Rabu, 04 November 2020

Kasus Terpilihnya Donald Trump Empat Tahun Lalu: Ketika Demokrasi Mengalami Anomali

Oleh  Akhmad Zamroni


Donald Trump Vs Joe Biden dalam pemilihan presiden AS 2020 (Sumber: Liputan6.com-Trie Yasni) 

Mengapa orang seperti Donald Trump bisa menjadi presiden? Mengapa tokoh kontroversial yang, menurut hasil survei banyak media, tidak disukai oleh banyak kalangan, termasuk oleh rakyatnya sendiri, ini bisa memenangkan pemilihan presiden di negara yang mengklaim diri sebagai kampiun demokrasi? Apakah proses pemilihan presiden Amerika Serikat yang memunculkan dia menjadi presiden benar-benar berlangsung bersih dan demokratis?

Kehadiran Trump dalam perpolitikan Amerika Serikat (AS) khususnya dan dunia umumnya memicu tanda tanya besar. Terpilihnya dia sebagai presiden AS menimbulkan rasa aneh di hati dan pikiran ratusan juta dan mungkin miliaran orang di seluruh dunia. Kemunculannya sebagai orang nomor satu di AS juga menimbulkan ketidaksenangan dan antipati di berbagai belahan dunia, termasuk juga di dalam negeri AS sendiri.

Dalam pandangan masyarakat internasional, Donald Trump bukanlah seorang demokrat: ia tidak menganut dan menerapkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai demokrasi dengan baik sebagaimana mestinya. Ia juga bukan tokoh yang menghargai dan menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM). Kampanye-kampanyenya menjelang pemilihan presiden serta kebijakan-kebijakannya setelah menjadi presiden dengan gamblang memperlihatkan bahwa ia adalah seorang politikus yang intoleran dan diskriminatif.

Pengusaha yang memiliki rumah judi (kasino) dan beberapa kali kepergok melakukan pelecehan terhadap wanita itu berkali-kali menyatakan ketidaksukaannya dan sikap antipatinya terhadap Islam. Hanya karena beberapa peristiwa teror mengatasnamakan Islam, ia membuat generalisasi bahwa Islam itu negatif dan berbahaya sehingga perlu diwaspadai dan dibatasi. Ia tidak bisa bersikap seperti kebanyakan atau hampir semua kepala negara di dunia yang menganggap bahwa di luar beberapa kelompok teroris yang mengatasnamakan Islam, Islam di banyak tempat di dunia mampu memperlihatkan wajah yang toleran, bersahabat, dan damai, sehingga generalisasi bahwa Islam itu buruk dan jahat sangatlah tidak tepat. Ia juga gencar memojokkan dan menyerang kaum imigran. Tanpa rasa malu dan sadar diri bahwa ia dan kaum kulit putih di Amerika Serikat juga merupakan kaum pendatang (imigran), ia menyatakan akan menolak atau menyeleksi dengan sangat ketat kaum imigran di AS.

Dengan sikapnya yang penuh prasangka, diskriminatif, rasis, tidak menghargai kebebasan, dan paranoid tersebut, Trump dengan cepat terbentuk menjadi figur kontroversial yang dianggap oleh banyak kalangan tidak pantas menjadi pemimpin negara sebesar AS. Masyarakat AS sendiri tidak sedikit yang menganggapnya sebagai presiden terburuk dalam sejarah AS. Masyarakat internasional dan sebagian masyarakat AS kini sepertinya justru memasukkan dia sebagai “figur yang berbahaya dan perlu terus dikawal kebijakan-kebijakannya.”

Persoalannya adalah kembali pada pertanyaan awal: mengapa ia bisa terpilih menjadi presiden AS? Bagaimana sistem demokrasi di AS yang sangat canggih, mapan, dan begitu dikagumi masyarakat dunia bisa meloloskan orang seperi dia? Apakah ada kesalahan dalam sistem demokrasi di AS sehingga tokoh sekontroversial Trump bisa masuk bursa calon presiden AS?


Pemilihan presiden AS tahun 2020 (Sumber: Mario Tama-Getty Images via AFP) 


Kasus Trump menunjukkan bahwa sistem yang demokratis tidak selamanya mampu melahirkan pemimpin yang berintegritas serta menghargai HAM dan demokrasi itu sendiri. Terpilihnya dia sebagai presiden menunjukkan bahwa (sistem) demokrasi yang sangat canggih dan kredibel pun ternyata masih mengandung kelemahan. Dengan kata lain, demokrasi yang dipuja-puja dan dianggap sebagai sitem politik dan kehidupan yang paling baik tetap saja dapat mengalami anomali.

Terlepas dari masalah keteledoran Partai Republik untuk meloloskan dia menjadi kandidat presiden, kasus Trump dengan telak memperlihatkan ketidakakuratan dan ketidakcanggihan sistem demokrasi dalam melakukan seleksi calon pemimpin. Kelemahan ini agaknya bermula dari rekrutmen calon pemimpin yang tidak tepat akibat subjektivitas berlebihan yang terjadi pada partai politik dan massa pendukung kandidat. Partai politik tempat Trump bernaung, yakni Partai Republik, serta massa pendukungnya, walaupun hidup di negeri yang demokrasinya sudah sangat mapan, tampaknya kali ini tidak mampu melepaskan diri dari primordialisme sempit sehingga tokoh yang berkarakter rasis dan tidak menghargai HAM seperti Trump tetap saja mereka dukung. Dan terlepas dari persoalan money politics  yang bisa saja terjadi, mereka yang memiliki kepentingan untuk mengutamakan kelompok ras atau agamanya menganggap Trump sebagai orang yang tepat untuk dijadikan amunisi sekaligus meriam perjuangan.

Adapun perihal rumor intervensi Rusia dalam pemilihan presiden AS yang, konon dengan retasannya mampu “memenangkan” Trump sebagai presiden, masih menjadi tanda tanya besar serta kemungkinannya menjadi faktor penentu utama kemenangan Trump tidaklah signifikan. Melalui retasannya ke sistem IT pemilihan presiden AS, mungkinkah Rusia mampu memobilisasi rakyat AS untuk memilih Trump? Mungkinkah rakyat AS demikian gampangnya dibodohi oleh Rusia? Mungkin saja itu terjadi, tetapi jika rakyat AS sejak semula dan pada dasarnya menghendaki pemimpin yang demokratis, toleran, dan tidak diskriminatif, usaha apa pun untuk mengalihakan atau memanipulasi aspirasi mereka tetap saja akan gagal dan mereka tentu tidak akan memilih Trump. Namun, kenyataannya Trump menjadi pemenang sehingga menjadi sulit untuk ditampik bahwa aspirasi sebagian warga AS telah terkontaminasi oleh subjektivitas dan primordialisme.

Hal itu membuktikan bahwa demokrasi yang tidak didukung oleh objektivitas dan toleransi dapat mengalami blunder  dan anomali. Sebagai sistem, demokrasi jelas sangat baik untuk mewadahi kepentingan dan nasib semua suku, ras, penganut agama, dan semua kelompok manusia karena demokrasi mengharuskan adanya persamaan hak dan kewajiban untuk semua urusan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Namun, demokrasi hanyalah sebuah sistem yang dijalankan oleh sekumpulan manusia, yang jika sebagian dari kumpulan manusia itu keliru (subjektif, intoleran, diskriminatif, dan sejenisnya) dalam bersikap, berperilaku, dan mengambil kebijakan, demokrasi bisa menjadi bumerang yang berbahaya. Demokrasi yang dijalankan dengan cara demikian dapat menjelma menjadi otoritarianisme yang menindas dan destruktif.

Dan kini, hipotesis itu mulai memperlihatkan kebenarannya melalui perilaku kekuasaan Trump. Beberapa perkembangan terakhir menunjukkan, Trump dengan jelas memperlihatkan sifat tangan besi dan otoriternya. Ia dengan sewenang-wenang memecat Direktur FBI, James Comey, yang tengah menyelidiki kemungkinan tim kampanye Trump menjalin hubungan dengan pihak Rusia selama masa kampanye pemilihan presiden serta menginvestigasi kasus orang terdekat Trump, yakni Michael Flynn (Penasihat Keamanan Nasional), yang terbukti berbohong kepada Mike Pence (Wakil Presiden) dan diduga melakukan pertemuan rahasia dengan intelijen Turki. Terakhir, Trump juga diduga kuat membocorkan informasi sangat rahasia dan sensitif milik AS kepada Rusia.

Kini pertanyaan lain muncul: mungkinkah Trump tergusur dari jabatannya sebagai presiden dan demokrasi akan kembali pulih di AS? Jika demokrasi menemukan bentuknya kembali yang murni dan utuh di AS, kepemimpinan dan sepak terjang Trump tentunya akan segera berakhir. Demokrasi tidak bisa berjalan beriringan dengan kepemimpinan yang otoriter.

Wallahu a’lam bissawab.

 

The Case of the Election of Donald Trump Four Years Ago: When Democracy Experienced Anomaly

 By  Akhmad Zamroni


Trump vs Biden (Source: Reuters)


Why did someone like Donald Trump become president? Why is this controversial figure who, according to a survey by many media, is disliked by many circles, including his own people, able to win the presidential election in a country that claims to be the champion of democracy? Did the election process for the president of the United States that resulted in him becoming president really run clean and democratic?

Trump’s presence in the politics of the United States (US) in particular and the world in general raises a big question mark. His election as US president caused a strange feeling in the hearts and minds of hundreds of millions and possibly billions of people around the world. His emergence as the number one person in the US has also generated resentment and antipathy in various parts of the world, including within the US.

In the view of the international community, Donald Trump is not a democrat: he does not properly adhere to and apply democratic principles and values ​​as they should. He is also not a figure who respects and upholds human rights (HAM). His campaigns ahead of the presidential election and his policies after becoming president made it clear that he was an intolerant and discriminatory politician.

The businessman who owns a gambling house (casino) and was caught several times harassing the woman repeatedly expressed his dislike and anti-Islam attitude. Just because several terror incidents acted in the name of Islam, he made a generalization that Islam is negative and dangerous so that it needs to be watched out and limited. He cannot act like most or almost all heads of state in the world who think that outside of several terrorist groups acting in the name of Islam, Islam in many parts of the world is capable of showing a tolerant, friendly, and peaceful face, thus generalizing that Islam is bad and evil. very imprecise. He also aggressively cornered and attacked immigrants. Without shame and self-awareness that he and white people in the United States are also immigrants (immigrants), he stated that he would reject or strictly select immigrants in the US.

With his prejudiced, discriminatory, racist, disrespectful, and paranoid attitude, Trump quickly became a controversial figure whom many considered unworthy of being the leader of a country the size of the US. Not a few Americans themselves consider him the worst president in US history. The international community and parts of the US society now seem to include him as a “dangerous figure and his policies need to be monitored.”

The problem is returning to the original question: why could he be elected president of the US? How could the democratic system in the US which is very sophisticated, well established, and so admired by the world community can pass someone like him? Is there a mistake in the democratic system in the US so that a controversial figure like Trump can enter the US presidential candidate?


United States Presidential Election 2020 (Source: Reuters)

Trump’s case shows that a democratic system is not always able to produce leaders with integrity and respect for human rights and democracy itself. His election as president shows that even a highly sophisticated and credible democracy (system) still contains weaknesses. In other words, democracy that is revered and considered as the best political system and life can still experience anomalies.

Apart from the problem of the Republican Party’s negligence in getting him to become a presidential candidate, Trump’s case clearly demonstrates the inaccuracy and inadequacy of the democratic system in selecting candidate leaders. This weakness apparently stems from the inaccurate recruitment of candidate leaders due to the excessive subjectivity that occurs in political parties and the masses of candidate supporters. The political party where Trump belongs, namely the Republican Party, and the masses of supporters, even though they live in a country where democracy is very well established, it seems that this time they are unable to break away from narrow primordialism so that figures with racist characteristics and do not respect human rights like Trump still support them. And apart from the money politics problem that could occur, those who have an interest in prioritizing racial or religious groups consider Trump the right person to be used as ammunition as well as a battle cannon.

As for the rumors of Russian intervention in the US presidential election which, it is said with hacks were able to “win” Trump as president, is still a big question mark and the possibility of being the main determining factor for Trump’s victory is not significant. Through its hack into the US presidential election IT system, is it possible that Russia will be able to mobilize the US people to elect Trump? Could it be that the people of the US were so easily fooled by Russia? It may happen, but if the American people from the beginning and basically want leaders who are democratic, tolerant, and non-discriminatory, any attempt to outsource or manipulate their aspirations will still fail and they certainly will not vote for Trump. However, in reality Trump became a winner, so it becomes difficult to deny that the aspirations of some US citizens have been contaminated by subjectivity and primordialism.

This proves that democracy which is not supported by objectivity and tolerance can experience blunders and anomalies. As a system, democracy is clearly very good for accommodating the interests and fate of all ethnic groups, races, religious followers, and all human groups because democracy requires equal rights and obligations for all affairs in the life of society, nation and state. However, democracy is only a system run by a group of people, if a part of the human group is wrong (subjective, intolerant, discriminatory, and the like) in behaving, behaving, and making policies, democracy can backfire. Democracy that is carried out in this way can transform into an oppressive and destructive authoritarianism.

And now, that hypothesis is starting to show its truth through Trump’s power behavior. Recent developments show that Trump is clearly showing his iron-fisted and authoritarian nature. He arbitrarily fired FBI Director James Comey, who was investigating the possibility that Trump’s campaign team had a relationship with the Russians during the presidential election campaign as well as investigating the case of Trump’s closest person, Michael Flynn (National Security Advisor), who was proven to have lied to Mike. Pence (Vice President) and is suspected of having a secret meeting with Turkish intelligence. Finally, Trump is also strongly suspected of leaking highly classified and sensitive US information to Russia.

Now another question arises: is it possible that Trump will be removed from office and democracy will recover in the US? If democracy finds its true and full form again in the United States, Trump’s leadership and activities will certainly end soon. Democracy cannot go hand in hand with authoritarian leadership.

Wallahu a’lam bissawab.