Oleh Akhmad Zamroni
Pada
awal tahun 1940-an, kehadiran Jepang sebagai imperialis di kawasan Asia Pasifik
dan Asia Tenggara cukup perkasa. Melalui serangan mendadak dan mematikan
terhadap pangkalan militer Pearl Harbour di Samudra Pasifik, mereka sempat
membuat Amerika Serikat (pemilik Pearl Harbour) goyah dan kelabakan. Akan
tetapi, keperkasaan Jepang tidak berlangsung lama. Memasuki perte-ngahan tahun
1940-an, kekuatan dan kedudukan Jepang mulai goyah. Di berbagai pertempuran di
kawasan Pasifik, Jepang mengalami kekalahan telak dari Sekutu yang dipimpin
Amerika Serikat.
Kegoyahan
Jepang berimbas pada kedudukan dan keberadaannya di Indonesia. Melalui pergulatan
dilematis antara ingin mendapatkan dukungan dari rakyat Indonesia (dalam menghadapi
Sekutu) atau memberikan kemerdekaan kepada Indonesia, Jepang akhirnya
memutuskan untuk membentuk badan yang diberi tugas mempersiapkan kemerdekaan
Indonesia. Pada akhir April 1945, tepatnya tanggal 29 April (sumber lain menyebut
tanggal 28 April), pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia akhirnya membentuk
Dokuritsu Junbi Cosakai, yakni Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Tujuan pembentukan badan ini ialah menyelidiki
dan mempelajari hal-hal penting yang berkaitan dengan upaya pembentukan negara
Indonesia merdeka. Radjiman Wedyodiningrat ditunjuk dan diangkat menjadi ketua
BPUPKI, sedangkan Pandji Soeroso diangkat menjadi wakil ketua.
Sidang BPUPKI tanggal 10-17 Juli 1945 (http://3.bp.blogspot.com-https id.wikipedia.org) |
BPUPKI
beranggotakan 62 orang. Mengenai jumlah anggota BPUPKI beberapa sumber sejarah
menyebutnya secara berbeda-beda; ada yang menyebut 60 orang, 61 orang, bahkan 67 orang dan 71 orang.
Namun, yang jelas, para anggota BPUPKI terdiri atas tokoh-tokoh pergerakan
nasional dari berbagai daerah, aliran, dan etnik (Indonesia asli, Arab, Tionghoa,
dan Eropa). Nama-nama anggota BPUPKI
selengkapnya dapat dilihat dalam daftar berikut ini.
1.
K.R.T.
Radjiman Wedyodiningrat (Ketua/anggota)
2.
Pandji Soeroso (Wakil Ketua/anggota)
3. Ki Hadjar Dewantara (Anggota)
4. Ki Bagoes Hadikoesoemo (Anggota)
5. H. Agus Salim (Anggota)
6. Soekarno (Anggota)
7. Mohammad Hatta (Anggota)
8. Muhammad Yamin (Anggota)
9. Soepomo (Anggota)
10. K.H. Masykur (Anggota)
11. R. Otto Iskandardinata (Anggota)
12. A. Soebardjo (Anggota)
13. A.A. Maramis (Anggota)
14. K.H.A. Wachid Hasyim (Anggota)
15. K.H.M. Mansyur (Anggota)
16. Koesoema Atmadja (Anggota)
17. A.K. Muzakkir (Anggota)
18. Oei Tiang Tjoei (Anggota)
19. Oey Tjong Hauw (Anggota)
20. M. Soetardjo Kartohadikoesoemo (Anggota)
21. K.H. Abdulhalim (Anggota)
22. R. Soedirman (Anggota)
23. P.A. Djajadiningrat (Anggota)
24. R.A. Munandar (Anggota)
25. R.M. Margono (Anggota)
26. B.P.H. Bintoro (Anggota)
27. R. Roeseno (Anggota)
28. R. Pandji Singgih (Anggota)
29. B.P.H. Poeroebojo (Anggota)
30. Abdulrahim Pratalykrama (Anggota)
31. Ny. Maria Ulfah Santosa (Anggota)
32. R.M.T.A. Soerjo (Anggota)
33. R. Roeslan Wongsokoesoemo (Anggota)
34. R. Soesanto Tirtoprodjo (Anggota)
35. Ny. Soenarjo Mangoenpoespito (Anggota)
36. R. Boentaran Martoatmodjo (Anggota)
37. Liem Koen Hian (Anggota)
38. R. Latuharhary (Anggota)
39. R. Hendromartono (Anggota)
40. Soekardjo Wirjopranoto (Anggota)
41. R.A.A. Wiranatakoesoema (Anggota)
42. H. Ah. Sanoesi (Anggota)
43. A.M. Dasaad (Anggota)
44. Tan Ing Hoa (Anggota)
45. R.M.P. Soerachman Tjokrodisoerjo (Anggota)
46. R.A.A. Soemitro Kolopaking (Anggota)
47. K.R.M.T.H. Woerjaningrat (Anggota)
48. R.D. Asikin Widjajakoesoema (Anggota)
49. Abikoesno Tjokrosoejoso (Anggota)
50. Parada Harahap (Anggota)
51. R.M. Sartono (Anggota)
52. K.R.M.A. Sosrodiningrat (Anggota)
53. Soewandi (Anggota)
54. H. Aris (Anggota)
55. P.F. Dahler (Anggota)
56. Soekiman (Anggota)
57. K.R.M.T. Wongsonegoro (Anggota)
58. A. Baswedan (Anggota)
59. Abdul Kadir (Anggota)
60. Samsi (Anggota)
61. R. Samsoedin (Anggota)
62. R. Sastromuljono (Anggota)