Rabu, 11 Desember 2019

Efek Samping dan Bahaya Memiliki IQ Tinggi

Oleh  Akhmad Zamroni

Otak manusia
Sumber: https://intisari.grid.id


Memiliki anak yang berotak sangat cerdas dan apalagi supercerdas (jenius) tentu sangat menyenangkan. Itu merupakan keajaiban yang tidak dimiliki setiap orang atau keluarga. Anak cerdas dan supercerdas dapat menghasilkan banyak prestasi besar yang fenomenal sehingga dapat melambungkan orang tua dan keluarga ke puncak kebanggaan.

 Namun, perlu diketahui, anak sangat cerdas dan apalagi supercerdas juga dapat membawa efek samping yang tidak diduga-duga dan berbahaya. Apa efek samping itu? Hasil-hasil riset mutakhir terhadap anak-anak cerdas dan supercerdas serta fakta kehidupan para tokoh sangat cerdas dan jenius menunjukkan bahwa kecerdasan luar biasa cenderung menyeret pemiliknya pada sikap keragu-raguan dan ketidakpercayaan terhadap keberadaan Tuhan.

Saat ini, sejalan dengan bertambah baiknya tingkat gizi, kian majunya teknologi medis dan informatika, serta makin banyaknya pernikahan antaretnik dan antarras, anak-anak Indonesia tidak sedikit yang memiliki kecerdasan berlevel tinggi; sebagian bahkan dianggap jenius atau mendekati jenius. Ini berarti, jika pendidikan dan bimbingan (terutama pengajaran agama) yang diberikan kepada mereka salah atau tidak tepat, dapat terjadi bencana kemanusiaan dan keagamaan yang menyedihkan, yakni setelah dewasa mereka dapat tersesat menjadi orang-orang yang meragukan atau bahkan tidak percaya akan keberadaan Tuhan.

Sebagai catatan, saat ini di Indonesia sudah berdiri (secara terselubung) beberapa kelompok atau komunitas orang-orang agnostik  (meragukan keberadaan Tuhan) dan ateis (tidak mempercayai keberadaan Tuhan sama sekali). Mereka lebih banyak bergerak dan berdiskusi melalui media sosial Internet (terutama Facebook). Komunitas itu, misalnya, Indonesian Atheists (IA) yang beranggotakan para ateis dan agnostik di Indonesia. Menurut Wikipedia, saat ini komunitas Indonesian Atheists telah memiliki anggota sekitar 1.400 orang.

Ada juga komunitas anonim yang beranggotakan orang-orang agnostik dan ateis, selain orang-orang beragama yang liberal dan moderat. Mereka tidak berani menyebut nama komunitasnya, tetapi mereka menyebut dirinya Free Thinker (orang-orang yang berpikir bebas dan independen). Masih ada juga forum komunikasi dan komunitas yang disebut ABAM, singkatan dari Anda Bertanya Ateis Menjawab, yang pengasuh atau administratornya merupakan orang-orang ateis. Sama seperti Indonesian Atheists, Free Thinker dan ABAM juga banyak bergerak melalui media sosial di Internet (terutama Facebook).

Menurut salah seorang aktivis LSM, jumlah orang agnostik dan ateis di Indonesia saat ini diperkirakan telah mencapai sekitar 10.000 hingga 15.000 orang. Itu baru jumlah perkiraan yang terhimpun dalam komunitas (organisasi), sedangkan yang tersebar di luar dan tidak tergabung dalam komunitas kemungkinan juga masih banyak.

Perlu dicatat pula bahwa para anggota Indonesian Atheists dan Free Thinker serta aktivis ABAM banyak di antaranya merupakan anak-anak muda berusia di bawah 40 tahun. Pendiri Indonesian Atheists, yakni pria bernama Karl Karnadi, merupakan pemuda yang berusia 35 tahun dan saat mendirikan Indonesian Atheists pada 1 Oktober 2008 ia baru berusia sekitar 24 tahun.

Para anggota Indonesian Atheists dan Free Thinker serta pengasuh ABAM awalnya adalah anak-anak muda yang mempercayai keberadaan Tuhan. Sebelum menjadi agnostik dan ateis, mereka menganut agama resmi (Islam, Kristen, Katolik, dan sebagainya) serta taat beribadah berdasarkan ajaran agamanya masing-masing.

Hingga kini belum diketahui dengan pasti tingkat kecerdasan intelektual (IQ) para anggota Indonesian Atheists dan Free Thinker serta pengasuh ABAM. Namun, berdasarkan pembicaraan di internet, mereka konon merupakan anak-anak muda yang cerdas, kritis, dan gemar membaca buku (terutama bertema sains, politik, dan filsafat).

Dengan demikian, secara sepintas dapat terdeteksi pula bahwa kemunculan komunitas-komunitas agnostik dan ateis tersebut terkait dengan tingkat kecerdasan para anggotanya. Artinya, para anggota komunitas itu menjadi agnostik dan ateis sedikit banyak karena dipengaruhi atau ditentukan oleh kecerdasan yang mereka miliki.

 Fenomena kecerdasan tinggi yang dapat menjerumuskan seseorang pada agnotisisme dan ateisme di sisi satu serta mulai bermunculannya komunitas orang-orang agnostik dan ateis di Indonesia di sisi lain tentu menjadi kekhawatiran banyak kalangan. Masyarakat Indonesia yang umumnya religius dan masih menjadikan agama sebagai pedoman utama hidup menganggap sikap agnostik dan ateis sebagai aib yang harus dihindari dan dijauhi karena merupakan bentuk dosa besar.

Dari segi hidup berbangsa dan bernegara, agnostisisme dan ateisme juga (dianggap) bertentangan dengan dasar negara, Pancasila, dan konstitusi negara, UUD 1945. Baik Pancasila maupun UUD 1945 menyatakan bahwa negara Indonesia berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini mengandung instruksi bahwa setiap warga negara Indonesia wajib percaya pada keberadaan Tuhan Yang Mahakuasa dan Maha Pencipta serta menganut salah satu agama yang diakui di Indonesia.

Sumber Rujukan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar