Oleh Akhmad Zamroni
Indonesia saat ini
tengah menghadapi gelombang keprihatinan sosial dan ekonomi yang mendalam. Di
tengah situasi global yang tidak menentu, perhatian publik tertuju pada arah
kebijakan domestik yang dinilai makin menjauh dari keadilan sosial. Berbagai
program unggulan yang digulirkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto,
seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembentukan Koperasi Desa Merah
Putih, awalnya dipromosikan sebagai angin segar bagi pemulihan ekonomi
masyarakat bawah. Namun, dalam realitas implementasinya, kebijakan-kebijakan
tersebut dinilai lebih menguntungkan kelompok elite, kaum oligarki, serta
memperkuat dominasi pengaruh kroni politik di lingkaran kekuasaan.
Banyak analisis ekonomi politik dari berbagai lembaga swadaya masyarakat dan laporan media kredibel, seperti Kompas.com dan Tempo.co, menyoroti adanya salah sasaran dalam distribusi nilai tambah dari program-program raksasa ini. Program Makan Bergizi Gratis, misalnya, menelan anggaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sangat fantastis. Alih-alih murni menggerakkan perekonomian warung-warung kecil atau petani lokal di seluruh pelosok daerah secara merata, rantai pasok penyediaan logistik skala masif ini diduga kuat dikuasai oleh korporasi-korporasi besar yang terafiliasi dengan jaringan kroni dan oligarki baru.
![]() |
| Program MBG (Foto: Tempo-Tony Hartawan) |
Distribusi proyek
infrastruktur pendukungnya pun dinilai bias dan berpusat di wilayah tertentu sehingga
memicu ketimpangan wilayah serta pemborosan anggaran akibat tata kelola yang buruk.
Hal serupa terjadi pada restrukturisasi kelembagaan desa melalui program
koperasi merah putih yang rentan ditumpangi kepentingan politik elektoral
sekadar untuk memelihara basis kekuasaan di tingkat akar rumput. Kondisi ini
diperparah oleh meluasnya kesan bahwa alokasi sumber daya negara kian condong
pada penguatan sektor keamanan dan pertahanan, dengan porsi perhatian khusus
pada institusi TNI dan Polri demi stabilitas politik formal.
Prioritas anggaran
defensif itu terasa kontras dengan nasib pemenuhan hak-hak dasar masyarakat
sipil. Pada saat instrumen negara diperkuat secara logistik, jaminan ruang
hidup untuk keadilan ekologis dan ekonomi rakyat justru kian menyempit akibat
ekspansi industri besar. Sementara itu, para elite menikmati kue kekuasaan,
masyarakat kelas menengah dan bawah dipaksa menelan pil pahit akibat kombinasi
kebijakan fiskal yang agresif dan situasi pasar kerja yang memburuk.
Untuk mendanai belanja
negara yang membengkak, pemerintah terus mengejar target penerimaan pajak yang
sangat tinggi. Langkah ini diwujudkan melalui penyesuaian tarif pajak pertambahan
Nnilai (PPN) yang merangkak naik serta perluasan basis pungutan pajak lainnya yang
secara langsung memicu kenaikan harga barang pokok dan menurunkan daya beli.
Rakyat merasa makin terbebani karena kenaikan pungutan ini tidak diimbangi
dengan perbaikan kualitas pelayanan publik yang signifikan atau jaminan sosial
yang memadai.
![]() |
| Koperasi Desa Merah Putih (Foto: Kompas.com-Bayu Apriliano) |
Ironisnya, tekanan pajak
tersebut justru beriringan dengan badai pemutusan hubungan kerja (PHK) yang
terus menggulung sektor industri nasional, khususnya industri manufaktur dan
padat karya. Berdasarkan data resmi Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) yang
diliput luas oleh media nasional, angka pekerja yang kehilangan mata
pencaharian terus meningkat pesat. Wilayah-wilayah pusat industri besar,
seperti Jawa Barat, Banten, dan Jawa Timur, menjadi daerah terdampak paling
parah dari fenomena ini. Melemahnya permintaan pasar global dan kenaikan biaya
operasional domestik membuat banyak pabrik melakukan efisiensi ketat,
meninggalkan puluhan ribu buruh terdampar tanpa kepastian masa depan ekonomi
keluarga mereka.
Di atas semua
penderitaan ekonomi tersebut, hal yang paling melukai rasa keadilan publik
adalah praktik korupsi yang kian dilakukan secara terang-terangan dan masif.
Risiko kebocoran sistemik di dalam proyek-proyek strategis nasional beranggaran
jumbo dinilai sangat tinggi akibat lemahnya sistem pengawasan hukum dan
hilangnya transparansi tata kelola. Sentimen publik mencerminkan keprihatinan
mendalam bahwa hukum sering kali tajam ke bawah dalam penegakan kepatuhan wajib
pajak rakyat kecil, tetapi tumpul ke atas ketika berhadapan dengan
penyelewengan dana publik oleh aktor-aktor politik besar.
Kombinasi antara beban
pajak yang menjepit, gelombang pengangguran baru akibat PHK, penyalahgunaan
anggaran, dan suburnya korupsi menciptakan kesenjangan yang makin lebar antara
penguasa dan rakyat. Jika pemerintah tidak segera melakukan evaluasi radikal,
membenahi tata kelola program nasional secara inklusif, dan mengembalikan
orientasi kebijakan pada asas kemaslahatan murni rakyat banyak, maka stabilitas
social-ekonomi yang dicita-citakan menuju Indonesia Emas berisiko runtuh dan
hanya menyisakan narasi kemakmuran semu bagi beberapa gelintir elite semata. *
%20.jpg)
%20.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar