dasar.  Untuk keperluan ini, BPUPKI membentuk panitia yang diberi nama Panitia Perancang dan kembali diketuai oleh Soekarno. Panitia Perancang sepakat menjadikan dokumen Piagam Jakarta sebagai pembukaan (preambule) undang-undang dasar serta kemudian melalui kelompok kerja yang diketuai oleh Soepomo, Panitia Perancang berhasil menelurkan sebuah konsep undang-undang dasar.

Dalam sidang BPUPKI tanggal 14 Juli 1945, Soekarno melaporkan hasil kerja Panitia Perancang yang dipimpinnya. Laporan yang disampaikannya terdiri atas tiga hal pokok. Ketiga hal pokok itu ialah sebagai berikut:

a.   pernyataan Indonesia merdeka,

b.   pembukaan undang-undang dasar, dan

c.   undang-undang dasar (batang tubuh).


C.  Pembentukan PPKI dan Kontroversi Seputar Rumusan Dasar Negara (Piagam Jakarta)

Dengan selesainya perumusan dasar negara dan undang-undang dasar (konstitusi), selesai juga tugas dan tanggung jawab BPUPKI. Hasil kerja BPUPKI selanjutnya diserahkan kepada pemerintah kolonial Jepang untuk ditindaklanjuti. Kemudian, BPUPKI  pun pada tanggal 7 Agustus 1945 dibubarkan.

Pada hari yang sama, Jepang mengumumkan akan dibentuknya badan baru pengganti BPUPKI. Keputusan ini dikeluarkan oleh Jenderal Terauchi, panglima angkatan bersenjata Jepang untuk Asia Tenggara. Pada tanggal 9 Agustus 1945, badan baru itu dibentuk dengan nama Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI (dalam bahasa Jepang disebut Dokuritsu Junbi Iinkai). Pada hari itu juga (9 Agustus 1945) diangkat dan dilantik Soekarno sebagai ketua PPKI serta Mohammad Hatta sebagai wakil ketua. Pelantikan dilakukan oleh Jenderal Terauchi di Da Lat (Vietnam). 


Soekarno-Hatta (pinterest.combaron andrie-ellevenphotowork) 


PPKI diberi tugas dan tanggung jawab untuk menindaklanjuti hasil-hasil keputusan BPUPKI. Ketika dibentuk, anggota PPKI berjumlah 21 orang. Namun, setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, jumlah anggotanya ditambah lagi  dengan enam anggota baru sehingga jumlah keseluruhannya menjadi 27 orang.

Penambahan enam anggota baru dilakukan tanpa sepengetahuan Jepang dan sepenuhnya atas inisiatif dan tanggung jawab ketua PPKI dengan dukungan para anggota. Penambahan anggota dimaksudkan untuk mengubah PPKI menjadi badan nasional yang lebih mencerminkan Indonesia dan tidak lagi sepenuhnya pemberian Jepang. Daftar ke-27 anggota PPKI tersebut selengkapnya sebagai berikut (nama pada nomor 22–27 merupakan anggota baru).

1.        Soekarno                                               (Ketua/anggota)                       

2.    Mohammad Hatta                                  (Wakil Ketua/anggota)

3.    K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat           (Anggota)

4.    Soepomo                                               (Anggota)

5.    Bagoes Hadikoesoemo                          (Anggota)

6.    Otto Iskandardinata                               (Anggota)

7.    Kasman Singodimedjo                          (Anggota)

8.    Achmad Soebardjo                                (Anggota)

9.    Wachid Hasyim                                     (Anggota)

10.  Sam Ratulangi                                       (Anggota)

11.  Pandji Soeroso                                      (Anggota)

12.  Iwa Koesoema Soemantri                      (Anggota)

13.  Sayuti Melik                                           (Anggota)

14.  J. Latuharhary                                       (Anggota)

15.  Ki Hadjar Dewantara                              (Anggota)

16.  B.P.H. Poeroebojo                                 (Anggota)

17.  Pangeran Soerjohamidjojo                    (Anggota)

18.  Soetardjo Kartohadikoesoemo               (Anggota)

19.  Abdul Kadir                                            (Anggota)

20.  Abdul Abbas                                          (Anggota)

21.  Mohammad Amir                                   (Anggota)

22.  Mohammad Hassan                               (Anggota)

23.  Yap Tjwan Bing                                      (Anggota)

24.  Andi Pangeran                                        (Anggota)

25.  Hamdhani                                               (Anggota)

26.  I Gusti Ketut Pudja                                  (Anggota)

27.  Wiranatakoesoema                                 (Anggota)



Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, atas desakan para pemuda, pada tanggal 17 Agustus 1945 duet tokoh Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sehari kemudian, yakni tanggal 18 Agustus 1945, PPKI mengadakan sidang pleno. Sidang dipimpin Soekarno dan Mohammad Hatta dengan dihadiri semua anggota. Menjelang sidang dimulai, Soekarno dan Hatta meminta empat anggota PPKI dari kalangan Islam, yakni Wachid Hasyim, Kasman Singodimedjo, Mohammad Hassan, dan Bagoes Hadikoesoemo, untuk membahas persoalan atau kontroversi yang timbul pada rancangan pembukaan undang-undang dasar yang diambil dari Piagam Jakarta.

Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945
(Osman Ralliby-Dokumentasi Historica, Penerbit Bulan-Bintang, Djakarta) 


Persoalan yang dimaksud menyangkut rumusan dasar negara butir pertama yang tercantum pada alinea keempat pembukaan undang-undang dasar, yang berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Rumusan   ini menimbulkan keberatan di kalangan tokoh-tokoh  penganut agama non-Islam serta tokoh dari Indonesia bagian Timur. Mereka yang merasa keberatan, antara lain, Sam Ratulangi (wakil Sulawesi), Tadjoedin Noor dan Pangeran Noor (wakil Kalimantan), I Ketut Pudja (wakil Nusa Tenggara), dan Latuharhary (wakil Maluku). Menurut hemat mereka, rumusan itu kurang mencerminkan kemajemukan rakyat Indonesia sebab hanya mewadahi kalangan Islam, sementara sebagian rakyat Indonesia lain menganut agama yang berbeda.

Untuk memenuhi instruksi pemimpin sidang, Wachid Hasyim, Kasman Singodimedjo, Mohammad Hassan, dan Bagoes Hadikoesoemo kemudian menggelar rapat atau diskusi terpisah dengan dipimpin oleh Hatta. Hanya dalam waktu kurang dari 20 menit mereka akhirnya sepakat untuk mengubah rumusan yang bermasalah itu. Mereka setuju untuk menghapus kata-kata “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dan menggantinya dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.