Selasa, 08 Agustus 2017

Menceritakan Pengalaman yang Mengesankan

Oleh Akhmad Zamroni

Sumber: 2.bp.blogspot.com

Semua orang pasti memiliki pengalaman. Di antara pengalaman yang dimiliki, biasanya ada pengalaman tertentu yang paling mengesankan. Apakah pengalaman Anda  yang paling mengesankan atau sangat mengesankan? Pernahkah Anda menceritakan pengalaman tersebut secara lisan kepada teman-teman atau saudara? Bagaimana cara Anda dalam menceritakan pengalaman itu?
Suatu pengalaman akan lebih menarik dan mengesankan manakala diceritakan kepada orang lain dengan kata-kata dan kalimat yang efektif. Dengan cara begitu, pengalaman yang diceritakan akan mudah ditangkap dan dipahami isinya serta dapat meninggalkan kesan yang mendalam. Berikut ini adalah sebuah contoh pengalaman yang disampaikan dengan bahasa yang efektif dan menarik.
Masih Ada Esok yang Mendatangkan Malu
Ketika itu aku masih menjadi siswa sebuah madrasah tsanawiyah. Dalam suatu acara sekolah, aku dipercaya untuk membawakan pidato dalam bahasa Arab. Kata banyak orang, aku lumayan pintar dalam berbahasa Arab di sekolah.
Seorang guru memberiku dua lembar naskah pidato dua pekan sebelum acara berlangsung. Naskah itu harus kuhafalkan dan kukuasai benar isinya sebelum aku naik mimbar. “Sekarang kamu harus benar-benar menggunakan waktu untuk mempela-jari naskah itu,” pesan guruku, “supaya saat kamu tampil tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”
Beberapa hari sejak menerima naskah, aku benar-benar menggunakan waktuku untuk mempelajari dan menguasainya. Isi lembar pertama berhasil kukuasai. Namun, karena kupikir masih ada waktu yang cukup panjang sebelum hari H tiba, aku kesampingkan lembar yang kedua.
Aku selalu beranggapan, masih ada esok untuk belajar. Aku santai dan, akhirnya, lalai, sehingga saat hari aku harus naik ke atas mimbar tiba, lembar kedua naskah itu belum kukuasai. Aku pun gelisah dan jantungku berdebar-debar tak menentu.
Namun, aku harus tetap menjalankan tugas. Aku datang ke lokasi acara bersama ayahku. Sesampai di lokasi, aku bertemu guru yang memberiku naskah pidato itu. “Apakah kamu sudah siap?” tanyanya kepadaku. Aku tak mengatakan bahwa lembar kedua belum kukuasai, dan aku tidak mungkin untuk mundur.
Pukul 08.30 acara dimulai. Aku makin gelisah. Tubuhku gemetar. Menunggu giliran naik ke atas podium kurasakan seperti menanti giliran untuk menerima hukuman! Ayahku sampai mengira bahwa aku sakit.
Acara demi acara berlangsung, sampai akhirnya pembawa acara mempersilakanku untuk membawakan pidato –– ya pidato dalam bahasa Arab yang sebagian isi naskahnya sama sekali tak kukuasai.
Sumber: 1.bp.blogspot.com

Aku naik ke podium dengan keadaan seadanya.  Di luar dugaanku, aku tampil menarik pada awalnya. Tak salah lagi, uraian yang kusampaikan itu adalah isi lembar pertama yang memang kukuasai benar. Namun, selanjutnya, aku seperti mesin macet yang teronggok di podium di bawah tatapan mata banyak orang.
Kepalaku terasa kosong melompong, dan mulutku terkunci.  Selama sekitar lima menit aku diam saja. Hadirin tercengang, seolah-olah sedang menyaksikan manusia hidup yang tiba-tiba menjelma patung. Akhirnya kuputuskan untuk turun dari podium dengan membawa utang pidato yang belum tuntas!
Kembali aku menempati kursiku. Aku begitu malu dan menyesal.  Mengapa hari-hariku yang sebenarnya lebih dari cukup untuk mempelajari seluruh isi naskah pidato tidak kugunakan dengan baik dan semestinya?
Acara berakhir, dan guru yang memberiku naskah pidato menghampiriku. Ia tampak begitu kecewa dan jengkel. Rasa malu dan sesal dalam diriku pun kemudian makin menggumpal. Aku sampai hendak menangis rasanya.
Setelah peristiwa itu aku jadi tahu, betapa berharganya waktu. Betapa ruginya menyia-nyiakan waktu karena begitu terlewat ia tak akan pernah kembali. Sejak itu, aku mengerti, betapapun ringannya pekerjaan atau tugas, aku harus menyelesaikannya saat itu juga, tanpa menunda-nundanya lagi. Benarlah bahwa waktu ibarat pedang: jika kita tidak menggunakannya dengan baik, kita akan “dipenggalnya” seperti binatang ternak.
(Tarbawi, 10 Oktober 2002, Sofyan,
dengan pengubahan seperlunya)
1.   Memilih Pengalaman yang Mengesankan
Setiap orang biasanya memiliki banyak pengalaman. Akan tetapi, tentunya tidak semua pengalaman menarik dan mengesankan. Dari sekian pengalaman yang kita miliki, mungkin hanya beberapa yang menarik dan mengesankan karena sifatnya yang lucu, menggelikan, menakjubkan, menggetarkan, menyedihkan, mengharukan, atau menjengkelkan. Berikut ini contoh peristiwa yang menggelikan, menyenangkan, dan menyedihkan.
a.  Pengalaman/Peristiwa Menggelikan
1)   Oleh karena terburu-buru saat keluar dari masjid, aku memakai sandal milik orang yang tak kukenal.
2)   Akibat emosional, SMS berisi omelan yang hendak kutujukan temanku keliru terkirim ke guru matematikaku.
b.  Pengalaman/Peristiwa Menyenangkan
1)   Aku mendapat hadiah buku kumpulan puisi penyair terkenal dari kepala sekolah karena menjadi juara membaca puisi antarsekolah.
2)   Sekolah memilihku untuk mewakili sekolah dalam lomba karya ilmiah antarsekolah tingkat provinsi.
c.  Pengalaman/Peristiwa Menyedihkan
1)   Aku harus pulang dari kegiatan kemah pramuka karena mendapat pemberitahuan bahwa nenekku meninggal dunia.
2)   Aku mendapat nilai buruk untuk ulangan fisika, padahal teman-teman memperkirakan aku akan mendapat nilai tertinggi.
Sumber: i.ytimg.com
Apakah Anda memiliki pengalaman atau mengalami peristiwa yang beragam dan menarik? Apakah saja pengalaman atau peristiwa itu? Saat akan menceritakan pengalaman yang mengesankan, ada baiknya kita mengingat dan memilih salah satu pengalaman. Dengan memilih salah satu pengalaman, perhatian dan pikiran kita akan lebih terfokus.
2.   Bercerita tentang Pengalaman yang Mengesankan
Pengalaman yang kita miliki sering mengandung pelajaran yang berguna. Isinya dapat menjadi bahan renungan untuk mawas diri dalam upaya meningkatkan sikap disiplin, rendah hati, menghargai orang lain, dan sebagainya. Oleh karena itu, sangat baik jika kita dapat menceritakan pengalaman yang kita miliki kepada orang lain. 
Pada saat menceritakan pengalaman, kita tentu menghendaki pendengar kita tertarik, memberikan perhatian penuh, larut dalam peristiwa cerita, serta paham dengan isi pengalaman yang kita sampaikan. Namun, hal itu tidak mudah untuk dicapai. Salah satu kunci agar cerita pengalaman yang kita sampaikan dapat memikat sekaligus ditangkap dan dipahami isinya ialah kalimat yang kita gunakan efektif.

Sumber: bukik.files.wordpress.com
Bagaimanakah bercerita dengan kalimat yang efektif itu? Prinsip dalam menyusun kalimat efektif ialah kata-kata dipilih dan digunakan dengan seperlunya serta kalimat disusun dengan cermat, tidak panjang lebar, dan tepat sasaran. Perhatikan beberapa contoh berikut ini.
a.   Kalimat Tidak Efektif
1)   Begitu tahu aku membawa telepon HP, orang yang tak dikenal itu segera secepatnya bergegas dan terburu-buru pergi.
2)   Aku sama sekali tak menyangka dan memperkirakan bahwa orang yang sejak dari tadi membuntutiku dari belakang itu ternyata tidak lain adalah guruku.
b.   Kalimat Efektif
1)   Begitu tahu aku membawa HP, orang tak dikenal itu bergegas pergi.

2)   Aku sama sekali tak menyangka, orang yang sejak tadi membuntutiku itu ternyata guruku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar