Rabu, 11 Desember 2019

IQ Tinggi Cenderung Menjerumuskan Orang pada Agnostisisme dan Ateisme


Oleh Akhmad Zamroni
Kecerdasan otak manusia
Sumber: Shutterstock

Salah satu ambisi besar para orang tua adalah memiliki anak yang cerdas dan pandai. Para orang tua umumnya berambisi dapat memiliki anak yang cerdas dan, jika memungkinkan, supercerdas alias jenius, karena anak yang demikian dianggap membanggakan serta akan mengharumkan nama keluarga dan orang tua.
Keinginan untuk memiliki anak yang cerdas secara intelektual sebenarnya hal yang lumrah dan manusiawi. Namun, kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi atau kejeniusan tanpa dibarengi bimbingan dan arahan agama yang benar (guna memberdayakan kecerdasan spiritual  atau SQ) cenderung menjerumuskan orang pada kesesatan yang mengerikan; yakni dapat mengakibatkan yang bersangkutan terseret menjadi pribadi yang agnostik (meragukan keberadaan Tuhan) atau bahkan ateis (sama sekali tidak percaya akan keberadaan Tuhan).
Orang Ber-IQ Tinggi Cenderung Tidak Mempercayai Tuhan
Hasil penelitian (studi) yang dilakukan Profesor Richard Lynn, guru besar psikologi dari Universitas Ulster, Inggris, menunjukkan bahwa orang-orang dengan IQ (intelegent quotient –– kecerdasan intelektual) lebih tinggi banyak yang tidak percaya kepada Tuhan. Menurut Richard Lynn, keyakinan beragama telah mengalami penurunan pada abad ke-20. Hal ini terjadi setidaknya di 137 negara di dunia.
Menurunnya keyakinan beragama itu terkait langsung dengan meningkatnya kecerdasan rata-rata. Dikatakan Lynn, kebanyakan anak SD percaya kepada Tuhan. Namun, begitu mereka menginjak dewasa dan kecerdasan mereka meningkat, banyak yang mulai meragukan keberadaan Tuhan.
Untuk mendukung hasil penelitiannya, Lynn menyinggung hasil survei yang dilakukan terhadap organisasi yang anggotanya merupakan orang-orang yang ber-IQ tinggi, seperti Royal Society (di Inggris) dan American National Academy of Sciences (Amerika Serikat). Survei terhadap para anggota Royal Society menunjukkan bahwa hanya 3,3 persen anggotanya yang percaya pada Tuhan (sisanya yang 96,7% meragukan atau tidak mempercayai Tuhan). Adapun survei terhadap para anggota American National Academy of Sciences memperlihatkan bahwa hanya 7 persen dari anggota organisasi ini yang percaya pada Tuhan.
Hasil riset lain oleh Miron Zuckerman dan Jordan Silberman (Universitas Rochester, New York) serta Judith Hall (Universitas Northeastern, Boston) juga menunjukkan bahwa makin cerdas seseorang, maka kepercayaannya kepada Tuhan makin sedikit (rendah). “Mereka menemukan, ateisme tersebar luas di kalangan orang-orang pintar,” tulis surat kabar Daily Mail.
Hasil-hasil riset itu dikuatkan oleh penelitian Lewis Terman (Universitas Stanford) terhadap 1.500 anak-anak berusia 10 tahun yang memiliki IQ lebih dari 135 di Amerika, Inggris, dan Kanada. Menurut riset yang hasilnya telah diperiksa Robin Sears (Universitas Columbia) dan Michael McCullough (Universitas Miami) ini, anak-anak cerdas ternyata kurang religius dibandingkan dengan anak yang IQ-nya lebih rendah.
Orang Sangat Cerdas dan Jenius Banyak yang Agnostik dan Ateis
Hasil-hasil riset tersebut kiranya bukan isapan jempol belaka. Fakta mengenai banyaknya tokoh berotak sangat cerdas dan supercerdas yang tidak mempercayai Tuhan turut mendukung hasil studi dan riset di atas. Beberapa tokoh sains dan teknologi legendaris dunia dikenal sebagai orang-orang yang meragukan keberadaan Tuhan dan sebagiannya lagi bahkan sama sekali tidak mempercayai adanya Tuhan.
Albert Einstein, misalnya, fisikawan jenius penemu teori relativitas, dikenal sebagai tokoh yang meragukan keberadaan Tuhan (agnostik). Einstein tidak pernah menyatakan secara langsung bahwa dirinya seorang ateis, sementara pernyataan-pernyataannya jelas menunjukkan bahwa ia kurang percaya dan kurang yakin akan keberadaan Tuhan. Saat ditanya apakah ia percaya pada kehidupan setelah mati, Einstein menjawab, "Tidak. Dan satu kehidupan sudah cukup bagi saya."
Carl Sagan, fisikawan dan astronom Amerika yang dikenal sangat cerdas dan pintar, kurang lebih juga sama dengan Einstein dalam soal kepercayaan terhadap Tuhan dan kehidupan akhirat. Sagan juga terkenal sebagai ilmuwan yang agnostik, yakni menganggap keberadaan Tuhan sebagai hal yang sulit untuk dibuktikan.
Kasus terbaru yang paling populer adalah Stephen Hawking. Fisikawan jenius asal Inggris yang meninggal dunia tanggal 14 Maret 2018 ini terang-terangan mengatakan bahwa dirinya adalah seorang ateis. Ia tidak mempercayai adanya Tuhan serta menganggap surga dan neraka hanyalah dongengan orang-orang yang takut akan kematian.
Masih ada sederet tokoh sains, filsafat, dan intelektual lain ber-IQ tinggi yang meragukan  Tuhan (agnostik) atau tidak percaya pada Tuhan (ateis). Charles Darwin (pencetus teori evolusi), Bertrand Russell (matematikawan dan filsuf Inggris), Rosalind Franklin (penemu sinar X), Emile Durkheim (sosiolog Prancis), dan Milton Friedman (ahli ekonom dan pemenang Hadiah Nobel Ekonomi) dikenal sebagai tokoh-tokoh cendekia yang agnostik. Adapun Richard Dawkins (ahli biologi evolusioner), James Watson (penemu struktur DNA), Daniel Dennett (filsuf Amerika), Samuel Harris (filsuf dan neuroscientist Amerika), dan Jean-Paul Sartre (sastrawan dan filsuf Pancis) merupakan tokoh-tokoh intelektual yang ateis.
Di luar daftar nama tokoh itu, masih ada nama-nama tokoh terkenal lain yang juga agnostik dan ateis, seperti Karl Marx (filsuf), Friedrich Nietzshe (filsuf), Ludwig Feuerbach (filsuf), Friedrich Engels (filsuf), Marie Curie (kimiawan), Sigmund Freud (pendiri psikoanalisis), Mark Twain (sastrawan), Warren Buffett (pengusaha), Larry King (selebritis), Sean Penn (aktor), Brad Pitt (aktor), Sting (musisi), Karl R. Popper (filsuf), Jawaharlal Nehru (politisi), Bob Hawke (politisi), Helen Clark (politisi), Thomas Henry Huxley (ahli biologi), dan Steve Wozniak (salah satu pendiri Apple Computer).
Kecerdasan yang Timpang
Keragu-raguan dan ketidakpercayaan orang-orang sangat cerdas dan jenius akan keberadaan Tuhan hampir selalu terjadi karena mereka terlalu terpaku pada penggunaan salah satu kecerdasan otak saja, yakni kecerdasan intelektual (IQ= intelegent quotient ). Kecerdasan intelektual luar biasa yang mereka miliki, sadar atau tidak sadar, mengakibatkan mereka menjadi saintis sentris, yakni terlalu memuja dan mengagung-agungkan sains dan ilmu pengetahuan.  
Sifat sains yang logis, empiris, serta menuntut pengujian dan pembuktian secara kasat (tampak) mata menyebabkan mereka dan para ilmuwan umumnya menuntut semua hal harus diperlakukan dengan cara yang sama, yakni harus dapat diuji dan dibuktikan melalui hubungan sebab-akibat secara fisik dan konkret (berwujud nyata). Hal ini juga berlaku saat mereka memandang dan menilai keberadaan Tuhan.
Ketika keberadaan Tuhan tidak bisa diuji dan dibuktikan secara fisik dan kasat mata (karena dengan cara dan upaya apa pun, Tuhan memang tidak dapat dilihat oleh indra mata manusia), maka mereka terjerumus pada kesimpulan (yang salah dan sesat) bahwa keberadaan Tuhan sangat sulit atau tidak dapat dipercaya sebab wujud keberadaan-Nya tidak bisa dibuktikan secara fisik dan nyata. Mereka pun membuat pembelaan dan pembenaran atas kesimpulannya (bahwa Tuhan tidak ada) sepenuhnya hanya dengan logika, metode, dan argumen sains yang sesungguhnya sangat terbatas dalam memahami dan menyadari keberadaan Tuhan.
Menguji dan membuktikan hal yang bersifat supernatural atau gaib (tak terlihat oleh mata) dengan sains, dengan demikian, dapat dikatakan sebagai usaha yang ‘tidak pada tempatnya’ dan, karena itu, sia-sia dan nihilis belaka. Sejenius apa pun otak manusia serta secanggih apa pun metodologi dan argumen sains, tidak akan mampu menjangkau dan membuktikan kebenaran hakiki yang bersifat supernatural atau gaib. Ketika sains tidak mampu membuktikannya, maka dibuat kesimpulan penuh keterpaksaan dan rekayasa bahwa kebenaran hakiki itu (keberadaan Tuhan) tidak ada atau tidak terbukti.
Lain halnya jika mereka (para ilmuwan dan saintis) mau dan mampu menggunakan kecerdasan spiritualnya (SQ= spiritual quotient). Dengan kecerdasan spiritual, orang akan berusaha mengetahui dan memahami hal-hal yang tak terlihat oleh mata (metafisika/supernatural/gaib), termasuk keberadaan Tuhan, bukan dengan logika dan akal sebab sehebat apa pun logika dan akal manusia tetap tidak akan dapat menjangkau dan memahami dengan jitu/tepat hal-hal yang bersifat supernatural atau gaib.

