Sabtu, 27 Mei 2017

Perjalanan di Pasar

Oleh Akhmad Zamroni

Sesekali aku diajak ibu
jualan pakaian di pasar.
Rasanya senang menyaksikan
orang tawar-menawar dagangan.
“Barang bagus harga tak mahal.
Belilah satu sebelum habis terjual.”
Para pembeli coba menghindar.
“Saya sudah punya dua di rumah.
saat beli harganya jauh lebih murah.”
Dengan mikrofon, tukang obat
tampak bersemangat.
Seraya memainkan sulap, membujuk
orang-orang yang lewat. “Sebotol sepuluh ribu.
Kurang dari seminggu penyakit akan berlalu.”
Rasanya sumpek bercampur gelisah
pengunjung berdengung bak kawanan lebah
dengan sengat tajam yang membuncah.
Hiruk-pikuk pasar membuatku gemetar
mengingatkanku pada cerita kakek
tentang kehidupan para pendekar
bersaing mendapatkan nama besar.
Tetapi, dari ibu aku mengerti
pasar adalah tempat sejati mencari rezeki
di sini orang mendapat untung atau rugi
di sini juga ada jalinan silaturahmi, setiap hari.

Manahan, 11 Oktober 2010

Perjalanan di Sawah

Oleh Akhmad Zamroni

Di sawah aku diajari ayah
membagi dan mengalirkan air
ke petak-petak yang tanahnya retak.
“Lihatlah hamparan tanah ini, Nak!” kata ayah.
“Dari sini kehidupan manusia dimulai.
Di sini pula kehidupan akan berakhir.
Manusia diciptakan Tuhan dari tanah.
Hidup dari memakan bulir-bulir padi
yang tumbuh di sawah. Setelah mati
akan dikembalikan ke dalam tanah.”
Menurut ayah, tanah dan air adalah
anugerah terbesar bagi kehidupan.
Bajak membalik tanah dan air melunakkannya
hingga semula keras menjadi gembur
yang menjelma jadi lahan subur.
Di sawah, aku belajar bergumul dengan lumpur
menyemai bibit dan mengusir burung pipit
merawat padi sembari berusaha sabar
menunggu bulir-bulirnya membesar
hingga dipanen dan dijual di pasar.
“Buatmu kelak ini akan berguna
untuk memahami hidup yang fana.”
Di sawah aku diajari ayah berjalan
dengan lempang dan seimbang
menyusuri pematang
yang cuma selebar batang pisang.
“Buatmu kelak ini akan bermanfaat
untuk menjalani hidup menuju makrifat.”

Manahan, 10 Oktober 2010