Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 September 2019

De Tjolomadoe, Penampilannya Masa Kini Semanis Prestasinya pada Masa Lalu


Oleh Akhmad Zamroni
De Tjolomadoe tampak depan (Sumber: https://www.archdaily.com)

Mesin-mesin giling bergerigi raksasa dilengkapi tabung penampungan berukuran besar mendominasi pemandangan di dalam bangunan yang megah dan bersejarah. Mesin-mesin dari baja yang masih tampak kokoh dengan balutan cat baru warna abu-abu dan keemasan itu dipajang di ruang bangunan kuno dengan langit-langit menjulang tinggi yang telah direnovasi. Mesin berikut bangunan yang yang dibuat dan didirikan pada pertengahan abad ke-19 itu kini tampak lebih baru dan modern, apalagi sebagian ruangannya telah diubah menjadi cafe, toko suvenir, dan gedung pertunjukan.

Di luar bangunan utama terhampar pelataran dan lapangan parkir yang luas, taman bunga dan rumput yang tersebar sporadis, dan sedikit pohon. Beberapa bangunan kantor dan pendapa terlihat di beberapa sudut. Lampu-lampu taman yang tersebar di beberapa titik melengkapi panorama terbuka di kompleks bekas pabrik gula yang kini menjelma destinasi wisata.

Pabrik Gula Colomadu sebelum direnovasi (Sumber: nasional.tempo.co)

Itulah gambaran sepintas De Tjolomadoe, objek wisata baru di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Semula merupakan pabrik gula (PG), kini kompleks pabrik yang beralamat di Jalan Adi Sucipto Nomor 1, Desa Malangjiwan, Kecamatan Colomadu, itu telah direvitalisasi menjadi bangunan megah yang multifungsi. Revitalisasi mengubahnya dari salah satu pusat industri penghasil gula menjadi salah satu pusat destinasi wisata, edukasi sejarah, dan kesenian di kawasan Solo Raya.

Pabrik Gula Colomadu didirikan oleh Mangkunegara IV Surakarta pada tahun 1861. Pernah menyandang predikat sebagai perusahaan penghasil gula terbesar di Asia dan terbesar kedua di dunia –– pada 1928, bahkan pernah menjadi eksportir gula terbesar di dunia –– PG Colomadu akhirnya berhenti beroperasi pada tahun 1997. Setelah kurang terurus selama sekitar 20 tahun, pada tahun 2017 PG Colomadu direnovasi dan direvitalisasi oleh gabungan (konsorsium) beberapa BUMN –– di bawah koordinasi Kementerian BUMN –– menjadi tempat wisata yang khas dan multiguna.

Namanya kemudian diganti menjadi “De Tjolomadoe”. Dapat dikatakan, De Tjolomadoe kini menjadi satu-satunya tempat wisata di Indonesia yang menggabungkan situs sejarah pabrik gula dengan gaya dan impresi wisata modern yang memiliki kelas tersendiri. Sempat menjadi sorotan dan mendapat kritik tajam karena usaha revitalisasinya dianggap kurang memperhatikan nilai budaya dan sejarah, De Tjolomadoe tidak hanya menjadi tempat wisata biasa yang bernuansa historis, melainkan juga menjadi pusat heritage, kesenian, edukasi (sejarah), dan perdagangan (bisnis). De Tjolomadoe kini dikelola oleh PT Sinergi Colomadu.
Stasiun dan Mesin
Bangunan pabrik tetap dipertahankan dengan polesan renovasi masa kini. Cerobong asap yang menjulang tinggi masih tetap berdiri. Mesin-mesin produksi yang terbagi menjadi beberapa stasiun yang dahulu digunakan untuk memproduksi gula dipertahankan sebagai benda cagar budaya yang bahkan menjadi pajangan dan andalan utama De Tjolomadoe sebagai tujuan wisata. Stasiun dengan mesin-mesinnya yang kini sudah dicat dengan warna dominan abu-abu menjadi perhatian dan fokus utama para pengunjung.

Stasiun Gilingan (Sumber: Zamroni-Sadah-Shida)

Untuk masyarakat masa kini yang tidak atau kurang familiar dengan peralatan produksi gula, stasiun dan mesin penghasil gula di De Tjolomadoe jelas terasa unik, eksotis, dan istimewa, apalagi itu berasal dari masa satu setengah abad silam. Terlihat masih sangat kokoh dan gagah –– meski  tidak lagi dengan warna aslinya –– stasiun dan mesin itu menjadi pemandangan yang indah dan cukup menakjubkan. Dibuat saat manusia belum mengenal teknologi digital seperti saat ini, benda-benda itu tampak tak lekang oleh perkembangan zaman.

Stasiun dan mesin dari baja itu, tentu saja, sudah tidak lagi difungsikan untuk memproduksi gula, melainkan untuk memberikan atraksi wisata dan kenyamanan kepada pengunjung. Stasiun terbagi menjadi beberapa bagian dan nama dengan yang paling menonjol adalah Stasiun Gilingan yang difungsikan sebagai museum. Stasiun Gilingan berada di bagian paling depan yang dapat disaksikan oleh pengunjung begitu masuk ke dalam bangunan utama De Tjolomadoe.

Stasiun Penguapan (Sumber: Zamroni-Sadah-Shida)

Ada juga Stasiun Ketelan yang difungsikan untuk restoran dan tempat pameran. Stasiun Penguapan diubah menjadi lorong yang di sisi kanan dan kirinya berjajar kios pakaian dan kuliner. Stasiun Karbonatasi dikhususkan sebagai tempat penjualan kerajinan tangan. Adapun bengkel (besalen) telah difungsikan menjadi kafe.
Pertunjukan Kelas Dunia
Di bagian belakang bangunan utama De Tjolomadoe juga tersedia dua ruangan besar yang dapat digunakan (disewa) oleh masyarakat umum dan korporasi luar. Keduanya masih berada dalam satu ruangan dengan stasiun-stasiun, tetapi terletak di sebelah selatannya dengan disekat dinding khusus. Kedua ruangan itu masing-masing bernama Tjolomadoe Hall dan Sarkara Hall.

Tjolomadoe Hall (Sumber: kompas.com-Kristianto Purnomo)

Tjolomadoe Hall merupakan gedung pertunjukan yang ukuran dan fasilitasnya di atas rata-rata dengan daya tampung 2.500 orang, sedangkan Sarkara Hall merupakan gedung untuk pertemuan dan pernikahan yang berkapasitas 1.500 orang. Tjolomadoe Hall diklaim sebagai gedung pertunjukan atau konser seni yang berkelas dunia. Pertunjukan beberapa artis dunia dan nasional pernah digelar di gedung multifungsi (multifunction hall) ini. Artis yang pernah manggung  di Tjolomadoe Hall, antara lain, David Foster, Brian McKnight, Anggun C. Sasmi, Dira Sugandi, Sandy Sandhoro, dan Yura Yunita.

Tjolomadoe Hall dan Sarkara Hall melengkapi keberadaan De Tjolomadoe sebagai destinasi wisata yang multievent  dan memiliki jangkauan global. Seperti dikemukakan Menteri BUMN, Rini Suwandi, dalam “Hitman David Foster and Friends” 24 Maret 2018, De Tjolomadoe diharapkan dapat menjadi concert hall  terkenal di dunia melalui pengembangan Tjolomadoe Hall.
Semanis Masa Lalu
Pengunjung yang datang dan berkeliling di De Tjolomadoe akan mendapatkan suguhan lanskap sejarah yang dipadukan dengan pernik dan kronika modern. Menyaksikan mesin produksi penghasil gula yang berasal dari masa kolonial Belanda sembari menikmati sajian dan pelayanan modern masa kini akan menjadi atraksi pariwisata khas yang langka. Dengan harga tiket yang tidak terlalu mahal (Rp25.000,00), pengunjung dapat menikmati De Tjolomadoe dengan kemegahan, kesejarahan, dan keunikannya.

Pengunjung umum pasti akan mendapatkan pengalaman baru. Adapun pengunjung dari kalangan pendidikan (pelajar, mahasiswa, guru, dan sebagainya) juga akan mendapat tambahan pengetahuan sejarah baru karena akan memperoleh penjelasan historis seputar PG Colomadu dari pemandu khusus yang disediakan pihak pengelola untuk pengunjung dari kalangan pendidikan.

Panorama De Tjolomadoe dari atas (Sumber: Diskominfo Karanganyar).jpg)

Sebelum direnovasi, bekas pabrik ini sempat terlihat kotor dan kumuh akibat tak terurus sejak berhenti beroperasi tahun 1997 hingga tahun 2017. Masa lalunya yang manis sebagai salah satu raksasa penghasil gula di Asia dan dunia, pada saat itu seolah-olah pudar terkikis oleh waktu dan zaman.
Namun, renovasi yang berbiaya mahal mampu mengubahnya menjadi tempat baru yang elegan, nyaman, dan memiliki kelas tersendiri. Terlepas dari segala kekurangannya dalam proses renovasi, PG Colomadu telah bertransformasi dan menjelma menjadi ikon pariwisata baru yang terlihat cukup manis, semanis prestasi masa lalunya sebagai ikon penghasil gula kelas dunia.


Selasa, 31 Juli 2018

Raja Ampat, Firdaus Bahari dari Papua Barat

Keindahan Raja Ampat (Sumber: travelingpapua.wordpress.com)


Alam Papua, tak ada yang membantah, menyimpan keindahan yang tiada tara. Wilayahnya yang sebagian besar belum banyak terintervensi oleh manusia memberikan keindahan eksotis yang memukau. Salah satu keindahan luar biasa yang mencuat dari kawasan ini adalah perairan dan kepulauan Raja Ampat, Papua Barat.
Perairan Raja Ampat tampak dan terasa teduh pada pertengahan bulan April. Ombak dan arusnya jinak. Panorama gugusan pulau karang dan beningnya perairan di kepulauan yang berada di ujung kepala burung Pulau Papua ini sungguh menyejukkan mata.
Raja Ampat tidak hanya menjadi tempat untuk menikmati keindahan, melainkan juga dapat menjadi lokasi petualangan. “Saya kira Raja Ampat hanyalah tempat yang hanya memiliki pantai-pantai yang indah, ternyata berwisata ke sini penuh dengan petualangan,” kata Idayu Suparto, jurnalis dari Singapura, dalam Journalist Visit Program yang diadakan Kementerian Luar Negeri RI.
Para peserta menempuh perjalanan selama kurang lebih 1,5 jam menggunakan kapal feri untuk menyeberang dari Sorong menuju Waisai di Pulau Waigeo. Dari Waisai, yang merupakan ibu kota Kabupaten Raja Ampat ini, mereka masih menempuh perjalanan dengan kapal selama sekitar empat jam untuk sampai ke Wayag.
Selama perjalanan ke Wayag, mereka menyaksikan birunya langit, pulau-pulau karang, ikan terbang yang berselancar di permukaan air, ikan  bersirip merah, serta sekawanan lumba-lumba. Sesampai di Wayag, mereka memanjat bukit karang terjal selama sekitar 30 menit untuk mencapai puncak agar dapat melihat panorama gugusan Pulau Wayag yang tersohor. Dari bukit karang di Pulau Wayag, mereka dapat menikmati panorama seluruh Raja Ampat.
Raja Ampat tergelar dengan banyak sisi dan sudut yang terangkum dalam bingkai keindahan yang menawan. Keindahan luar biasa bisa disaksikan dari sana. “Dari atas, saya melihat surga. Ini merupakan pemandangan terindah yang pernah saya saksikan,” kata Sopheak Khuon, pewarta asal Kamboja.
·          Tradisi Sasi
Pesona Raja Ampat bukan sekadar Wayag yang sering disebut orang “ikonik dan fotogenik”, yang kerap menghiasi kalender dan halaman depan kampanye pariwisata Indonesia, melainkan juga masyarakat setempat yang berupaya menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian firdaus bahari di Indonesia Timur itu. Masyarakat adat di Raja Ampat memiliki kearifan lokal melalui tradisi yang disebut ‘sasi laut’. Sasi laut merupakan aturan tak tertulis yang melarang penangkapan hewan laut pada waktu-waktu tertentu.
Tradisi turun-temurun itu diwariskan leluhur mereka untuk menjaga keseimbangan kehidupan hewan laut dari penangkapan (eksploitasi) yang berlebihan. Dalam kurun waktu-waktu tertentu, bisa tiga bulan, enam bulan, atau bahkan satu tahun, dengan kesadaran diri karena aturan adat, nelayan tidak melakukan penangkapan ikan dan hewan laut. Setelah masa yang ditentukan lewat, nelayan diperbolehkan memancing kembali di laut.
Selain tradisi sasi laut, masyarakat setempat juga memiliki tradisi lain yang mirip untuk menjaga kelestarian lingkungan, yakni ‘sasi darat’. Berdasarkan tradisi terakhir ini, masyarakat tidak boleh menebang pohon atau mengambil buah dari hutan untuk dikonsumsi. Masyarakat diperbolehkan mengambil kayu di hutan, tetapi sebatas untuk dipakai sendiri, tidak untuk dijual keluar dari Raja Ampat. Hal ini membuat hutan di Kepulauan Raja Ampat hingga kini tetap hijau, rimbun, dan asri sehingga menjadi suaka yang aman bagi berbagai spesies burung, seperti cendrawasih, murai batu, bangau, dan elang.
Kabupaten Raja Ampat memiliki luas kurang lebih 46.000 kilometer persegi. Dari luas ini, kurang lebih 87 persennya merupakan laut. Menurut catatan Conservation International, perairan Raja Ampat menjadi rumah bagi kurang lebih 75 persen spesies karang dunia. Karang-karang ini menjadi sumber makanan, mata pencaharian, dan tempat berlindung dari badai tropis bagi sekitar 65.000 penduduk yang bermukim di 121 kampung yang tersebar di 37 pulau.
(Sumber: Antara dan https://travel.tempo.co, Sabtu, 23 April 2016, 06.00 WIB)

Wisata Budaya Bau Nyale dan Desa Sade di Lombok

Desa Sade di Lombok, NTB (Sumber: Travelling the World)


Lombok kini menjadi salah satu primadona pariwisata Indonesia. Berada di sebelah timur Pulau Dewata (Bali), Lombok yang merupakan bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi salah satu destinasi (tujuan) wisata yang kian populer dan berkembang. Selain memiliki objek wisata alam berupa pantai, perairan, kepulauan, perbukitan, dan pegunungan yang menawan, Lombok juga memiliki objek wisata budaya berupa tradisi atau adat istiadat masyarakat.
Menikmati wisata budaya di Lompbok dapat dilakukan sembari merasakan jenis sensasi wisata lainnya. Di Pantai Tanjung Aan yang terletak di wilayah selatan Lombok, misalnya, wisatawan dapat menyaksikan tradisi setempat yang disebut “Bau Nyale”. Tradisi ini biasanya dilakukan pada setiap bulan Februari. Tradisi Bau Nyale merupakan tradisi ritual mencari cacing laut yang dilakukan masyarakat lokal terkait dengan kepercayaan reinkarnasi.
Di Desa Sade, Lombok Tengah, wisatawan juga dapat menikmati budaya masyarakat Lombok dalam bentuk yang lain. Di desa ini, Anda dapat menyaksikan rumah-rumah tradisional masyarakat yang orisinal. Rumah-rumah itu berbentuk rumah panggung, yang dibangun dengan menggunakan tiang kayu sebagai penyangga, memanfaatkan alang-alang kering untuk atap, dan anyaman bambu sebagai dinding.
Desa Sade dihuni oleh masyarakat suku Sasak. Sekitar 150 kepala keluarga orang Sasak tinggal di sini. Mereka masih setia mempertahankan adat istiadat leluhur sehingga dijadikan desa wisata oleh pemerintah setempat.  Salah satu adat yang berlaku di desa ini adalah perkawinan sesama sepupu dan tradisi kawin culik. Adat pernikahan ini melarang adanya prosesi lamaran atau tunangan seperti lazimnya pernikahan di tempat-tempat lain.
Oleh karena tradisi perkawinan sesama sepupu, orang-orang asli Desa Sade relatif masih dalam satu keturunan. Mata pencaharian mereka adalah membuat dan menjual kain tenun, selain bertani. Mereka membuat kain tenun secara tradsional mulai dari memintal kapas kering untuk dibuat benang hingga mewarnai benang itu dengan bahan-bahan alami. Selain dapat membeli kain tenun yang sudah jadi, di desa ini wisatawan juga dapat belajar membuat kain tenun dengan menggunakan alat-alat tradisional.
(Diadaptasi dari https://travel.kompas.com, 22 Januari 2018, 15.26 WIB dan https://lifestyle.okezone.com, Senin 23 Januari 2017 15.29 WIB)

Benteng Van den Bosch Akan Direnovasi secara Bertahap

Salah satu sisi Benteng Van den Bosch (Sumber: Sadah Siti Hajar)

Benteng Van den Bosch selama ini menjadi salah satu ikon penting pariwisata Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Benteng yang oleh masyarakat Ngawi populer disebut sebagai Benteng Pendhem ini menjadi benda cagar budaya penting di Kabupaten Ngawi. Namun, kendatipun dianggap sebagai peninggalan bersejarah serta cukup banyak dikunjungi para wisatawan, benteng tersebut selama ini kurang terawat. Selain terlihat kotor, beberapa bagian dari bangunan benteng juga telah rusak dan terbengkalai.
Guna melakukan upaya pelestarian, pemerintah setempat dan pusat berinisiatif melakukan langkah renovasi terhadap Benteng Van den Bosch. Melalui usulan Pemerintah Kabupaten Ngawi kepada pemerintah pusat, pada tahun 2018 ini akan dilakukan renovasi terhadap bangunan benteng dengan anggaran Rp 5 miliar. Sebagai tindak lanjut awal, pada awal November 2017 lalu, sejumlah petugas Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) telah melakukan survei ke lokasi benteng.
Benteng Van den Bosch merupakan bangunan bersejarah yang telah dikategorikan sebagai benda cagar budaya. Oleh karena itu, upaya pelestariannya tidak bisa dilakukan dengan cara yang sembarangan. Terkait dengan hal itu, Kementerian PUPR akan menjalin kerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Balai Arkeologi Yogyakarta, dan Laboratorium Borobudur dalam melakukan renovasi. Hal ini dilakukan agar aktivitas renovasi tidak merusak bangunan fisik benteng dan menghilangkan nilai sejarahnya.
Renovasi terhadap benteng yang pernah menjadi kediaman Gubernur Jenderal Van den Bosch itu harus dilakukan dengan tetap mempertahankan kondisi aslinya sehingga membutuhkan perlakuan istimewa. Selain membutuhkan sentuhan tangan para ahli, renovasinya juga memerlukan material khusus yang mirip atau mendekati material aslinya. Dengan demikian, langkah renovasi tidak akan merusak benteng tersebut sebagai benda cagar budaya.
Renovasi bangunan rencananya akan dilakukan secara bertahap. Renovasi pada tahun 2018 ini akan menjadi renovasi tahap pertama yang menargetkan untuk melakukan perbaikan pada bangunan pintu gerbang masuk dan ruang kantor Jenderal Van den Bosch yang berada di tengah lokasi benteng. Adapun bagian-bagian lain dari bangunan benteng, menurut rencana dan usulan, akan direnovasi pada tahun-tahun berikutnya.
(Sumber:  Panoramakanan, Sadah Siti Hajar, http://lanskap-makanan.blogspot.com/2018/01/benteng-van-den-bosch-akan-direnovasi.html, 28 Januari 2018)

Sabtu, 30 Juni 2018

Benteng Van den Bosch, Ikon Pariwisata Kabupaten Ngawi

Sumber: Foto Sadah Siti Hajar


Kota dan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, memiliki beberapa destinasi (tujuan) wisata sejarah yang patut diunggulkan. Selain Trinil, yang merupakan objek wisata dengan bentuk situs kehidupan manusia dan satwa purba, Ngawi juga memiliki destinasi wisata sejarah yang lain, yakni Benteng Van den Bosch. Seperti namanya, benteng ini merupakan peninggalan pemerintah Hindia Belanda yang dibangun pada abad ke-19, tepatnya tahun 1845.
Benteng Van Den Bosch oleh masyarakat Ngawi populer disebut sebagai “Benteng Pendhem”. Sebutan ini merujuk pada keberadaan benteng yang berdiri di tempat (cekungan) yang rendah sehingga dari jauh tampak seperti terpendam atau terkubur. Dahulu, benteng ini memang konon dikelilingi oleh gundukan tanah seperti tanggul atau perbukitan –– sisa-sisa tanggul atau perbukitan itu masih terlihat di sekitar benteng. Sama seperti parit, tanggul pada benteng bisa dibuat sebagai pagar pertahanan pertama dari serangan musuh.
Setelah Indonesia merdeka, Benteng Van Den Bosch diambil alih dan dikuasai oleh pemerintah Indonesia, kemudian sempat dimanfaatkan sebagai lokasi latihan militer. Saat ini, pengelolaan benteng ini menjadi tanggung jawab Yon Armed 12 Kostrad. Adapun lokasi benteng ini hanya berjarak sekitar 1 km dari pusat Kota Ngawi serta berada di daerah pertemuan dua sungai besar, yakni Sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun.
Benteng yang dibangun Pemerintah Hindia Belanda sebagai pertahanan untuk menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro di kawasan Madiun dan sekitarnya ini berdiri di atas area seluas 15 hektar. Bangunannya berukuran 165 m x 80 m yang, antara lain, terdiri atas gerbang utama (gate), barak pasukan (tentara), perkantoran, ruang pimpinan, ruang tahanan (penjara), dan kandang kuda. Benteng ini dibangun pada masa Pemerintahan Hindia Belanda dipimpin oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch.
Jejak-jejak Van den Bosch masih terlihat cukup jelas di benteng ini. Gambar close-up-nya yang berukuran besar dalam versi baru –– yang tampaknya dipasang oleh pihak pengelola –– terpampang jelas di beberapa sisi dinding benteng. Gambar itu agaknya memang sengaja dipasang untuk menunjukkan kesan kuatnya kedudukan dan pengaruh Van den Bosch atas benteng ini. Di benteng ini Sang Gebernur Jenderal konon memiliki ruang tersendiri sebagai tempat tinggalnya.
Dengan arsitektur bangunan bergaya Eropa murni, Benteng Van den Bosch dikelilingi parit (sungai kecil berbentuk melingkar) yang cukup lebar. Di beberapa bagian, bekas parit itu masih terlihat sangat jelas karena terisi genangan air. Saat berfungsi sebagai pertahanan untuk menghadapi serangan pasukan Diponegoro, benteng ini diperkuat dengan sekitar 200-an personel pasukan Belanda bersenjata serbu dan meriam serta dilengkapi dengan puluhan pasukan berkuda (kavaleri).
Di salah satu bagian benteng terdapat pula makam K.H. Muhammad Nursalim, salah satu pengikut Pangeran Diponegoro. Dalam suatu insiden, Muhammad Nursalim tertawan oleh pasukan Belanda dan dibawa ke dalam benteng. Oleh karena tidak bisa dihabisi dengan cara biasa, ia kemudian dieksekusi dengan cara dikubur hidup-hidup.
Benteng Van den Bosch jelas memiliki nilai historis yang tinggi. Ia merupakan bangunan peninggalan sejarah yang menjadi salah satu penanda perjuangan rakyat Indonesia –– terutama Pangeran Diponegoro bersama pengikut dan pasukannya –– dalam melakukan perlawanan terhadap imperialisme bangsa asing (Belanda). Benteng itu memang (dahulu) milik Belanda, tetapi dibangun untuk memperkuat kedudukannya di Indonesia sebagai penjajah serta difungsikan sebagai basis untuk melakukan penindasan dan penyerangan terhadap rakyat Indonesia.
Dan setelah menjadi milik bangsa Indonesia, Benteng Van den Bosch merupakan bangunan historis yang sangat berharga bagi bangsa dan negara Indonesia. Bangunan itu kini menjadi salah satu monumen perjuangan bangsa Indonesia. Namun, sayang sekali, kendatipun masih berdiri kokoh serta memperlihatkan sisa-sisa kemegahannya sebagai bangunan masa lalu yang artistik dan mengagumkan, benteng ini terlihat kurang perhatian dan perawatan. Selain terlihat kotor, sebagian besar atap bangunan telah mengalami kerusakan.
(Sumber:  Panoramakanan, Sadah Siti Hajar, http://lanskap-makanan.blogspot.com/2018/01/benteng-van-den-bosch-ikon-pariwisata.html, 28 Januari 2018)