Jenis-jenis kecerdasan manusia
Sumber: www//rumahinspirasi.com

Dengan kecerdasan spiritual, orang akan tergerak untuk mendeteksi hal-hal yang supernatural/gaib dengan naluri, hati nurani, dan semangat menemukan nilai-nilai kebenaran secara rendah hati dan kesadaran akan adanya kekuatan dan kekuasaan mahabesar yang mengatasi kehidupan manusia, makhluk hidup, dan alam semesta. Melalui kecerdasan spiritual, manusia akan mampu merasakan, memahami, menyadari, dan akhirnya mempercayai keberadaan Tuhan dan hal-hal tak kasat mata lain yang masih terkait dengan-Nya (seperti kehidupan sesudah mati, alam kubur, surga, dan neraka).
Apakah kecerdasan spiritual hanya melulu terkait dengan kemampuan memahami hal-hal yang bersifat supernatural/gaib? Tentu saja tidak. Hal-hal konkret yang kasat mata, seperti makhluk hidup, alam semesta, dan manusia itu sendiri justru menjadi media yang menyadarkan manusia akan adanya kekuatan dan kekuasaan yang mahabesar. Kehidupan manusia dan makhluk hidup serta alam semesta yang berlangsung teratur, sistematis, dan sempurna, bagi orang yang mau dan mampu menggunakan kecerdasan spiritualnya, bukanlah hal yang kebetulan, melainkan merupakan hasil kreasi Zat Yang Maha Pencipta. Teraturnya kehidupan di alam semesta seisinya bukan semata-mata karena berlakunya hukum alam, tetapi hukum alam itu sendiri dapat berlangsung teratur karena dikreasi dan dikendalikan oleh Zat Yang Mahabesar, Mahakuasa, dan Mahasempurna, yakni Tuhan (Allah swt.).
Orang yang mampu menggunakan kecerdasan spiritualnya juga relatif tidak akan kesulitan dalam memahami keberadaan Tuhan melalui sejarah kehadiran agama dan kehidupan para nabi. Melalui kecerdasan spiritual, keberadaan Tuhan akan mudah dicerna dan dipercaya sebab kehadiran agama serta kesaksian dan pernyataan para nabi dengan gamblang menunjukkan keberadaan dan kekuasaan Tuhan. Dengan kecerdasan, kejujuran, serta perilaku dan akhlak mulianya yang tak terbantahkan, para nabi, seperti Nuh, Ibrahim, Ismail, Sulaiman, Harun, Musa, Isa, Muhammad, dan sebagainya dengan sangat jelas memberikan pernyataan bahwa keberadaan Tuhan merupakan hal yang benar, pasti, dan mutlak (absolut). Sebagaimana yang tercantum dalam sejarah dan kitab suci agama-agama samawi, tujuan utama kehadiran para nabi (rasul) di bumi tidak lain adalah membawa misi Tuhan guna mengajak manusia untuk percaya dan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa (selain tentunya berbuat baik terhadap sesama manusia dan lingkungan hidup).
Mendayagunakan Kecerdasan Spiritual
Salah satu hal aneh dan menggelikan yang dijumpai pada pemikiran para tokoh jenius adalah mereka kadang memiliki kepercayaan berstandar ganda yang ambigu. Mereka tidak percaya pada Tuhan yang bersifat tak kasat mata, tetapi malah percaya pada figur tak kasat mata lain yang jauh lebih tidak masuk akal. Misalnya fisikawan Stephen Hawking, ia sama sekali tidak mempercayai adanya Tuhan, tetapi justru percaya pada keberadaan alien, semacam makhluk (yang dianggap berasal) dari luar angkasa atau dari luar bumi, padahal Hawking tak pernah melihat alien dengan matanya sendiri serta selama hidupnya tidak pernah pula mampu membuktikan keberadaan alien dengan sains yang diagung-agungkannya.
Tidak sedikit pula ilmuwan lain yang memiliki pandangan serupa dengan Stephen Hawking dalam menghadapi fenomena alien walaupun bukti-bukti ilmiah (sains) tidak pernah menunjukkan bahwa alien itu benar-benar ada ­­-- belakangan, tahun 2018 lalu, para ilmuwan dari Universitas Oxford justru membuat pernyataan bahwa “alien tidak ada”. Bagi sebagian besar orang normal, keberadaan Tuhan jelas jauh lebih masuk akal dibandingkan dengan alien. Alien lebih merupakan sosok fiktif hasil imajinasi pengarang cerita ilmiah (sciene fiction) atau rekaan para ilmuwan.
Tidak percaya pada keberadaan Tuhan di sisi satu dan percaya pada keberadaan alien di sisi lain menunjukkan subjektif dan kacau-balaunya pemikiran banyak ilmuwan dan pemuja sains akibat terlalu bersandar pada kecerdasan intelektual  (IQ) dan mengabaikan kecerdasan spiritual (SQ). Hal itu sekaligus juga memperlihatkan bahwa pendapat dan pernyataan mereka (dalam kontroversi Tuhan dan alien) cacat dan tidak bisa dipertanggungjawabkan sehingga tidak dapat dijadikan sandaran dan pegangan ilmiah.
Kontradiksi tersebut menjadi penanda tidak cukup dan tidak validnya kecerdasan intelektual (IQ) untuk menganalisis dan manilai keberadaan hal-hal yang bersifat metafisika, supernatural, atau gaib. Kecerdasan spiritual (SQ) menjadi pengganti yang lebih kredibel untuk keperluan itu. Kombinasi Kecerdasan spiritual (SQ) dan kecerdasan intelektual (IQ) akan menjadi solusi yang lebih jitu dan efektif dalam menilai dan menyimpulkan keberadaan hal-hal supernatural atau gaib (terutama Tuhan).  
Einstein, Sagan, Hawking, dan orang-orang jenius lain yang meragukan dan tidak percaya pada Tuhan telah meninggal dunia. Setelah “hidup” di alam baka atau kubur (barzakh), kini mereka pasti tahu persis bagaimana fakta yang sesungguhnya tentang Tuhan, kehidupan setelah mati, serta surga dan neraka karena mereka telah dipertemukan dengan kehidupan sejati (hakiki) yang sebenar-benarnya. Terlepas dari jasa-jasa besar mereka terhadap ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia, mereka juga akhirnya paham bahwa kecerdasan luar biasa dan kejeniusan mereka menjadi kurang bermakna dan bahkan menjadi malapetaka yang tak terperikan bagi diri mereka sendiri akibat kejeniusan itu menjerumuskan mereka pada ketidakpercayaan terhadap Zat Mahabesar dan Mahakuasa yang menciptakan mereka.
Sumber Rujukan
2.      https://id.wikipedia.org/wiki/Indonesian_Atheists
7.      https://www.merdeka.com/dunia/penelitian-sebut-ateis-lebih-cerdas-ketimbang-orang-beragama.html
9.      https://www.merdeka.com/khas/kumpulan-penolak-tuhan-komunitas-ateis-2.html



Efek Samping dan Bahaya Memiliki IQ Tinggi

Oleh  Akhmad Zamroni

Otak manusia
Sumber: https://intisari.grid.id


Memiliki anak yang berotak sangat cerdas dan apalagi supercerdas (jenius) tentu sangat menyenangkan. Itu merupakan keajaiban yang tidak dimiliki setiap orang atau keluarga. Anak cerdas dan supercerdas dapat menghasilkan banyak prestasi besar yang fenomenal sehingga dapat melambungkan orang tua dan keluarga ke puncak kebanggaan.

 Namun, perlu diketahui, anak sangat cerdas dan apalagi supercerdas juga dapat membawa efek samping yang tidak diduga-duga dan berbahaya. Apa efek samping itu? Hasil-hasil riset mutakhir terhadap anak-anak cerdas dan supercerdas serta fakta kehidupan para tokoh sangat cerdas dan jenius menunjukkan bahwa kecerdasan luar biasa cenderung menyeret pemiliknya pada sikap keragu-raguan dan ketidakpercayaan terhadap keberadaan Tuhan.

Saat ini, sejalan dengan bertambah baiknya tingkat gizi, kian majunya teknologi medis dan informatika, serta makin banyaknya pernikahan antaretnik dan antarras, anak-anak Indonesia tidak sedikit yang memiliki kecerdasan berlevel tinggi; sebagian bahkan dianggap jenius atau mendekati jenius. Ini berarti, jika pendidikan dan bimbingan (terutama pengajaran agama) yang diberikan kepada mereka salah atau tidak tepat, dapat terjadi bencana kemanusiaan dan keagamaan yang menyedihkan, yakni setelah dewasa mereka dapat tersesat menjadi orang-orang yang meragukan atau bahkan tidak percaya akan keberadaan Tuhan.

Sebagai catatan, saat ini di Indonesia sudah berdiri (secara terselubung) beberapa kelompok atau komunitas orang-orang agnostik  (meragukan keberadaan Tuhan) dan ateis (tidak mempercayai keberadaan Tuhan sama sekali). Mereka lebih banyak bergerak dan berdiskusi melalui media sosial Internet (terutama Facebook). Komunitas itu, misalnya, Indonesian Atheists (IA) yang beranggotakan para ateis dan agnostik di Indonesia. Menurut Wikipedia, saat ini komunitas Indonesian Atheists telah memiliki anggota sekitar 1.400 orang.

Ada juga komunitas anonim yang beranggotakan orang-orang agnostik dan ateis, selain orang-orang beragama yang liberal dan moderat. Mereka tidak berani menyebut nama komunitasnya, tetapi mereka menyebut dirinya Free Thinker (orang-orang yang berpikir bebas dan independen). Masih ada juga forum komunikasi dan komunitas yang disebut ABAM, singkatan dari Anda Bertanya Ateis Menjawab, yang pengasuh atau administratornya merupakan orang-orang ateis. Sama seperti Indonesian Atheists, Free Thinker dan ABAM juga banyak bergerak melalui media sosial di Internet (terutama Facebook).

Menurut salah seorang aktivis LSM, jumlah orang agnostik dan ateis di Indonesia saat ini diperkirakan telah mencapai sekitar 10.000 hingga 15.000 orang. Itu baru jumlah perkiraan yang terhimpun dalam komunitas (organisasi), sedangkan yang tersebar di luar dan tidak tergabung dalam komunitas kemungkinan juga masih banyak.

Perlu dicatat pula bahwa para anggota Indonesian Atheists dan Free Thinker serta aktivis ABAM banyak di antaranya merupakan anak-anak muda berusia di bawah 40 tahun. Pendiri Indonesian Atheists, yakni pria bernama Karl Karnadi, merupakan pemuda yang berusia 35 tahun dan saat mendirikan Indonesian Atheists pada 1 Oktober 2008 ia baru berusia sekitar 24 tahun.

Para anggota Indonesian Atheists dan Free Thinker serta pengasuh ABAM awalnya adalah anak-anak muda yang mempercayai keberadaan Tuhan. Sebelum menjadi agnostik dan ateis, mereka menganut agama resmi (Islam, Kristen, Katolik, dan sebagainya) serta taat beribadah berdasarkan ajaran agamanya masing-masing.

Hingga kini belum diketahui dengan pasti tingkat kecerdasan intelektual (IQ) para anggota Indonesian Atheists dan Free Thinker serta pengasuh ABAM. Namun, berdasarkan pembicaraan di internet, mereka konon merupakan anak-anak muda yang cerdas, kritis, dan gemar membaca buku (terutama bertema sains, politik, dan filsafat).

Dengan demikian, secara sepintas dapat terdeteksi pula bahwa kemunculan komunitas-komunitas agnostik dan ateis tersebut terkait dengan tingkat kecerdasan para anggotanya. Artinya, para anggota komunitas itu menjadi agnostik dan ateis sedikit banyak karena dipengaruhi atau ditentukan oleh kecerdasan yang mereka miliki.

 Fenomena kecerdasan tinggi yang dapat menjerumuskan seseorang pada agnotisisme dan ateisme di sisi satu serta mulai bermunculannya komunitas orang-orang agnostik dan ateis di Indonesia di sisi lain tentu menjadi kekhawatiran banyak kalangan. Masyarakat Indonesia yang umumnya religius dan masih menjadikan agama sebagai pedoman utama hidup menganggap sikap agnostik dan ateis sebagai aib yang harus dihindari dan dijauhi karena merupakan bentuk dosa besar.

Dari segi hidup berbangsa dan bernegara, agnostisisme dan ateisme juga (dianggap) bertentangan dengan dasar negara, Pancasila, dan konstitusi negara, UUD 1945. Baik Pancasila maupun UUD 1945 menyatakan bahwa negara Indonesia berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini mengandung instruksi bahwa setiap warga negara Indonesia wajib percaya pada keberadaan Tuhan Yang Mahakuasa dan Maha Pencipta serta menganut salah satu agama yang diakui di Indonesia.

Sumber Rujukan