Jumat, 02 November 2018

Meraih Prestasi melalui Kegiatan Tulis-Menulis (Mengarang)

Sumber: www.freeimages.co.uk 


Bidang tulis-menulis atau mengarang membutuhkan ketajaman pikiran, keluasan wawasan, dan kemampuan menuangkan ide secara tertulis. Khusus untuk menulis karya fiksi, seperti puisi, cerita pendek, dan novel, dibutuhkan juga kepekaan terhadap keindahan dan nilai-nilai kemanusiaan. Dibandingkan dengan olahraga dan kesenian, tulis-menulis memang mungkin kurang diminati oleh anak muda dan remaja. Namun, dalam beberapa tahun terakhir ini mulai ada gejala minat membaca dan menulis di kalangan remaja menunjukkan peningkatan.
Kegemaran atau kebiasaan menulis sangat baik untuk mengasah ketajaman pikiran dan perasaan serta kepekaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Menulis juga sangat baik untuk meningkatkan wawasan dan kecerdasan. Orang yang gemar menulis biasanya akan gemar membaca dan mengamati. Mengapa demikian? Hal ini karena untuk tulisan-tulisan yang akan dibuatnya dia membutuhkan bahan berupa pengetahuan, data, atau fakta.
Menulis dapat menjadi ajang meraih prestasi. Prestasi yang dapat diraih melalui kegiatan menulis bahkan bisa sangat prestisius (bergengsi tinggi). Dengan menulis karya fiksi, seseorang dapat meraih hadiah Nobel untuk bidang sastra. Para penulis yang berprestasi tinggi, yakni yang karyanya diakui bermutu tinggi dan sangat bermanfaat bagi kemanusiaan, baik di dunia maupun di Indonesia, banyak mendapat penghargaan dan penghormatan tinggi dari masyarakat dan negara.
Seperti halnya olahraga dan kesenian, menulis juga membutuhkan potensi. Untuk mencapai kemampuan menulis yang baik, diperlukan pengembangan potensi menulis secara tepat. Upaya yang lazim untuk mengembangkan potensi menulis ialah membaca, mengamati, meneliti, dan berlatih menuangkan gagasan secara tertulis dengan rajin, teratur, disiplin, dan berkesinambungan.
Tidak sedikit penulis sastra Indonesia yang telah mendapat penghargaan bergengsi di tingkat internasional serta mengharumkan nama Indonesia di forum dunia. Penulis-penulis tersebut, antara lain, Budi Darma, Goenawan Mohamad, Y.B. Mangunwijaya, Rendra, Pramudya Ananta Toer, Putu Wijaya, N.H. Dini, Andrea Hirata, dan Wiji Thukul. Selain mendapat penghargaan, sebagian karya mereka juga diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing (seperti bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, dan Belanda).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar