Rabu, 18 November 2020

Dampak Psikologis dan Akademis Pembelajaran Daring pada Siswa

 Oleh  Akhmad Zamroni


Belajar jarak jauh secara online  (Sumber: Fatih School Aceh & https://kaltim.prokal.co) 

Pandemi corona virus desease  2019 (Covid-19) yang melanda Indonesia sejak awal Maret 2020 lalu menimbulkan dampak negatif pada kehidupan masyarakat umumnya dan para siswa sekolah khususnya. Aktivitas pembelajaran secara tatap muka, normal, dan offline  (konvensional) dihentikan dan sebagai gantinya  pembelajaran dilakukan secara jarak jauh dengan model online  (daring). Hal ini membawa implikasi berantai yang berat tidak hanya pada aktivitas pembelajaran siswa dan sekolah, melainkan juga pada etos dan disiplin belajar siswa serta pada beban tambahan pekerjaan dan biaya yang ditanggung orang tua.

Meskipun terlihat canggih dan prestisius, pembelajaran secara online  dengan smartphone  terbukti kurang efektif dan tidak optimal. Penyerapan ilmu melalui pendekatan saintifik untuk mencapai/meraih empat kompetensi yang diamanatkan Kurikulum 2013 (kompetensi pengetahuan, kompetensi sikap sosial, kompetensi sikap spiritual, dan kompetensi keterampilan) jauh dari ekspektasi yang dicanangkan. Alih-alih meraih empat kompetensi, selain penyampaian dan penguasaan materi jauh dari target, pembelajaran secara online  ternyata justru menimbulkan dampak tidak menguntungkan pada emosi dan psikis siswa, selain juga menimbulkan beban baru yang berat pada orang tua.

Waktu luang siswa di rumah yang sepintas menjadi jauh lebih banyak dibandingkan dengan saat berlangsungnya pembelajaran normal (tatap muka) umumnya tidak membuat siswa merasa lebih enjoy  dan gembira, melainkan justru lebih sering merasa jenuh dan bahkan stres. Hal ini terjadi karena tugas yang diberikan guru dan sekolah menjadi jauh lebih banyak dan berat dibandingkan sebelumnya, pengerjaan tugas hampir sepenuhnya dilakukan secara mandiri tanpa pendampingan dan pemfasilitasan oleh guru, serta pengerjaannya pun dilakukan hanya berkutat di rumah selama berbulan-bulan tanpa berinteraksi langsung dengan teman dan guru, sementara di sisi lain penyampaian materi pelajaran oleh guru sangat minim dilakukan sehingga siswa tidak mengalami transfer of knowledges and skills yang semestinya.

Secara psikologis, hal itu menyebabkan siswa menjadi tertekan dan “menderita”. Akibatnya, mereka kemudian menjadi sangat enggan (malas) untuk belajar dan mengerjakan tugas dari sekolah dengan konsekuensi tugas-tugas yang terbengkalai akhirnya dikerjakan dan diselesaikan orang tua. Adapun secara akademis, siswa menjadi lebih “bodoh” dan tertinggal karena transfer of knowledges and skills  melalui pembelajaran dengan pendekatan saintifik tidak berjalan normal. Terhadap dampak yang kedua ini, para orang tua tidak dapat berbuat banyak selain mengembalikannya kepada guru dan sekolah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.

Pangkal semua problematikanya adalah pandemi Covid-19 tidak kunjung dapat diatasi sehingga kita tidak dapat sepenuhnya menyalahkan guru dan sekolah. Apa yang terjadi di dunai pendidikan Indonesia itu tampaknya juga terjadi di hampir semua negara lain di dunia. Selama pandemi Covid-19 belum berakhir dan pembelajaran tetap berlangsung secara online, sudah hampir dapat dipastikan bahwa kita kehilangan waktu sekian tahun untuk menjalankan aktivitas pendidikan secara normal, baik, dan benar sehingga selama itu pula para siswa sekolah mengalami stagnasi kompetensi serta kemandekan perkembangan akademis dan psikologis  ––  jika tidak dapat dikatakan mengalami kemunduran yang memprihatinkan.

Hal yang perlu dilakukan adalah memikirkan dengan serius untuk menebus dan memulihkan kembali kompetensi serta perkembangan akademis dan psikologis para siswa dengan pendidikan yang tepat dan berdaya guna pada waktu-waktu lain yang akan datang setelah pandemi Covid-19 berakhir dan kehidupan kembali normal. Namun, kapan pandemi Covid-19 dapat diatasi serta kehidupan sosial dan aktivitas akademik sekolah dapat berjalan normal kembali?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar